DIALEKSIS.COM | Teheran - Iran mengecam Kanada yang mendukung upaya Amerika Serikat (AS) membuka kembali Selat Hormuz. Iran menilai sikap Ottawa tersebut menunjukkan "kebingungan strategis dan ketundukan pada intimidasi".
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan kecaman itu melalui unggahan di X. Dia menilai Kanada justru memilih mendukung AS ketika Presiden Donald Trump disebut meremehkan kedaulatan Kanada.
Baghaei merujuk unggahan Trump yang memperlihatkan wilayah AS mencakup Kanada, Greenland, dan Islandia. Trump selama masa jabatan keduanya memang berulang kali menyuarakan keinginannya menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS serta mengambil alih Greenland.
Kecaman Iran muncul setelah Kanada menyebut tindakan Iran di Timur Tengah sebagai langkah yang mengganggu stabilitas. Ottawa juga menyatakan akan bekerja sama dengan negara-negara mitranya untuk memberikan tekanan terhadap Iran, termasuk melalui sanksi dan dukungan terhadap upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.
Upaya tersebut dipimpin AS bersama Prancis dan Inggris.
Baghaei menilai Kanada tidak bisa mengklaim diri sebagai pembela perdamaian, kebebasan navigasi, dan hukum internasional jika pada saat yang sama mendukung tindakan militer AS di kawasan.
"Kanada tidak bisa secara kredibel memosisikan dirinya sebagai pembela perdamaian dan keamanan, kebebasan navigasi, dan hukum internasional sementara mendukung agresi militer AS," ujar Baghaei.
Dia juga mempertanyakan keputusan Ottawa mendukung Washington meski hubungan kedua negara tengah diliputi persoalan perdagangan.
Pembicaraan perdagangan Kanada-AS dilaporkan gagal bulan lalu. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut tuntutan Washington terlalu besar. Perselisihan tersebut kemudian berujung pada pengenaan tarif terhadap barang Kanada senilai sekitar US$ 20 miliar, yang dibalas Ottawa dengan tarif dengan nilai setara.
Iran sebelumnya juga memperingatkan Korea Selatan agar tidak memberikan dukungan militer terhadap AS terkait situasi di Selat Hormuz.
Baghaei memperingatkan negara mana pun yang mempertahankan kehadiran militer atau terlibat dalam operasi AS di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan dianggap mendukung pihak yang melakukan agresi dan menghadapi "konsekuensi serius".
