DIALEKSIS.COM | Washington - Para pemain Tim Nasional Iran akhirnya memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat menjelang laga perdana mereka di Piala Dunia 2026. Kepastian itu disampaikan seorang pejabat Gedung Putih kepada Reuters, Jumat (5/6/2026), hanya beberapa hari sebelum Iran tampil di Los Angeles.
Meski para pemain telah mengantongi visa, persoalan belum sepenuhnya selesai. Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan sejumlah staf administrasi federasi sepak bola Iran masih belum mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.
Mereka yang disebut belum menerima visa antara lain Direktur Eksekutif Mehdi Kharati, Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran Hedayat Mombini, dan Direktur Media Mohsen Motamedkia.
Staf yang belum mendapatkan visa disebut akan berangkat bersama tim menuju Meksiko. Upaya pengurusan visa ke Amerika Serikat tetap dilanjutkan, mengingat Iran akan menjalani pertandingan grup di wilayah AS.
Sebelumnya, Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, mengatakan pada Kamis bahwa tim Iran belum menerima visa. Pernyataan itu kemudian dibantah pejabat AS yang menyebut para pemain sudah mendapatkan izin masuk.
Iran dijadwalkan memainkan laga pertama Grup G melawan Selandia Baru pada 15 Juni 2026 di kawasan Los Angeles. Setelah itu, Iran akan menghadapi Belgia pada 21 Juni di California, sebelum menutup fase grup melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Piala Dunia 2026 sendiri digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Namun, kehadiran Iran membuat turnamen sepak bola terbesar dunia itu ikut terseret dalam ketegangan geopolitik.
Ketegangan tersebut membuat Iran sempat melakukan pembicaraan menit-menit terakhir untuk memindahkan markas tim dari Arizona, Amerika Serikat, ke Tijuana, Meksiko. Langkah itu diambil di tengah persoalan visa dan meningkatnya keinginan di Teheran agar keberadaan tim di wilayah AS diminimalkan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyatakan Washington tidak akan mengizinkan Iran memasukkan orang-orang yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam dalam delegasi resminya. Kebijakan itu menjadi salah satu titik sensitif dalam proses visa delegasi Iran.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, sebelumnya juga pernah ditolak masuk untuk menghadiri undian turnamen di Washington pada Desember. Ia diketahui merupakan mantan komandan Garda Revolusi.
Duta Besar Pasandideh menyebut, Amerika Serikat tidak pernah secara resmi menyatakan tidak menginginkan tim Iran berada di wilayahnya. Namun, menurut dia, dinamika visa menunjukkan bahwa kehadiran Iran di Piala Dunia kali ini tidak semata menjadi urusan olahraga.
“Partisipasi Iran di Piala Dunia, bahkan di tanah yang dianggap sebagai musuhnya, menunjukkan bahwa Iran mencari perdamaian,” kata Pasandideh melalui penerjemah bahasa Spanyol di Kedutaan Iran di Mexico City.
Di tengah negosiasi damai Iran dan Amerika Serikat yang berjalan lambat, Piala Dunia 2026 kini tidak hanya menjadi panggung sepak bola. Bagi Iran dan AS, turnamen ini juga berubah menjadi arena simbolik, tempat diplomasi, tekanan politik, dan kepentingan keamanan saling bertemu.