DIALEKSIS.COM | Tokyo - Warga di Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, mulai membersihkan puing-puing bangunan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang wilayah tersebut pekan lalu. Di tengah proses pemulihan, ribuan warga masih menghadapi krisis air bersih dan cuaca panas ekstrem.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Senin (3/8/2026) mengunjungi kawasan terdampak untuk pertama kalinya sejak gempa terjadi. Berdasarkan data pemerintah prefektur, jumlah korban tewas mencapai 38 orang, termasuk satu korban yang meninggal akibat serangan panas saat berlindung di dalam mobil. Satu kematian lainnya masih dalam penyelidikan.
Hingga kini, lebih dari 46.000 rumah tangga masih belum mendapatkan pasokan air bersih, sementara sekitar 8.500 warga bertahan di tempat penampungan darurat yang sebagian besar tidak dilengkapi pendingin udara. Badan Meteorologi Jepang memperkirakan suhu di wilayah tersebut mendekati 40 derajat Celsius.
Pemerintah juga mulai membangun hunian sementara di Kota Uki dan Hikawa. Namun, kunjungan Takaichi ke salah satu tempat penampungan yang telah dilengkapi pendingin udara memicu kritik di media sosial karena dinilai tidak mencerminkan kondisi sebagian besar pengungsi.
Di sisi lain, operator toko serba ada Habita menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga dua karyawan yang tewas akibat ledakan di pusat perbelanjaan Aeon yang runtuh. Perusahaan mengakui telah meminta kedua korban kembali ke dalam gedung untuk menyimpan hasil penjualan ke brankas setelah gempa terjadi.
Pihak pengelola mal menduga ledakan dipicu kebocoran gas setelah ribuan pengunjung dievakuasi. Tim penyelamat menemukan 12 korban di lokasi, terdiri dari lima orang selamat dan tujuh korban meninggal.
Selain menewaskan 38 orang, gempa juga menyebabkan 114 orang terluka. Sekitar 700 rumah hancur dan lebih dari 11.300 bangunan mengalami kerusakan. [AP/abc news]