DIALEKSIS.COM | Internasional - Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” kembali mengguncang Amerika Serikat. Penyelenggara mengklaim sedikitnya 8 juta orang ambil bagian dalam aksi yang digelar serentak pada Sabtu (28/3) waktu setempat.
Di satu sisi, aksi ini disebut sebagai luapan kekecewaan publik terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump. Penyelenggara menilai kebijakan pemerintah saat ini memicu frustrasi luas di berbagai lapisan masyarakat.
“Setidaknya 8 juta orang berkumpul hari ini di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian,” ujar pihak penyelenggara, dikutip AFP.
Namun di sisi lain, tidak adanya angka resmi dari pemerintah AS membuka ruang tafsir berbeda terkait skala dan dampak aksi ini. Klaim jumlah massa yang lebih besar dibanding demonstrasi Oktober 2025”dengan tambahan sekitar satu juta peserta dan 600 titik aksi menunjukkan eskalasi gerakan, sekaligus mempertegas polarisasi politik yang masih berlangsung.
Aksi ini tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Chicago, tetapi juga merambah wilayah-wilayah kecil hingga Alaska. Para demonstran membawa spanduk, kostum simbolik, serta menyuarakan kritik terhadap isu imigrasi, perang, hingga arah kebijakan nasional.
Menariknya, hampir separuh aksi justru berlangsung di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis Partai Republik”seperti Texas, Florida, dan Ohio. Fenomena ini mengindikasikan adanya retakan opini bahkan di daerah yang secara tradisional mendukung Trump.
Di Texas, ribuan orang memadati sekitar Balai Kota Dallas sambil mendengarkan orasi kritis. Sementara di Georgia, massa memenuhi jalur menuju Jekyll Island dengan membawa simbol nasional dan pesan protes.
Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, ketegangan tetap muncul. Di West Palm Beach, Florida, sempat terjadi adu argumen antara demonstran dan pendukung Trump”mencerminkan benturan langsung dua kutub politik yang kian mengeras.
Di pesisir barat, ekspresi protes tampil lebih simbolik. Demonstran di Los Angeles membawa balon raksasa bergambar Trump sebagai bayi, sementara di San Francisco massa berkumpul di Embarcadero Plaza dengan slogan “No Kings”.
New York menjadi salah satu pusat aksi terbesar, dengan ribuan orang berjalan di Manhattan sambil meneriakkan slogan anti-Trump dan kritik terhadap kebijakan imigrasi. Kehadiran tokoh publik dan influencer menambah gaung politik aksi ini.
Di Minnesota, sejumlah tokoh politik seperti Gubernur Tim Walz dan Senator Bernie Sanders turut hadir, memperkuat narasi oposisi terhadap pemerintah, khususnya dalam isu imigrasi dan kondisi demokrasi.
Partisipasi juga datang dari kelompok pekerja. Sekretaris Bendahara American Federation of Teachers, Fedrick Ingram, menilai aksi ini sebagai saluran penting bagi suara publik.
“Amerika pernah melalui masa sulit sebelumnya. Kita pernah punya kebijakan buruk dan politisi yang buruk, tetapi kita selalu bisa bangkit dengan tetap bersatu,” ujarnya, dikutip CNN.
Dengan demikian, aksi “No Kings” tidak sekadar menjadi demonstrasi massal, melainkan cermin dialektika politik Amerika saat ini”antara kritik terhadap kekuasaan dan ketahanan sistem demokrasi yang terus diuji.