DIALEKSIS.COM | Paris - Badan Energi Internasional (IEA) memangkas proyeksi permintaan minyak dunia 2026. Permintaan diperkirakan turun 1,6 juta barel per hari (bph), atau 510.000 bph lebih besar dari perkiraan Juli.
IEA menyebut harga bahan bakar yang tinggi terus menekan konsumsi. Di sisi lain, gangguan di Selat Hormuz menghambat peningkatan pasokan minyak global. Pasokan minyak pada Juli tercatat 6,3 juta bph lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut memicu volatilitas harga minyak. Harga Brent sempat menembus US$100 per barel bulan lalu sebelum turun mendekati US$70, dan terakhir berada sedikit di bawah US$90 per barel.
IEA juga memperingatkan persediaan minyak global semakin menipis. Total stok yang terpantau turun di bawah 7,9 miliar barel pada Juli, terendah sejak April 2025. Sementara itu, stok minyak mentah Amerika Serikat turun di bawah 300 juta barel, level terendah dalam lebih dari 40 tahun.
IEA memperkirakan pasar minyak kembali surplus menjelang akhir 2026. Namun, risiko tetap tinggi selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal. Kondisi ini juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global. [cnbc]