DIALEKSIS.COM | Feature - Di balik pelukan, air mata, dan luka para guru SLB TNCC Banda Aceh, ada perjuangan panjang yang mengajarkan bahwa keajaiban sering lahir dari kesabaran yang tak pernah menyerah.
Lantunan lagu Indonesia Raya menggema di halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) TNCC Banda Aceh, mengawali pagi yang cerah setelah tiga pekan libur sekolah. Di bawah kehangatan mentari, pagi itu, Senin, 13 Juli 2025 para siswa berdiri dalam barisan upacara yang jauh dari kata rapi.
Seorang siswa SMA bergoyang mengikuti irama lagu kebangsaan, tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan seolah sedang menikmati musik yang hanya ia dengar sendiri. Tak jauh darinya, seorang siswi kelas I SD mengangkat tangan kiri saat aba-aba hormat dikumandangkan, sembari menoleh ke segala arah sambil tersenyum sumringah.
Pada pandangan yang lain, beberapa anak tiba-tiba berlari meninggalkan barisan dan menuju ke tengah lapangan. Tak ayal, aksi saling kejar pun terjadi antara guru dan murid, menggiring kembali anak-anak istimewa itu kembali ke barisan. Di barisan belakang, beberapa murid memilih duduk berjongkok, enggan mengikuti jalannya upacara.
Bagi orang luar, pemandangan itu mungkin terasa janggal. Namun bagi para guru SLB TNCC, itulah rutinitas yang mereka jalani hampir setiap hari.
Tak ada suara meninggi. Tak ada hukuman. Yang ada hanyalah tangan-tangan sabar yang berulang kali menggandeng, memeluk, mengusap kepala, lalu mengulang instruksi yang sama, lagi dan lagi, hingga anak-anak itu merasa aman.
Di sekolah inilah, kesabaran bukan sekadar sifat. Ia telah berubah menjadi cara hidup.
---------------------------------------------------
Di balik setiap pagi yang tampak sederhana itu, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang nyaris tak pernah terdengar.
Sebagian besar guru di SLB TNCC bahkan tidak pernah membayangkan akan mengabdikan hidup mereka di dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus. Suciani atau yang akrab disapa Nany Cia adalah salah satunya.
Lulusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Ar-Raniry itu mengawali karier sebagai guru anak reguler. Ketika diterima mengajar di TNCC pada 2021, rasa percaya dirinya nyaris hilang.
"Bagaimana mungkin saya bisa mengajar anak-anak berkebutuhan khusus?" pertanyaan tersebut menghantui pikirannya saat itu.
Ia sadar, ilmu yang dimilikinya tidak cukup. Yang akan ia hadapi bukan sekadar murid yang perlu diajarkan membaca atau berhitung. Ia harus belajar memahami dunia yang sama sekali baru, dunia yang memiliki bahasa, emosi, dan cara berpikir yang berbeda.
Berbekal masa observasi selama tiga bulan yang ia jalani, Nany Cia belajar mengenali karakter setiap anak, memahami tanda-tanda emosi mereka dan belajar mencari cara berkomunikasi yang kadang tak membutuhkan kata-kata.
Karena di sekolah ini, tidak ada dua anak yang benar-benar sama.
"Perlakuan, pola penanganan, dan strategi mengajar untuk setiap anak itu berbeda-beda," kenangnya.
Lalu datanglah ujian yang sesungguhnya. Suatu hari, ia dipercaya mendampingi seorang siswa autis kelas lima SD. Tubuh anak itu jauh lebih besar dibanding teman-teman seusianya.
Ia sulit berbicara. Sering mengalami tantrum. Kadang berteriak tanpa sebab yang dipahami orang lain. Kadang memukul, dan menggigit. Beberapa kali, sasaran amarah itu adalah gurunya sendiri.
Sebagai manusia, ia mengaku pernah berada di titik paling lelah. Pernah menangis diam-diam setelah keluar dari kelas.
"Pernah kesal dan emosi luar biasa," ucapnya lirih.
Tetapi setiap kali emosinya hampir meledak, ia memilih keluar sejenak dari ruang kelas. Mengambil napas panjang, dan menenangkan diri.
Namun bukan karena ingin menyerah, melainkan karena ia tahu, anak-anak itu membutuhkan guru yang tenang, bukan guru yang ikut kalah oleh emosi.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Ia terus kembali ke kelas yang sama. Mengulang pelajaran yang sama, kalimat yang sama, dan kesabaran yang sama.
Karena baginya, tidak ada anak yang pantas ditinggalkan hanya karena membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar.
Semangat yang sama juga hidup dalam diri Liwaul Hamdi. Di TNCC, ia akrab dipanggil Neno Hamdi. Latar belakang pendidikannya pun bukan pendidikan khusus.
