Rabu, 29 Juli 2026
Beranda / Berita / Dunia / Trump Sebut AS Sedang Berunding dengan Iran, Teheran Bantah Ada Negosiasi Langsung

Trump Sebut AS Sedang Berunding dengan Iran, Teheran Bantah Ada Negosiasi Langsung

Selasa, 28 Juli 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

AS menghentikan serangan terhadap Iran untuk tiga hari berturut-turut [Foto: dok. Getty Images]


DIALEKSIS.COM | AS - Upaya membawa Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali ke meja perundingan terus dilakukan para mediator setelah kedua negara mempertahankan jeda permusuhan selama tiga hari terakhir.

Sejumlah pejabat Timur Tengah yang mengetahui proses diplomasi menyebut Qatar dan Pakistan memimpin komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran untuk menjembatani perbedaan kedua pihak.

Presiden AS Donald Trump mengklaim negaranya saat ini sedang melakukan pembicaraan dengan Iran. Menurut dia, komunikasi berlangsung baik melalui perwakilan maupun secara langsung.

"Kami sedang berbicara dengan Iran saat ini. Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One.

Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya negosiasi langsung. Teheran menegaskan tidak pernah meminta dimulainya kembali pembicaraan damai, meski mengakui mediator dapat menyampaikan pesan dari pihak AS.

Di tengah upaya diplomatik tersebut, situasi keamanan masih rapuh. Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya disebut masih melancarkan serangan pesawat nirawak di sejumlah negara kawasan, termasuk Arab Saudi, Yordania, dan Irak.

Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah mengawal 17 kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, serta melakukan pemeriksaan terhadap beberapa kapal lain untuk memastikan penerapan blokade terhadap Iran.

Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu utama dalam perundingan. Iran menginginkan kapal-kapal asing menggunakan jalur pelayaran yang lebih dekat ke wilayahnya dan mendorong penerapan biaya wajib bagi kapal yang melintas, sementara Oman mengusulkan skema pembayaran sukarela.

Perbedaan pandangan mengenai pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut dinilai masih menjadi hambatan utama menuju kesepakatan baru antara AS dan Iran. [Aljazeera, AP]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI