Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Pakistan Terapkan Penghematan Ketat, Pejabat Tak Digaji Dua Bulan Akibat Krisis Global

Pakistan Terapkan Penghematan Ketat, Pejabat Tak Digaji Dua Bulan Akibat Krisis Global

Selasa, 17 Maret 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Foto: K.M. Chaudary/AP Photo


DIALEKSIS.COM | Islamabad - Pakistan menjadi salah satu negara yang terdampak langsung krisis ekonomi akibat memanasnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah di Islamabad bahkan mengambil langkah drastis dengan menunda pembayaran gaji sejumlah pejabat federal hingga dua bulan.

Keputusan tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri Shehbaz Sharif dalam pidatonya pada Senin. Ia menyebut, pemerintah pusat dan daerah sepakat menerapkan kebijakan penghematan dan kesederhanaan guna menekan pengeluaran serta menghemat energi di tengah tekanan ekonomi.

Dalam kebijakan itu, alokasi bahan bakar untuk kendaraan dinas pemerintah akan dipangkas hingga 50 persen selama dua bulan ke depan. Selain itu, sebanyak 60 persen kendaraan operasional pemerintah akan dihentikan sementara guna menekan konsumsi energi.

Sharif juga mengumumkan bahwa anggota kabinet federal, penasihat, dan asisten khusus tidak akan menerima gaji selama dua bulan. Sementara itu, anggota parlemen akan mengalami pemotongan gaji sebesar 25 persen dalam periode yang sama. “Semua departemen pemerintah akan mengurangi pengeluaran mereka sebesar 20 persen,” ujarnya.

Tak hanya itu, pemerintah memberlakukan larangan perjalanan luar negeri bagi pejabat, kecuali untuk kepentingan strategis negara. Pertemuan internasional akan lebih banyak dilakukan secara daring.

Langkah penghematan juga menyasar aparatur sipil negara. Pegawai tingkat tinggi dengan gaji di atas Rs300.000 per bulan akan dipotong setara dua hari kerja. Pemerintah juga melarang penyelenggaraan jamuan resmi, termasuk makan malam dan buka puasa bersama, serta membatasi kegiatan seminar hanya di fasilitas milik pemerintah.

Dalam sektor kerja, sebanyak 50 persen pegawai di sektor publik dan swasta akan bekerja dari rumah, kecuali layanan esensial. Kantor pemerintahan juga akan beroperasi hanya empat hari dalam sepekan, sementara sekolah ditutup selama dua minggu untuk menghemat energi.

Sharif turut memperingatkan pelaku usaha agar tidak menimbun bahan pokok demi meraup keuntungan di tengah krisis. Ia menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap praktik tersebut.

Menurutnya, situasi global saat ini tengah mengalami perubahan besar, termasuk pergeseran keseimbangan kekuatan dan munculnya aliansi baru. Karena itu, ia mengajak masyarakat Pakistan untuk bersatu menghadapi situasi sulit.

Krisis ini diperparah oleh terganggunya pasokan minyak global yang mendorong kenaikan harga bahan bakar di Pakistan hingga 20 persen. Kondisi tersebut memaksa pemerintah mengambil langkah penghematan luas di berbagai sektor.

Di sisi lain, Sharif juga mengecam serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan Iran ke sejumlah negara di kawasan Teluk. Ia menegaskan Pakistan terus mengupayakan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan telah berkomunikasi dengan para pemimpin negara sahabat.

“Bangsa kita membutuhkan persatuan dan rasa tanggung jawab yang kuat dalam menghadapi situasi ini,” kata Sharif.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI