Logo Dialeksis - Masker
utu pangdam
Beranda / Feature / Doa Untuk Keluarga Rangga terus Mengalir

Doa Untuk Keluarga Rangga terus Mengalir

Minggu, 18 Oktober 2020 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Baga
[Foto: Ist/net]

Anak dari seorang pelaut ini, sudah dinobatkan netizen sebagai pahlawan cilik. Dia menghembuskan nafas terahir dengan menggenaskan, akibat perbuatan manusia sadis dan tidak bermoral. Doa-doa untuk Rangga masih tetap mengalir.

Demikian dengan doa yang ditujukan buat ibunya yang masih menjalani perawatan medis di RSUD Langsa, Aceh. Simpati manusia yang punya hati nurani diiringi dengan doa ditujukan buat keluarga yang tertimpa musibah ini.

Kutukan kepada pelaku kejahatan yang melakukan perbuatan sadis dan tak bermoral ini, juga senantiasa ramai menghiasi dunia maya. Bahkan ada yang meminta diberlakukan hukum qisas, nyawa diganti nyawa.

Kasus pembunuhan Rangga, 10, dan rudapaksa terhadap ibunya RD, warga Kecamatan Birem Bayuen, Aceh Timur, sudah menjadi perhatian publik. Tersangka Samsul Bahri, 41, yang merupakan residivis yang kini mendekam di Mapolres Aceh Timur, tak henti hentinya mendapat kutukan.

Bahkan, Dr. H. Zulkarnain MA, menjawab media menyebutkan, Samsul Bahri pelaku pembunuhan dan pemerkosaan, secara hukum Islam ia harus diganjar hukuman qisas. Nyawa dibayar dengan nyawa.

Menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Langsa, Dr H Zulkarnain MA, secara hukum Islam pelaku pembunuhan dan pemerkosaan wajib mendapat hukuman qisas atau nyawa dibayar nyawa.

Apalagi, rekam jejak pelaku juga sudah pernah melakukan hal yang sama (pembunuhan di Riau) pada belasan tahun silam. Kini dia kembali melakukan pembunuhan anak di bawah umur dan rudapaksa, perbuatan tanpa ada rasa belas kasihan ini sunguh sangat keji.

Sebenarnya hukum qisar sudah sangat pantas diganjar kepada pelaku. Namun, dikarenakan negara kita tidak menganut hukum Islam itu, maka hukum qisas ini tidak bisa dikenakan terhadap pelaku Samsul Bahri, sebut Zulkarnain.

Namun dibalik kecaman dan kutukan terhadap pelaku, serta iringan doa kepada Rangga dan keluarga korban agar tabah menghadapi cobaan ini, masih banyak manusia yang tidak mengandalkan hati nurani dalam bersikap.

Masih ada yang memposting gambar alrmarhum pahlawan cilik ini dengan tidak mengedepankan etika. Masih ada yang memposting gambar Rangga dengan kondisi tubuh yang penuh luka, sehingga menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban.

Fadly Fajar, ayah almarhum Rangga, dengan penuh perasaan mendalam ‘mengetuk’ hati para nitizen, agar para netizen tidak menambah sayatan luka keluarganya, atas postingan gambar Rangga dengan kondisi menggenaskan.

Dengarkan suara hati ayah armahum dan suami dari seorang istri yang kini sedang terbaring mendapatkan perawatan medis, dengan sejumlah perasaan di dalam dada. Dengan penuh perasaan Fadly fajar memohon kepada nitizen, simaklah goresn hatinya.

Saya, Fadly Fajar, dengan sangat memohon kepada all netizen, baik secara perorangan atau pun dalam kelompok untuk tidak lagi memposting photo almarhum anak saya: Rangga Aqshaal Mustaqhiim...dalam keadaannya yang penuh luka..

Dalam kondisi yang tidak layak dipublikasikan, dengan kengerian, dan mengandung unsur kekerasan.

Saya mohon dengan sangat, cukup lah dalam batin saya luka-luka anak saya simpan... dan saya juga mempertimbangkan kondisi psikologis ibu dari anak saya, ibu saya, mertua dan orang-orang yang sudah merawat Rangga, saat melihat photo tersebut.

Satu hal Rangga masih dibawah umur dan masih dilindungi dalam UUD perlindungan anak, dan tanpa ijin menyebarkannya terkecuali pihak berwenang dan yang mendapat kuasa."saya tak urus itu" yang saya mohonkan agar tidak lagi men-sharenya itu saja.

Saya minta dengan sangat..saya mohon dan terima kasih. Saya minta maaf jikalau perkataan saya kurang berkenan.....mohon dimaafkan!!!!??.

Jeritan hati yang disampaikan seorang ayah yang telah ditinggalkan buah hatinya. Sayatan hati seorang suami yang istrinya masih mendapat perawatan medis dengan sejumlah beban lainya.

Bila nitizen bersimpati kepadanya, sudah mendoakan keluarga mereka, sudah mendoakan armarhum Rangga, tentunya juga akan menjaga perasaan keluarga Rangga. Tidak lagi memposting gambar almarhum yang menyisakan kepedihan bagi keluarga yang ditinggalkan. Kedepankanlah hati nurani.

Rangga menjadi buah bibir, karena dia manusia bersih tanpa dosa, sudah kembali ke Ilahi dengan menggenaskan. Surga menantinya. Banyak linangan air mata mengiringi kepergiannya.

Bait bait doa juga disampaikan para netizen dan non nitizen kepada keluarga armarhum. Tuhan sudah menggariskan perjalanan hidup seseorang. Ada kelopak yang gugur ke bumi sebelum mekar dan berkembang, ada yang sudah berbuah baru dia turun ke tanah. Semuanya sudah ditetapkan Tuhan.

Perjalanan takdir hidup manusia sudah menjadi ketetapan sang maha segala-galanya. Tidak ada manusia yang menginginkan musibah, namun kekuatan Tuhan tidak ada manusia yang mampu menghindarinya.

Semoga tabah keluarga Rangga yang ditinggalkan. Tuhan tidak menguji manusia diluar batas kemampuan hambanya. Sabar saudaraku. Doa-doa dari pada netizen terus berkumdang untuk keluarga Rangga.

Ada sekenario Tuhan yang tidak terjangkau akal manusia dari balik sebuah musibah. Semoga keluarga Fadly Fajar tabah dalam menapaki hidup, doa “doa tulus dari hamba Tuhan masih dilantunkan untuk keluargamu, untuk anakmu Rangga. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

Berita Terkait
    riset-JSI
    Komentar Anda