DIALEKSIS.COM | Internasional - Pemerintah Hongaria secara terbuka menyatakan Ukraina sebagai musuh. Pernyataan keras itu disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, menyusul tekanan Kyiv agar Budapest menghentikan pembelian minyak dan gas murah dari Rusia.
Meski berstatus sebagai anggota Uni Eropa dan NATO, Hongaria tetap menolak sikap konfrontatif terhadap Moskow sejak perang Rusia - Ukraina meletus pada Februari 2022. Budapest bahkan konsisten menentang kebijakan Uni Eropa yang mendorong pemutusan pasokan energi Rusia sebagai bagian dari sanksi terhadap Kremlin.
Dalam pidato kampanye di kota Szombathely, Sabtu (7/2/2026), Orban menuding Ukraina telah mengancam kepentingan dan keamanan nasional Hongaria.
“Ukraina harus menghentikan tuntutan terus-menerus mereka di Brussels agar Hongaria diputus dari energi murah Rusia,” ujar Orban. “Selama tuntutan itu berlanjut, Ukraina bukan sekadar lawan, tetapi musuh kami,” katanya, seperti dikutip Russia Today, Minggu (8/2/2026).
Orban juga kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana keanggotaan Ukraina di Uni Eropa. Menurutnya, aliansi militer maupun ekonomi dengan Kyiv justru berpotensi menyeret kawasan Eropa ke dalam krisis yang lebih besar.
Sebelumnya, Hongaria mengumumkan akan menggugat Uni Eropa terkait rencana larangan pembelian minyak dan gas Rusia. Orban menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah “bunuh diri” bagi ekonomi Eropa. Saat ini, Komisi Eropa tengah membahas paket sanksi ke-20 terhadap Rusia, termasuk larangan layanan maritim untuk pengangkutan minyak mentah Rusia.
Selain itu, Dewan Eropa telah menyepakati peta jalan penghentian seluruh pasokan gas Rusia yang tersisa paling lambat akhir 2027. Berbeda dengan sebagian besar negara Uni Eropa, Hongaria menolak mengirim senjata ke Ukraina dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Orban juga memperingatkan bahwa eskalasi konflik lebih lanjut berisiko memicu perang terbuka antara NATO dan Rusia.