DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Lebih dari satu bulan pascabanjir bandang yang melanda kawasan Muara Batu, Aceh Utara, kondisi Pasar Inpres Krueng Mane di Desa Mane Tunong masih jauh dari kata pulih.
Hingga Senin (12/1/2026), lumpur tebal sisa terjangan banjir masih menumpuk di sejumlah titik pasar, membuat aktivitas perdagangan belum dapat berjalan normal.
Pantauan di lokasi menunjukkan, akses menuju area pasar baru dibuka secara bertahap setelah sebelumnya tertutup material banjir.
Sejumlah kios tampak dipenuhi lumpur setinggi mata kaki hingga betis orang dewasa. Sisa kayu, sampah, dan material banjir masih berserakan, menyebabkan banyak lapak belum bisa difungsikan oleh pedagang.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang hanya bisa menatap lapak mereka dengan perasaan pilu. Salah satunya Jailani, pedagang bumbu yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya di Pasar Inpres Krueng Mane. Ia baru bisa masuk ke area pasar untuk melihat kondisi kiosnya setelah akses dibuka.
“Baru hari ini bisa masuk. Saya coba lihat barang-barang, tapi semuanya sudah berlumpur, tidak ada yang bisa diselamatkan,” ujar Jailani dengan nada lirih.
Jailani yang mengelola usaha UD Apa Joy Bumbu mengaku seluruh peralatan usahanya rusak parah akibat banjir bandang. Mesin giling bumbu, etalase, hingga stok dagangan tertimbun lumpur dan tidak lagi bisa digunakan. Sejak banjir melanda akhir November 2025 lalu, ia belum bisa kembali berjualan.
“Semua habis. Mesin giling rusak, bahan-bahan tidak bisa dipakai. Mau mulai lagi juga bingung karena modal sudah tidak ada,” katanya.
Kondisi serupa juga dialami ratusan pedagang lain. Untuk bertahan hidup, sebagian pedagang terpaksa membuka lapak darurat di pinggir jalan, tepatnya di sepanjang Jalan Simpang Elak, Krueng Mane. Di lokasi tersebut, pedagang sayur dan ikan terlihat berjualan dengan fasilitas seadanya demi tetap memperoleh penghasilan.
Namun, berjualan di pinggir jalan bukan solusi jangka panjang. Selain tidak nyaman, kondisi tersebut juga dinilai rawan kecelakaan dan tidak mampu menampung seluruh pedagang yang sebelumnya beraktivitas di pasar.
Ketua Harian Pasar Inpres Krueng Mane, Hanafiah, menegaskan bahwa rehabilitasi pasar harus segera dilakukan. Menurutnya, pasar merupakan pusat ekonomi masyarakat dan menyangkut langsung mata pencaharian ratusan kepala keluarga.
“Rehabilitasi ini mendesak. Pasar adalah tempat orang mencari nafkah. Kalau tidak segera diperbaiki, pedagang akan semakin sulit dan ekonomi masyarakat bisa lumpuh lebih lama,” ujar Hanafiah.
Ia juga mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait agar segera menyalurkan bantuan kepada pedagang terdampak, baik berupa bantuan peralatan usaha, modal dagang, maupun program pemulihan ekonomi. Pasalnya, sebagian besar pedagang kehilangan seluruh sumber penghidupan akibat banjir bandang.
“Banyak pedagang yang benar-benar mulai dari nol lagi. Bantuan peralatan dan modal sangat dibutuhkan supaya mereka bisa bangkit,” katanya.
Hanafiah menambahkan, pada hari ini tim terkait telah turun ke lokasi untuk melakukan survei awal kondisi pasar. Akses ke area pasar baru dapat dibuka setelah dilakukan pembersihan awal lumpur dan material banjir.
“Hari ini sudah disurvei tim, akses baru dibuka. Kami berharap setelah ini ada tindak lanjut cepat, jangan hanya survei saja,” ujarnya.
Diketahui, banjir bandang yang melanda Kecamatan Muara Batu dan sekitarnya pada akhir November 2025 lalu menyebabkan kerusakan parah pada permukiman warga, fasilitas umum, serta pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Pasar Inpres Krueng Mane menjadi salah satu lokasi yang terdampak cukup berat karena terjangan lumpur dan material banjir.
"Kami hanya berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar pasar dapat direhabilitasi dan aktivitas ekonomi masyarakat kembali berjalan," tutupnya.