DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Hasil penelusuran Dialeksis terhadap sejumlah dokumen kinerja PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Mustaqim Aceh atau Bank Mustaqim Aceh menunjukkan tren pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir.
Bank milik Pemerintah Aceh tersebut tercatat mampu menjaga pertumbuhan aset, pembiayaan, dana pihak ketiga, hingga laba sebelum pajak. Bahkan, kontribusi dividen Bank Mustaqim Aceh pada 2026 tercatat sebesar Rp1.817.311.324.
Berdasarkan dokumen yang didapatkan Dialeksis, nilai dividen tersebut tertulis dalam bukti pembayaran sebesar satu miliar delapan ratus tujuh belas juta tiga ratus sebelas ribu tiga ratus dua puluh empat rupiah. Angka itu memperlihatkan adanya kontribusi nyata Bank Mustaqim Aceh terhadap pendapatan daerah.
Namun, kinerja Bank Mustaqim Aceh tidak hanya dapat dilihat dari sisi profit. Hal penting yang juga perlu dicatat adalah manfaat atau benefit yang diberikan bank tersebut terhadap ekonomi masyarakat Aceh, terutama dalam menjaga denyut sektor riil di tengah kondisi ekonomi masyarakat pascabencana.
Bank Mustaqim Aceh tercatat tetap konsisten menyalurkan pembiayaan ke sektor riil, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Porsi portofolio pembiayaan ke sektor riil bahkan mencapai sekitar 88 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Bank Mustaqim Aceh tidak hanya berhenti pada laporan laba, tetapi juga menyentuh langsung aktivitas ekonomi masyarakat.
Konsistensi pembiayaan sektor riil tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Aceh yang menaruh perhatian pada pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, keberpihakan lembaga keuangan daerah kepada UMKM menjadi penting karena sektor ini merupakan tulang punggung perputaran ekonomi masyarakat.
Dari sisi laba sebelum pajak, Bank Mustaqim Aceh menunjukkan peningkatan konsisten. Pada 2023, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp3,408 miliar. Angka itu naik menjadi Rp3,930 miliar pada 2024, lalu kembali meningkat menjadi Rp4,383 miliar pada 2025.
Tren positif juga terlihat pada laba setelah pajak. Dalam dokumen realisasi dan proyeksi Pendapatan Asli Aceh 2023-2027, laba setelah pajak Bank Mustaqim Aceh pada 2023 tercatat Rp2,554 miliar, naik menjadi Rp2,872 miliar pada 2024, dan kembali meningkat pada 2025.
Kinerja positif itu tidak hanya tercermin dari laba. Ringkasan realisasi dan perkembangan Bank Mustaqim Aceh selama empat tahun menunjukkan aset perusahaan terus bergerak naik. Pada 2022, aset tercatat sekitar Rp183,47 miliar, naik menjadi Rp203,54 miliar pada 2023, kemudian Rp224,42 miliar pada 2024, dan mencapai sekitar Rp240,60 miliar pada 2025.
Penyaluran pembiayaan juga meningkat signifikan. Dari Rp100,24 miliar pada 2022, pembiayaan tumbuh menjadi Rp124,14 miliar pada 2023, lalu Rp140,78 miliar pada 2024, dan mencapai Rp175,43 miliar pada 2025.
Kenaikan pembiayaan tersebut menjadi indikator bahwa Bank Mustaqim Aceh semakin aktif menjalankan fungsi intermediasi. Dana yang dihimpun tidak hanya tersimpan dalam neraca, tetapi kembali disalurkan kepada masyarakat melalui pembiayaan produktif.
Bagi Aceh, pembiayaan seperti ini memiliki nilai strategis. UMKM, pedagang kecil, pelaku usaha lokal, petani, dan sektor produktif masyarakat membutuhkan akses modal yang mudah, terjangkau, dan sesuai prinsip syariah. Di titik inilah kehadiran Bank Mustaqim Aceh menjadi relevan sebagai instrumen ekonomi daerah.
Data lain juga menunjukkan penghimpunan dana masyarakat ikut bergerak positif. Tabungan pada 2025 tercatat sekitar Rp44,35 miliar, meningkat dari Rp34,76 miliar pada 2024. Sementara deposito naik dari Rp72,31 miliar pada 2024 menjadi Rp78,53 miliar pada 2025.
Pertumbuhan tabungan dan deposito menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank Mustaqim Aceh. Kepercayaan publik menjadi modal penting bagi lembaga keuangan daerah untuk memperluas layanan sekaligus memperkuat peran dalam pembangunan ekonomi lokal.
Dengan capaian tersebut, Bank Mustaqim Aceh memperlihatkan posisi yang semakin strategis sebagai salah satu BUMD keuangan milik Pemerintah Aceh. Kenaikan laba, pertumbuhan aset, pembiayaan yang meningkat, serta setoran dividen lebih dari Rp1,8 miliar menjadi sinyal bahwa bank daerah ini mulai memberi kontribusi lebih konkret bagi keuangan daerah.
Meski demikian, kontribusi Bank Mustaqim Aceh tidak semestinya hanya diukur dari besaran dividen dan laba. Peran yang lebih substansial adalah bagaimana bank tersebut mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pembiayaan sektor riil.
Dalam konteks pemulihan ekonomi pascabencana, keberpihakan terhadap UMKM menjadi salah satu indikator penting. Ketika 88 persen portofolio pembiayaan diarahkan ke sektor riil, Bank Mustaqim Aceh memperlihatkan bahwa orientasi bisnisnya tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga mendukung agenda pemulihan dan penguatan ekonomi masyarakat Aceh.
Ke depan, tantangan Bank Mustaqim Aceh tetap tidak ringan. Bank ini perlu menjaga kualitas pembiayaan, memperkuat tata kelola, memperluas akses layanan, serta memastikan pembiayaan yang disalurkan benar-benar produktif dan berdampak bagi masyarakat.
Sebab, ukuran keberhasilan bank daerah bukan hanya pada seberapa besar laba yang dicatat, melainkan seberapa luas manfaatnya dirasakan oleh pelaku usaha kecil, petani, pedagang, dan masyarakat Aceh secara umum. [red]