Selasa, 16 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Nilai Ekspor Tembus US$9,1 Miliar, Perhiasan Indonesia Berkilau di Pasar Global

Nilai Ekspor Tembus US$9,1 Miliar, Perhiasan Indonesia Berkilau di Pasar Global

Senin, 15 Juni 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Ilustrasi perhiasan Indonesia. [Foto: ChatGPT/radarbanyuwangi.jawapos.com]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri perhiasan nasional yang dinilai menjadi salah satu subsektor manufaktur dengan nilai tambah tinggi dan kontribusi besar terhadap ekspor Indonesia. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendukung penyelenggaraan Bandung Jewellery Fair (BJF) 2026 yang berlangsung pada 11-14 Juni 2026 sebagai ajang promosi dan perluasan pasar bagi pelaku industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri perhiasan memiliki karakteristik unik karena menggabungkan kreativitas, keterampilan, budaya, dan teknologi dalam menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. Menurutnya, sektor ini tidak hanya berperan sebagai penyumbang devisa, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus pencipta lapangan kerja di berbagai daerah.

"Industri perhiasan menjadi salah satu sektor unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan kontribusi penting terhadap ekspor manufaktur Indonesia. Tidak hanya berperan sebagai penghasil devisa negara, tetapi juga menjadi wadah pelestarian produk bernilai budaya serta penciptaan lapangan kerja yang tersebar di berbagai daerah," kata Agus, Senin (15/6/2026).

Kinerja industri perhiasan nasional menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari-Desember 2025, nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga mencapai US$9,1 miliar atau melonjak 64,73% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$5,5 miliar. 

Kemenperin menilai capaian tersebut mencerminkan meningkatnya daya saing produk perhiasan Indonesia di pasar internasional.

Meski demikian, Agus mengingatkan industri perhiasan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga bahan baku, perubahan preferensi konsumen hingga tuntutan transformasi digital yang semakin cepat. 

"Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha untuk menjaga pertumbuhan industri secara berkelanjutan," ujar Agus.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menegaskan transformasi digital dan implementasi industri 4.0 menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing industri perhiasan nasional. 

"Pemanfaatan teknologi mampu meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat inovasi, dan menghasilkan produk yang lebih presisi sesuai kebutuhan pasar," kata Reni.

Kemenperin mencatat hasil penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) pada sejumlah perusahaan logam mulia dan perhiasan menunjukkan tingkat kematangan yang baik dalam penerapan teknologi digital. 

Sementara itu, melalui penyelenggaraan BJF 2026, pemerintah berharap pelaku industri dapat memperluas jaringan bisnis, membuka peluang investasi, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam industri perhiasan global. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI