Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Tiga Jurnalis Tewas Diserang Israel di Lebanon, Ahli PBB Minta Investigasi Independen

Tiga Jurnalis Tewas Diserang Israel di Lebanon, Ahli PBB Minta Investigasi Independen

Jum`at, 03 April 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Kerabat dan teman-teman membawa peti jenazah Mohammed Ftouni selama pemakaman untuknya dan rekan-rekan jurnalis Fatima Ftouni dan Ali Shoaib, yang tewas dalam serangan Israel terhadap mobil mereka di Lebanon selatan [Foto: Mohammad Yassine/Reuters]


DIALEKSIS.COM | Beirut - Tiga ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak dilakukannya penyelidikan independen dan menyeluruh atas pembunuhan tiga jurnalis di Lebanon yang diduga dilakukan oleh militer Israel.

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (2/4/2026), pelapor khusus PBB Irene Khan, Morris Tidball-Binz, dan Ben Saul mengecam insiden tersebut sebagai “serangan keji terhadap kebebasan pers”.

Mereka menegaskan bahwa jurnalis yang menjalankan tugas di wilayah konflik tetap berstatus sebagai warga sipil dan tidak boleh menjadi sasaran serangan.

“Pembunuhan yang disengaja terhadap wartawan yang tidak terlibat langsung dalam permusuhan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter, serta dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” demikian pernyataan para ahli.

Insiden tersebut terjadi pada 28 Maret di Lebanon selatan. Tiga korban adalah jurnalis dari media yang berbasis di kawasan tersebut, yakni Fatima Ftouni dari Al Mayadeen, fotografer lepas Mohamad Ftouni, serta Ali Shoaib dari Al-Manar.

Ketiganya tewas setelah kendaraan yang mereka tumpangi menjadi target serangan.

Pihak Israel mengklaim bahwa Ali Shoaib merupakan anggota kelompok bersenjata Hezbollah. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh rekan-rekan korban maupun para ahli PBB karena tidak disertai bukti.

Para ahli PBB menegaskan bahwa bekerja di media yang memiliki afiliasi politik atau kelompok tertentu tidak serta-merta menjadikan jurnalis sebagai kombatan dalam konflik bersenjata.

“Pejabat Israel mengetahui prinsip ini, namun memilih mengabaikannya. Hal ini didorong oleh impunitas atas kasus serupa di Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat,” tegas mereka.

Sementara itu, laporan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) pada Februari menyebut Israel bertanggung jawab atas sekitar dua pertiga pembunuhan jurnalis secara global sepanjang 2024 hingga 2025.

Dari total 86 jurnalis yang tewas akibat serangan Israel tahun lalu, lebih dari 60 persen merupakan jurnalis Palestina yang meliput konflik di Jalur Gaza.

Direktur CPJ untuk kawasan Timur Tengah, Sara Qudah, memperingatkan bahwa Lebanon kini menjadi wilayah yang semakin berbahaya bagi jurnalis.

“Kami melihat pola yang mengkhawatirkan, di mana jurnalis kerap dituduh sebagai kombatan tanpa bukti yang kredibel,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa jurnalis tetap merupakan warga sipil yang tidak boleh dijadikan target, terlepas dari media tempat mereka bekerja.

Para ahli PBB juga menilai bahwa serangan terhadap jurnalis ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk membungkam pemberitaan terkait operasi militer Israel di Lebanon.

Selain itu, tindakan tersebut dinilai bertujuan menghalangi peliputan dugaan kejahatan perang, seperti yang sebelumnya terjadi di Gaza.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak awal Maret, serangan Israel yang meningkat telah menyebabkan sedikitnya 1.345 orang tewas dan 4.040 lainnya mengalami luka-luka. [Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI