Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Pengalaman Bank Aceh Bangkit Menata Layanan Perbankan Pascabencana

Pengalaman Bank Aceh Bangkit Menata Layanan Perbankan Pascabencana

Selasa, 06 Januari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Pengamat perbankan sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), Fakhruddin, menilai langkah-langkah Bank Aceh pascabencana menunjukkan kombinasi antara respons operasional jangka pendek dan strategi keberlanjutan jangka menengah. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bencana alam tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik dan sosial, tetapi juga menguji ketahanan sistem keuangan daerah. Dalam konteks Aceh, pengalaman Bank Aceh Syariah dalam menata kembali layanan perbankan pascabencana menjadi contoh penting bagaimana lembaga keuangan daerah mampu beradaptasi secara cepat, inklusif, dan berorientasi pada pemulihan ekonomi masyarakat.

Pengamat perbankan sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), Fakhruddin, menilai langkah-langkah Bank Aceh pascabencana menunjukkan kombinasi antara respons operasional jangka pendek dan strategi keberlanjutan jangka menengah yang terencana.

“Dalam situasi pascabencana, fungsi utama perbankan bukan hanya menjaga stabilitas keuangan, tetapi memastikan akses masyarakat terhadap layanan keuangan tetap berjalan. Bank Aceh relatif cepat melakukan normalisasi layanan, baik melalui pembukaan kembali kantor, layanan bergerak, maupun optimalisasi kanal digital,” ujar Fakhruddin saat dihubungi Dialeksis, Selasa (6/1/2026).

Ia menjelaskan, kecepatan pemulihan layanan perbankan memiliki korelasi langsung dengan percepatan pemulihan ekonomi lokal. Akses terhadap tabungan masyarakat, pembiayaan UMKM, serta penyaluran bantuan sosial dan program pemerintah sangat bergantung pada kesiapan sistem perbankan pascabencana.

Lebih lanjut, Fakhruddin menambahkan bahwa pengalaman Bank Aceh dalam menangani dampak bencana telah teruji di berbagai wilayah terdampak seperti Aceh Tamiang, Bireuen, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan sejumlah daerah lainnya. Di wilayah-wilayah tersebut, Bank Aceh dinilai mampu bergerak cepat memastikan layanan perbankan kembali berjalan dalam waktu relatif singkat.

“Pengalaman Bank Aceh menunjukkan bahwa bank daerah sebenarnya mampu bangkit cepat pascabencana. Keberhasilan ini bukan kebetulan, tetapi hasil dari pengetahuan berbasis informasi dan data yang dibangun dari pengalaman bencana sebelumnya,” kata Fakhruddin.

Menurutnya, praktik yang dilakukan Bank Aceh dapat menjadi rujukan penting bagi bank-bank daerah lain di Indonesia. Pendekatan yang mengedepankan kesiapsiagaan, pemetaan risiko, serta pemulihan layanan secara terstruktur layak dijadikan lesson learned dalam menghadapi bencana alam.

“Bank Aceh telah membuktikan bahwa dengan kesiapan sistem, koordinasi internal yang kuat, serta pemahaman kondisi sosial ekonomi lokal, layanan perbankan dapat dipulihkan secara cepat. Ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi bank-bank daerah di Indonesia,” ujarnya.

Dari perspektif ekonomi regional, Fakhruddin menilai Bank Aceh memiliki keunggulan karena kedekatannya dengan karakteristik masyarakat setempat. Hal tersebut memungkinkan kebijakan layanan pascabencana lebih kontekstual, termasuk fleksibilitas pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang terdampak.

“Pendekatan adaptif seperti restrukturisasi pembiayaan dan kemudahan transaksi bagi nasabah terdampak sejalan dengan prinsip perbankan syariah sekaligus kebutuhan ekonomi pascabencana,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko dan kesiapsiagaan bencana dalam industri perbankan daerah. Pengalaman bencana di Aceh, menurutnya, harus menjadi pijakan untuk membangun sistem layanan yang lebih tangguh, termasuk kesiapan infrastruktur teknologi informasi dan sumber daya manusia.

Ke depan, Fakhruddin menilai Bank Aceh perlu terus memperkuat transformasi digital sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko bencana. Layanan digital yang andal tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga menjadi solusi krusial ketika layanan fisik terganggu akibat bencana.

“Pemulihan pascabencana bukan sekadar kembali ke kondisi semula, tetapi menjadi momentum untuk membangun sistem perbankan daerah yang lebih adaptif, tangguh, dan berdaya saing,” pungkasnya.[arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI