Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / 38 Hari Musibah, Masih Banyak Yang Hidup dalam Bayang Maut

38 Hari Musibah, Masih Banyak Yang Hidup dalam Bayang Maut

Jum`at, 02 Januari 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Menitis seutas tali baja, tantanganya maut. namun mereka yang terisolasi tidak ada pilihan, harus dilalui. (foto/ Dok Dialeksis.com)

DIALEKSIS.COM | Feature - Hari terus berganti, masih banyak korban amukan alam ini yang hidup dalam bayang-bayang maut. Mereka bagaikan menunggu kain kafan. Untuk bertahan hidup mereka hanya mengandalkan seutas tali baja atau jembatan darurat.

Sling baja dan jembatan darurat yang dibuat ala kadarnya, tantangan maut. Ketika hujan kembali menguyur bumi, buatan manusia yang ihklas hanya mengandalkan kekuatan fisik itu kembali disapu alam.

Mengandalkan seutas tali baja untuk bertahan hidup, sampai kapan mereka yang didera musibah ini akan dibebaskan?

Bahkan Wakil Gubernur Aceh, Dek Fad, terjungkal di Sungai Pamar, Aceh Tengah yang hanya mengandalkan seutas tali.Ketika getek penyeberangan dengan seutas tali yang ditarik warga, geteknya terbalik. Wakil Gubernur Aceh tercebur ke dalam sungai yang pekat.

Nyaris terkubur di sungai dengan arus deras penuh bebatuan besar, juga dialami Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan. Sling yang membawanya ke seberang salah satu pengikatnya putus. Demikian dengan para relawan, ada yang kecebur ke sungai deras, saat mengandalkan seutas tali baja ini.

Namun bagi warga setempat yang hidup terisolasi dengan dunia luar, seutas tali baja itu merupakan penyambung hidup. Walau tantanganya maut, walau mereka sudah lelah, seutas tali itu senantiasa harus mereka lalui.

Tidak ada pilihan lain bila ingin tetap hidup. Daripada mati hari ini, lebih baik mati esok hari. Sarana penghubung yang mereka bangun dengan semangat gotong royong. Baik jembatan darurat dan sling tempat bergantung dipergunakan untuk melangsir bantuan atau relawan yang datang membalut luka mereka.

“Sampai kapan kami akan terus begini? Sudah sebulan lebih bencana yang melanda, namun kehidupan kami masih belum bebas dari terisolir,”sebut Sertalia, salah seorang korban dari pedalaman Linge, Aceh Tengah.

Mantan ketua KIP Aceh Tengah ini yang Dialeksis.com hubungi, Jumat (2/1/2026) via WA, masyarakat bukan mengemis untuk dikasihani, namun mereka meminta hak mereka sebagai warga negara, agar mereka dibebaskan dari isolasi.

“Bila akses terbuka, masyarakat bisa berusaha, membangun kembali dari puing-puing kehancuran. Kami tidak mau menjadi manusia dengan telapak tangan ke atas. Kami akan berusaha semampu kami, walau dibalut lelah, kami tidak menyerah,”sebut Sertalia.

Saat musibah hingga kini, sebutnya, masyarakat sangat lelah. Mereka berjuang dari sapaan maut. Ketika sudah sedikit tenang, dengan tenaga yang tersisa, sambil menahan lapar, bersatu bangkit membuat tenda pengungsian.

Mengangkut kayu untuk membangun jembatan, mencari sling membuat jembatan gantung, senantiasa bergotong royong dan mengumpulkan sisa-sisa puing kehancuran. Semua itu dilakukan masyarakat dalam suasana letih dan dibalut trauma.

“Namun sampai saat ini kami masih terisolasi, kapan kami akan terbebaskan. Atau kirimkan saja kain kafan buat kami di sini,”ucapnya dengan suara serak, menahan tangis dari balik telepon.

Pengalaman pahit Sertalia juga dirasakan ribuan warga Aceh Tengah lainya yang kini masih hidup dalam keterisoliran. Masih ada 26 desa di Aceh Tengah hingga memasuki hari ke 38 musibah, sampai kini masih terisolasi.

“Kami bertahan hidup dengan seutas tali sling. Tali ini digunakan untuk mengangkut sembako dan membawa hasil perkebunan kami ke luar. Resikonya sangat tinggi, seutas tali ini bagaikan meniti maut,”sebut Il Ihsan, sekretaris Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, ketika bertemu dengan Dialeksis.com.

Bila sebelumnya kecamatan Linge di Aceh Tengah menduduki peringkat teratas dalam data kampung terisolir, memasuki hari ke 38 musibah, angka kampung yang terisolasi sudah berkurang. Sebelumnya ada 19 desa di Kecamatan Linge, kini tersisa 7 kampung lagi. Kecamatan Ketol sampai saat ini masih ada 9 kampung terisolasi.

Dati data yang Dialeksis.com dapatkan dari kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, inilah nama kampung yang masih terisolasi di hari ke 38 musibah yang melanda Aceh Tengah. Belum dapat dilalui kenderaan roda empat (ada juga desa yang masih belum bisa dilalui kenderaan roda dua, namun harus berjalan kaki).

Kecamatan Linge ada 7 desa; Desa Linge, Kuteni Reje. Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Desa Umang, dan Penarun. Kecamatan Bintang, ada 3 desa; Serule, Atu Payung, Jamur Konyel. Kecamatan Silih Nara ada dua desa, Terang Engon dan desa Bius Utama Gantung Langit.

Kecamatan Rusip dari sebelumnya 12 desa kini tinggal 5 yang masih terisolasi, Pilar Jaya. Desa Pilar Wih Kiri. Tirmi Ara, Mekar Ayu, Arul Pertik.

Untuk kecamatan Ketol, kampung yang terisolasi masih tetap, ada 9 desa; Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah. Desa Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang dan Desa Burlah.

Jumlah pengungsi walau menurun, namun masih ada 7.899 jiwa di 58 titik pengungsian. Ada 11.657 jiwa masyarakat masih hidup di kawasan terisolasi.

Sampaikan kapan mereka hidup dalam bayang-bayang maut? Lambanya penanganan oleh pemerintah pusat dan provinsi, membuat pemerintah daerah kewalahan membebaskan kawasan yang masih terisolasi. Menaruh harapan berbuah kecewa.

Belum ada kata pasti kapan mereka akan terbebaskan dari isolasi. Apalagi ketika negeri ini kembali diguyur hujan. Para korban amukan alam ini masih trauma dengan guyuran hujan. Ketika malam mereka tidak tidur, menghindari bencana yang kembali terulang.

Lelah, pemikiran bercampur aduk, hidup belum ada kepastian, semakin membuat mereka yang terisolasi ini benar benar bertahan untuk hidup. Sampai kapan mereka terus begini?


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI