DIALEKSIS.COM | Kongo - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (Kongo) semakin sulit dikendalikan. Titik penyebaran baru bermunculan di sejumlah wilayah yang minim dukungan medis, sementara tenaga kesehatan menghadapi tantangan besar dalam menangani pasien.
Direktur Jenderal Africa CDC, Dr. Jean Kaseya, mengatakan lebih dari 70 persen kasus baru berasal dari orang yang tidak masuk dalam daftar kontak yang telah diketahui. Sementara itu, sedikitnya 60 persen kematian terjadi di luar pusat perawatan.
Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak penderita yang tidak menjalani tes, tidak mendapat perawatan, bahkan tidak tercatat. Hingga kini, Kongo telah mencatat lebih dari 8.500 kasus dalam wabah yang diumumkan pada Mei lalu.
Provinsi Kivu Utara menjadi episentrum baru. Wilayah yang dilanda konflik tersebut menyumbang sekitar 40 persen kasus baru yang terkonfirmasi, meningkat dari 24 persen pada akhir Agustus.
Penanganan di lapangan juga menghadapi berbagai kendala. Organisasi Doctors Without Borders (MSF) menyebut kekurangan tenaga kesehatan, pasokan medis, koordinasi, serta rendahnya kepercayaan masyarakat membuat penanganan Ebola semakin berat.
Pelacakan kontak menjadi salah satu masalah terbesar. Hingga saat ini, baru sekitar 23 persen dari perkiraan kontak pasien Ebola yang berhasil dilacak. Mobilitas penduduk akibat konflik, aktivitas ekonomi dan pertambangan turut memperbesar risiko penyebaran.
Di Kivu Utara, tingkat kematian akibat Ebola mencapai 58 persen, tertinggi di antara tujuh provinsi terdampak. WHO juga melaporkan sejumlah pusat perawatan mengalami kekurangan tenaga kesehatan dan pasokan medis.
Ketidakpercayaan masyarakat semakin menyulitkan penanganan. Sejumlah keluarga dilaporkan enggan melaporkan kematian atau mengizinkan pengambilan sampel jenazah. Padahal, jenazah penderita Ebola sangat menular dan dapat memicu rantai penularan baru.
Kepala Africa CDC pun mendorong pendekatan berbasis desa dengan melibatkan tokoh masyarakat dalam pelacakan kontak, pemakaman pasien meninggal, hingga isolasi kasus. Sementara itu, Kenya juga telah melaporkan kasus Ebola pertamanya setelah seorang pria yang datang dari Kongo meninggal saat menjalani perawatan. [AP/abc news]