DIALEKSIS.COM | Afghanistan - Hujan lebat dan salju di Afghanistan telah mengakhiri musim kering yang berkepanjangan tetapi memicu banjir bandang di beberapa daerah, menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 11 lainnya, menurut pihak berwenang.
Korban tewas termasuk lima anggota keluarga di sebuah properti tempat atapnya runtuh pada hari Kamis (1/1/2026) di Kabkan, sebuah distrik di Provinsi Herat, kata Mohammad Yousaf Saeedi, juru bicara gubernur Herat. Dua dari korban merupakan anak-anak.
Sebagian besar korban jiwa terjadi sejak Senin di distrik-distrik yang dilanda banjir, dan cuaca buruk juga mengganggu kehidupan sehari-hari di seluruh wilayah tengah, utara, selatan, dan barat, menurut Mohammad Yousaf Hammad, juru bicara Otoritas Manajemen Bencana Nasional Afghanistan (ANDMA).
Hammad mengatakan banjir tersebut merusak infrastruktur, menewaskan ternak, dan mempengaruhi 1.800 keluarga, memperburuk kondisi di komunitas perkotaan dan pedesaan yang sudah rentan.
Ia menambahkan bahwa badan tersebut telah mengirim tim penilai ke daerah yang paling terdampak, dengan survei yang sedang berlangsung untuk menentukan kebutuhan lebih lanjut.
Afghanistan, seperti negara tetangganya Pakistan dan India, sangat rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem, terutama banjir bandang setelah hujan musiman.
Puluhan tahun konflik, infrastruktur yang buruk, penggundulan hutan, dan dampak perubahan iklim yang semakin intensif telah memperkuat dampak bencana tersebut, terutama di daerah terpencil di mana banyak rumah terbuat dari lumpur dan menawarkan perlindungan yang terbatas.
Pada bulan Agustus, gempa bumi berkek magnitude 6,0 melanda Afghanistan di dekat perbatasannya dengan Pakistan, menewaskan lebih dari 1.400 orang.
Upaya penyelamatan orang-orang yang terkena dampak gempa terhambat karena banjir bandang di provinsi Nangarhar, Afghanistan, yang berbatasan dengan provinsi Khyber Pakhtunkhwa di Pakistan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan bantuan lainnya pekan ini memperingatkan bahwa Afghanistan diperkirakan akan tetap menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia pada tahun 2026.
PBB dan mitra kemanusiaannya meluncurkan permohonan dana sebesar $1,7 miliar pada hari Selasa untuk membantu hampir 18 juta orang yang sangat membutuhkan di negara tersebut.[News Agencies/Aljazeera]