Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Ketegangan Iran dan Israel-AS Bayangi Ekspor Kopi Indonesia, Petani Aceh Terancam Tertekan

Ketegangan Iran dan Israel-AS Bayangi Ekspor Kopi Indonesia, Petani Aceh Terancam Tertekan

Minggu, 29 Maret 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Ilustrasi. Memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat mulai menimbulkan efek berantai terhadap perdagangan global, termasuk ekspor kopi Indonesia. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat mulai menimbulkan efek berantai terhadap perdagangan global, termasuk ekspor kopi Indonesia. Komoditas unggulan nasional ini menghadapi tekanan baru akibat gangguan jalur logistik, fluktuasi harga energi, serta ketidakpastian pasar internasional.

Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia mengekspor lebih dari 400 ribu ton kopi setiap tahun, dengan tujuan utama Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah. Namun, konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas ekspor tersebut.

Guru Besar Makroekonomi Internasional Universitas Syiah Kuala, Prof Dr. Rustam Effendi, SE., M. Econ, menilai bahwa konflik yang melibatkan Iran dan Israel dapat memicu kenaikan biaya logistik global.

“Sebagian jalur perdagangan komoditas dunia termasuk energi (minyak) melewati kawasan yang saat ini rawan konflik, seperti Selat Hormuz. Jika terjadi eskalasi, biaya pengiriman akan meningkat signifikan,” ujarnya kepada Dialeksis, Minggu 29 Maret 2026.

Ia menambahkan, dampak konflik tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan struktural pada perdagangan komoditas global. Ketersediaan pasokan (supply) menjadi terbatas akibat aksesnya terganggu.

“Jika ketegangan ini berlangsung lama, maka pelaku pasar akan melakukan penyesuaian rantai pasok global. Negara-negara importir bisa mencari sumber alternatif yang lebih stabil secara geopolitik, dan ini menjadi tantangan serius bagi daya saing sejumlah komoditas Indonesia seperti kopi yang selama ini jadi primadona ekspor,” jelasnya.

Menurut Prof Rustam, kondisi tersebut menuntut adanya respons kebijakan strategis dan tepat dari dalam negeri. “Kita tidak bisa hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi dan penguatan branding kopi Indonesia termasuk perluasan akses pasar global menjadi langkah penting. Ketergantungan yang dominan pada pasar selama ini harus dikurangi agar komoditas kita tetap kompetitif di tengah ketidakpastian global. Ini memang bukan perkara mudah,” tambahnya.

Soal kenaikan biaya logistik, menurut Prof Rustam, ini secara langsung akan berdampak pada harga ekspor kopi Indonesia. Selain itu, lonjakan harga minyak dunia yang kerap terjadi saat konflik Timur Tengah memanas akan memperbesar ongkos produksi dan distribusi. Dan, yang lebih merisaukan lagi, terbatasnya pasar ekspor yang dapat diakses akibat konflik tersebut.

Data Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO) menunjukkan bahwa harga kopi global sangat sensitif terhadap gangguan geopolitik. Dalam beberapa konflik sebelumnya, harga kopi bisa naik 10-20 persen dalam waktu singkat akibat spekulasi pasar dan gangguan distribusi.

Namun demikian, kenaikan harga global tidak selalu berarti keuntungan bagi petani. Di Aceh, salah satu sentra produksi kopi arabika terbaik di dunia seperti Gayo, dampaknya justru lebih kompleks.

Ketua Koperasi Petani Kopi Gayo, Muhammad Iqbal, mengatakan bahwa petani sering kali tidak menikmati kenaikan harga internasional.

“Harga di tingkat petani tidak selalu mengikuti harga global. Justru yang kami rasakan sekarang adalah kenaikan biaya pupuk, transportasi, dan kebutuhan produksi,” jelasnya.

Aceh menyumbang sekitar 30 persen produksi kopi arabika Indonesia, dengan sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Ketergantungan pada pasar ekspor membuat petani di wilayah ini sangat rentan terhadap gejolak global.

Selain faktor biaya, konflik juga berpotensi menurunkan permintaan dari negara-negara terdampak. Timur Tengah selama ini menjadi salah satu pasar penting kopi Indonesia. Jika kondisi ekonomi di kawasan tersebut melemah akibat perang, permintaan impor kopi bisa ikut menurun.

Ekonom pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Dr. T. Saiful Bahri, S.P., M.P, menjelaskan bahwa dampak konflik tidak hanya berasal dari sisi permintaan, tetapi juga dari ketidakpastian nilai tukar.

“Ketika terjadi konflik global, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS. Akibatnya, nilai tukar rupiah bisa melemah, yang di satu sisi menguntungkan eksportir, tetapi di sisi lain meningkatkan biaya impor bahan produksi,” ujarnya kepada Dialeksis.

Di tingkat nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai ekspor kopi Indonesia pada tahun terakhir mencapai lebih dari USD 1,2 miliar. Namun, angka tersebut sangat fluktuatif dan bergantung pada kondisi global.

Kementerian Perdagangan juga mengakui adanya potensi gangguan ekspor akibat konflik geopolitik. Dalam pernyataan resminya, pemerintah tengah memantau perkembangan situasi global dan menyiapkan strategi diversifikasi pasar.

“Pemerintah dapat mendorong eksportir untuk memperluas pasar ke Asia Selatan, Afrika, dan negara-negara non-tradisional agar tidak terlalu bergantung pada kawasan tertentu,” kata Dr Saiful yang juga Ketua Perhimpunan Agribisnis Indonesia (Perhapi) Aceh.

Bagi petani di Aceh, menurut Saiful, strategi diversifikasi pasar ini diharapkan dapat memberikan stabilitas jangka panjang. Namun, tantangan di lapangan tetap besar, terutama terkait akses pasar, pembiayaan, dan infrastruktur.

Selain itu, perubahan iklim yang terjadi bersamaan dengan tekanan geopolitik semakin memperburuk kondisi. Produksi kopi di beberapa wilayah mengalami penurunan akibat cuaca ekstrem, sehingga petani menghadapi tekanan ganda.

Dalam situasi ini, para ahli menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk melindungi petani. Bentuk dukungan yang diperlukan antara lain subsidi input produksi, stabilisasi harga di tingkat petani, serta penguatan koperasi.

“Tanpa perlindungan yang memadai, petani kecil akan menjadi pihak yang paling terdampak. Padahal mereka adalah tulang punggung industri kopi nasional,” ujar Dr Saiful Pjs Ketua Dekopi Aceh.

Di Aceh, informasi dirangkum Dialeksis, beberapa koperasi mulai mengambil langkah adaptif, seperti meningkatkan kualitas produk, memperluas sertifikasi organik dan fair trade, serta menjalin kontrak langsung dengan pembeli internasional. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada rantai distribusi yang rentan terhadap gejolak global.

Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi. Jika konflik Iran-Israel dan keterlibatan Amerika Serikat terus bereskalasi, dampaknya terhadap perdagangan global, termasuk kopi, akan semakin besar.

Bagi Indonesia, menjaga stabilitas ekspor kopi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup jutaan petani. Di Aceh, di mana kopi bukan sekadar komoditas melainkan identitas daerah, dampak konflik global terasa hingga ke kebun-kebun di dataran tinggi Gayo.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa dalam era globalisasi, konflik di belahan dunia lain dapat langsung memengaruhi kehidupan petani di pelosok Indonesia. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani menjadi kunci untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks ini. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI