Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Minim Peternak, Pasokan Ayam di Aceh Belum Mampu Penuhi Kebutuhan

Minim Peternak, Pasokan Ayam di Aceh Belum Mampu Penuhi Kebutuhan

Jum`at, 03 April 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Distributor ayam di daerah Aceh Besar dan Banda Aceh, Muhammad Yanis atau yang akrab disapa Pook. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketersediaan ayam di wilayah Aceh, khususnya Banda Aceh dan Aceh Besar, masih menghadapi tantangan serius. 

Minimnya jumlah peternak lokal menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan pasokan terbatas, di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap komoditas tersebut.

Distributor ayam di Aceh Besar dan Banda Aceh, Muhammad Yanis atau yang akrab disapa Pook, mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum menunjukkan perbaikan signifikan.

“Stok ayam di Aceh memang masih minim. Tidak banyak peternak yang memelihara ayam, sementara permintaan sangat tinggi. Ayam ini kan sudah jadi kebutuhan pokok masyarakat Aceh,” ujar Pook saat ditemui media dialeksis.com, Jumat, 3 April 2026.

Menurutnya, ketimpangan antara pasokan dan permintaan ini kerap membuat distributor kesulitan memenuhi kebutuhan pasar. Bahkan, dalam kondisi tertentu, ia mengaku harus mencari pasokan hingga ke luar daerah.

“Sering kali kami kesulitan mencari ayam di Aceh sendiri karena peternaknya memang sedikit. Akhirnya, pasokan lebih banyak didatangkan dari Sumatera Utara, terutama dari Medan,” jelasnya.

Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah ini, lanjut Pook, tidak hanya berdampak pada ketersediaan, tetapi juga berpengaruh terhadap harga di pasaran. Meski demikian, ia menyebutkan bahwa untuk saat ini harga ayam di tingkat distributor masih relatif stabil.

“Kalau untuk harga pasrah saat ini masih stabil, belum ada lonjakan yang signifikan. Tapi tetap saja, kondisi stok yang terbatas ini rawan memicu kenaikan harga sewaktu-waktu,” katanya.

Selain minimnya jumlah peternak, tingginya biaya produksi juga menjadi kendala tersendiri dalam pengembangan usaha peternakan ayam di Aceh. Salah satu faktor yang cukup memberatkan adalah harga pakan yang cenderung tinggi, sehingga membuat sebagian masyarakat enggan untuk terjun ke sektor tersebut.

Melihat kondisi ini, Pook berharap pemerintah melalui pemangku kebijakan dapat mengambil langkah konkret untuk mendorong tumbuhnya peternak-peternak baru di Aceh.

Ia juga menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan agar para peternak tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga dapat bertahan dan berkembang di tengah tantangan yang ada, termasuk dalam menghadapi harga pakan dan risiko produksi lainnya.

"Kami berharap ada program pemberdayaan dan pelatihan bagi masyarakat yang ingin beternak ayam. Kalau dibina dengan baik, saya yakin ke depan akan lahir peternak-peternak yang tangguh dan mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri,” tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI