Logo Dialeksis
Beranda / Feature / Janda Miskin Asal Montasik “Obati” Anaknya Yang Bocor Ginjal

Janda Miskin Asal Montasik “Obati” Anaknya Yang Bocor Ginjal

Senin, 15 Juni 2020 20:15 WIB

Font: Ukuran: - +

Muhammad Fatir Fabrizi,8, yang sudah menderita bocor ginjal selama 5 tahun, kini dirawat di RSU Zainoel Abidin (Foto/dok Serambinews.com)


Intan Mutia, selama ini berjuang tertatih tatih menghidupi empat anaknya. Dia bekerja serabutan, tidak mempunyai penghasilan tetap.

Dia janda yang dicerai suaminya, namun keempat anak-anaknya dia yang hidupi. Namun cobaan Tuhan itu bagaikan tidak pernah berhenti menguji ketangguhanya dalam menapaki hidup ini.

 Kini cobaan Tuhan membuatnya kembali berurai air mata. Dia sering memunajatkan doa dalam linangan air bening di pelupuk matanya. Anaknya Muhammad Fatir Fabrizi,8, menderita bocor ginjal. Sudah lima tahun buah hatinya mengalami bocor ginjal.

Kini  belahan jiwanya  dirawat di RSU Zainoel Abidin. Janda miskin asal Gampong Lampaseh, Kecamatan Montasik, Aceh Besar ini, benar- benar menghadapi cobaan yang berlapis.

Harus menghidupi anak-anaknya di saat wabah corona melanda negeri ini, ditambah lagi harus mengemas “kekuatan"  demi pengobatan sijantung rasa yang bocor ginjal.

“Jujur, kami mengalami kesulitan untuk biaya hidup sehari hari selama anak kami menjalani pengobatan di rumah sakit,” sebut Intan Mutia,43, ibu empat anak yang sudah ditinggal suami, seperti dilansir Serambinwes.com.

Apakah janda empat anak ini tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah? Intan Mutia mengakui dia mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa dana bantuan langsung tunai (BLT). Ia juga pernah mendapatkan bantuan dari program keluarga harapan (PKH), serta program Aceh Besar Sejahtera (Proabes).

Intan Mutia juga pernah mendapatkan bantuan dana zakat, infaq dan sedekah (ZIS) dari Baitul Mal. Pernah mendapat bantuan (sekali) berupa paket sembako dampak pandemi Covid-19 di Aceh Besar.

Namun ketika anaknya harus terbaring di ruang opname RSU Zainoel Abidin, mengalami bocor ginjal, dia tidak bisa berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selama ini aktifitasnya dilakukan sehari hanya dapat untuk makan hari itu juga, adakalanya justru tidak cukup.

“Bila ada yang perhatian dan sudi membantu kami meringankan biaya kebutuhan selama anak kami berobat di RSU, kami sangat berterima kasih. Semoga kebaikannya dibalas Allah dengan rejeki dan pahala yang berlipat,” sebut Intan, suaranya datar, penuh harap.

Namun Intan Mutia, walau didera prahara yang berlapis, dia masih menunjukan ketegaranya. Dia menguat- nguatkan fisiknya demi memenuhi kebutuhan hidup, khususnya untuk makan anak-anaknya.

Semoga anaknya Muhammad Fatir Fabrizi diberikan Allah kesembuhan dan ada hamba Allah yang terbuka hatinya untuk “mengusap” air mata janda dengan empat anaknya ini. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

Berita Terkait
    riset-JSI
    malikusaleh idul adha
    Komentar Anda
    dinsos dan M