Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Menlu Negara Teluk Bertemu di Riyadh, Arab Saudi Tak Tutup Opsi Militer Hadapi Iran

Menlu Negara Teluk Bertemu di Riyadh, Arab Saudi Tak Tutup Opsi Militer Hadapi Iran

Kamis, 19 Maret 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi negara teluk. Foto: detikcom/Luthfy Syahban


DIALEKSIS.COM | Riyadh - Para menteri luar negeri negara-negara Arab di kawasan Teluk bertemu di Riyadh, Arab Saudi, pada Kamis (19/3), untuk membahas memanasnya konflik Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dibalas Iran.

Mengutip Al Jazeera, pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang mengutuk penggunaan rudal balistik dan drone secara sengaja yang menargetkan kawasan permukiman serta infrastruktur sipil. Target serangan itu disebut mencakup fasilitas minyak, pabrik desalinasi, bandara, perumahan, hingga misi diplomatik.

Para menteri luar negeri di kawasan itu menegaskan bahwa serangan semacam itu tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun, sekaligus menekankan hak setiap negara untuk membela diri. Mereka juga menyerukan Iran agar segera menghentikan serangan-serangannya terhadap negara-negara kawasan dan meredakan ketegangan yang terus meningkat.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, menegaskan bahwa negaranya tidak menutup kemungkinan mengambil langkah militer sebagai respons atas serangan rudal dan drone berulang dari Iran.

Pernyataan itu disampaikan Faisal kepada wartawan usai pertemuan para menteri luar negeri negara-negara kawasan di Riyadh.

Mengutip AFP, Faisal menuding Iran berupaya menekan negara-negara tetangganya melalui serangan-serangan yang dilancarkan. Ia menyebut Arab Saudi tidak akan tunduk pada tekanan.

“Kerajaan tidak akan menyerah pada tekanan, dan sebaliknya, tekanan ini akan menjadi bumerang... dan tentu saja, seperti yang telah kami nyatakan dengan cukup jelas, kami berhak untuk mengambil tindakan militer jika dianggap perlu,” kata Faisal.

AFP juga melaporkan bahwa Arab Saudi kembali menghadapi serangan dari Iran pada Rabu (18/3), di saat para menteri luar negeri negara Arab sedang berkumpul di Riyadh untuk membahas dampak perang di Timur Tengah.

Sejumlah ledakan keras dilaporkan terdengar di ibu kota Saudi itu pada hari yang sama, meski sumbernya belum dapat dipastikan. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut telah mencegat rudal-rudal balistik yang mengarah ke wilayahnya.

“Penargetan Riyadh saat sejumlah diplomat sedang bertemu... saya pikir itu adalah sinyal paling jelas tentang bagaimana perasaan Iran terhadap diplomasi,” ujar Faisal.

Ia juga menuduh Iran tidak percaya pada dialog dengan negara-negara tetangga.

Di kesempatan yang sama, salah satu tokoh penting dalam keluarga kerajaan Saudi turut mengecam penargetan terhadap tempat-tempat sipil yang berulang kali terjadi di kawasan Teluk. Faisal menegaskan bahwa Arab Saudi menolak dalih Iran yang mengklaim serangan-serangan itu ditujukan untuk kepentingan AS di kawasan.

“Baik Arab Saudi maupun negara-negara Teluk tidak akan menerima... pemerasan, dan eskalasi akan dibalas dengan eskalasi,” tegasnya.

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan bahwa AS berkolaborasi dengan Israel dalam menggempur ladang gas utama Iran, South Pars. Iran melalui Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian membalas serangan itu ke Israel serta fasilitas terkait AS-Israel di kawasan. Salah satu sasaran balasan tersebut disebut mengarah ke fasilitas gas Qatar, Ras Laffan, yang menyebabkan kerusakan luas.

Di Uni Emirat Arab (UEA), operasional fasilitas gas Habshan juga sempat dihentikan sementara akibat puing-puing hasil pencegatan rudal balistik.

Belakangan, AS mengklaim tidak mengetahui lebih awal rencana Israel menggempur South Pars.

Ketegangan yang terus meningkat turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent tercatat menembus lebih dari 108 dolar AS per barel, naik 4,92 persen. Sementara minyak mentah AS naik menjadi 98 dolar AS per barel, atau menguat 1,86 persen.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI