Minggu, 12 Juli 2026
Beranda / Berita / Dunia / Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah kepada AS, Siap Perang Jika Kesepakatan Dilanggar

Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah kepada AS, Siap Perang Jika Kesepakatan Dilanggar

Sabtu, 11 Juli 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf. Foto: Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto.


DIALEKSIS.COM | Teheran - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Iran menegaskan tidak akan pernah menyerah kepada tekanan Washington dan menyatakan siap menghadapi perang skala penuh apabila Amerika Serikat melanggar nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya disepakati kedua negara.

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran telah menyiapkan seluruh kemampuan pertahanan untuk menghadapi segala kemungkinan.

"Kami tidak pernah berhenti mempersiapkan diri untuk membela negara kami. Kapan pun Amerika mengkhianati kesepahaman tersebut, kami siap untuk pertahanan skala penuh," kata Ghalibaf dalam pernyataannya.

Ia menegaskan bahwa mengakhiri perang memang menjadi kepentingan banyak negara, namun hal itu tidak boleh dimaknai sebagai bentuk penyerahan diri Iran.

"Semua orang harus tahu bahwa konflik ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan Iran," ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah pernyataan di media sosial yang menyebut Washington dan Teheran akan kembali melanjutkan pembicaraan, namun secara bersamaan mengklaim bahwa gencatan senjata telah berakhir.

Pernyataan Trump memicu kembali ketidakpastian di tengah berbagai upaya diplomasi yang tengah dilakukan sejumlah negara untuk menghidupkan kembali proses negosiasi yang sempat terhenti pasca meningkatnya eskalasi militer antara kedua negara.

Saat ini, Qatar diketahui mengirim tim negosiator ke Teheran untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Iran. Misi tersebut bertujuan meredakan ketegangan sekaligus membuka ruang bagi dimulainya kembali dialog yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat.

Meski demikian, pemerintah Iran mengaku masih menyimpan keraguan terhadap komitmen Washington dalam menjalankan isi nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan.

Sikap skeptis itu dipicu oleh serangkaian serangan udara Amerika Serikat yang menargetkan sejumlah infrastruktur sipil maupun militer di lima provinsi Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan dan melukai puluhan warga Iran.

Di sisi lain, pernyataan Donald Trump yang secara sepihak menyebut berakhirnya nota kesepahaman juga dinilai memperburuk tingkat kepercayaan Teheran terhadap proses diplomasi.

Para pejabat Iran menegaskan bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat hanya dapat dilanjutkan apabila Washington terlebih dahulu melaksanakan seluruh poin penting dalam MoU.

Iran secara khusus menyoroti implementasi pasal pertama mengenai penghentian tembak-menembak di seluruh front konflik, termasuk Lebanon. Selain itu, Teheran juga meminta penghormatan terhadap pasal kelima yang mengatur hak kedaulatan Iran dalam mengelola Selat Hormuz, serta pasal kesepuluh mengenai hak Iran mengekspor minyak ke pasar internasional tanpa hambatan.

Di tengah meningkatnya ketegangan politik dan militer, dampaknya mulai terlihat pada jalur perdagangan energi dunia.

Data terbaru perusahaan pemantau pelayaran Windward menunjukkan lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz kembali mengalami penurunan selama tiga malam berturut-turut pada periode 9 - 10 Juli.

Dalam rentang waktu 12 jam terakhir, hanya enam kapal yang tercatat melintasi jalur strategis tersebut. Angka itu jauh lebih rendah dibanding kondisi normal beberapa hari sebelumnya yang mencapai sekitar 18 hingga 22 kapal dalam periode yang sama.

Windward juga mencatat peningkatan signifikan praktik "dark transit", yakni kapal-kapal yang sengaja mematikan sistem identifikasi otomatis (transponder) untuk menyembunyikan posisi mereka selama melintas di kawasan tersebut.

Proporsi pelayaran gelap kini mencapai hampir 40 persen dari seluruh lalu lintas kapal di Selat Hormuz, menjadi level tertinggi dalam enam hari terakhir.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian keamanan di kawasan Teluk kembali memengaruhi aktivitas pelayaran internasional. Mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, setiap peningkatan eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi memberikan dampak terhadap stabilitas pasar energi global serta rantai pasok internasional.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI