DIALEKSIS.COM | Moskow - Pemerintah Rusia mengecam paket sanksi terbaru Uni Eropa terhadap sektor minyak dan gasnya, dengan menyebut kebijakan tersebut berpotensi merugikan negara-negara berkembang serta memperburuk kondisi global.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa langkah Brussel justru akan memperparah ketidakstabilan pasar energi dunia yang saat ini tengah dilanda krisis dan kelangkaan sumber daya.
“Semua ini terjadi di tengah krisis energi global dan kelangkaan sumber daya yang dirasakan secara akut di sebagian besar wilayah dunia,” ujar Zakharova dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (25/4).
Ia menambahkan bahwa upaya Uni Eropa untuk menekan Rusia melalui sanksi energi dinilai kontraproduktif. Menurutnya, kebijakan tersebut justru membuat harga energi melonjak secara artifisial, sehingga semakin sulit dijangkau oleh negara-negara berkembang.
“Dengan mencoba semakin mendestabilisasi pasar energi, Brussel justru merugikan dirinya sendiri dan negara-negara berkembang, yang kini tidak lagi mampu membeli energi dengan harga yang terdongkrak secara artifisial,” lanjutnya.
Sebelumnya, Uni Eropa pada Kamis (24/4) menetapkan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia terkait konflik di Ukraina. Paket tersebut mencakup pembatasan tambahan terhadap transportasi minyak dan gas Rusia, serta sanksi terhadap produsen dan kilang minyak.
Pemerintah Rusia menilai langkah tersebut hanya akan memperburuk krisis energi global yang sudah berlangsung. Selain itu, Moskow juga menyoroti potensi dampak lanjutan terhadap ketahanan pangan dunia, mengingat sanksi tersebut turut menyasar sektor pupuk.
Sebagai respons, Rusia menegaskan akan mengambil langkah balasan terhadap kebijakan Uni Eropa.
“Kami akan mengambil langkah balasan. Langkah itu akan tegas dan dirancang sesuai dengan kepentingan kami,” tegas Zakharova.