Tetapi sejak memilih menjadi guru di TNCC pada 2021, ia sadar bahwa profesi ini akan menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengajar dan berarti siap menjadi apa saja.
“Macam-macam lah pengalamannya. Pernah mengepel lantai karena murid mengompol, membersihkan kotoran siswa di kamar mandi juga pernah,” kenangnya sembari tertawa.
Dan seperti guru-guru lain, ia pun pernah menangis karena lelah. Namun ia bertahan.
"Banyak orang tidak betah karena sejak awal tidak sadar bahwa mengajar anak berkebutuhan khusus serumit ini," katanya.
-----------------------------------------------------------------
Lelah memang datang. Tetapi di sekolah ini, kelelahan hampir selalu dibayar oleh sesuatu yang tak bisa diukur dengan uang. Bukan medali, bukan piala. Bukan pula nilai seratus, melainkan kemenangan-kemenangan kecil yang bagi orang lain mungkin tampak sepele.
Nany Cia masih mengingat seorang murid tunagrahita yang ia samarkan namanya menjadi David. Menurut orang tuanya, David tidak pernah bisa melompat.
Bagi sebagian besar orang, melompat adalah gerakan sederhana. Tetapi bagi David, itu adalah mimpi yang terasa mustahil. Berbulan-bulan Nany Cia mengajaknya berlatih di trampolin atau aktifitas fisik lainnya di sekolah.
Tak ada hasil yang langsung terlihat. Namun suatu hari, keajaiban kecil itu datang. David melompat, ya, hanya satu lompatan. Sangat sederhana.
Tetapi perubahan kecil itu, cukup untuk membuat kedua orang tuanya datang ke sekolah dengan mata berbinar. Mereka bercerita bahwa anak mereka akhirnya mampu melakukan sesuatu yang selama ini dianggap mustahil.
Saat mengenang dan menceritakan momen itu, suara Nany Cia tertahan. Ia terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mungkin bagi anak normal itu hal yang biasa. Tapi bagi kami, itu sesuatu yang sangat membanggakan dan mengharukan," ujarnya dengan suara bergetar.
Neno Hamdi pun memiliki kisah serupa. Seorang siswanya dulu selalu buang air kecil di dalam kelas. Berbulan-bulan ia mendampingi, melatih, dan mengingatkan.
Hingga suatu hari, anak itu berkata pelan, "Neno... izin pipis."
Hanya tiga kata. Tetapi bagi Neno, tiga kata itu adalah hasil perjuangan yang tak ternilai.
"Itu membuat saya sangat bahagia. Kadang sampai menangis terharu," ujarnya sembari tersenyum.
Karena di sekolah ini, keberhasilan memang memiliki definisi yang berbeda. Satu kata yang akhirnya terucap, satu langkah yang akhirnya mampu bergerak, itulah piala mereka.
---------------------------------------------------
Kepala SLB TNCC DM. Ria Hidayati, S.Psi.,M.Ed.,Gr, menyebut para guru di sekolahnya merupakan orang-orang yang hebat.
Saat ini TNCC memiliki 41 guru yang mendampingi 98 siswa, mulai dari kelas terapi hingga SMA. Ironisnya, hampir seluruh guru itu bukan lulusan pendidikan luar biasa.
Mereka datang dari berbagai disiplin ilmu. Lalu belajar dari nol. Belajar sambil terluka. Belajar sambil menangis. Belajar sambil tetap tersenyum.
"Mereka siap pasang badan ketika anak tantrum. Siap lari ke kamar mandi ketika ada yang muntah. Itu sudah menjadi bagian dari risiko pekerjaan mereka," ujar Nany Ria.
Karena itu, sekolah juga berusaha menjaga kesehatan mental para guru. Mengatasi hal tersebut, lanjut Nany Ria, sekolah memberikan dukungan atensi dan perhatian dari aspke psikologis.
“Hari pertama masuk sekolah setelah libur selalu diawali sesi saling bercerita. Kadang mereka diajak makan bakso bersama. Kadang berkemah. Kita juga memberi kesempatan tidur siang untuk guru setelah salat Zuhur,” ungkap nany Ria.
“Sekolah juga menyadari, guru yang merawat hati anak-anak istimewa juga membutuhkan ruang untuk merawat hatinya sendiri,” tambah Nany Ria tertawa.
Nany Ria juga mengapresiasi terhadap dedikasi seluruh guru di TNCC. Pasalnya, di tengah segala keterbatasan, SLB TNCC yang awalnya hanya berstatus akreditasi pada tahun 2018, sekolah itu meloncat langsung menjadi akreditasi A enam tahun setelahnya.
Prestasi yang lahir bukan dari kemewahan fasilitas, melainkan dari tangan-tangan yang setiap hari bekerja dalam diam. Tangan yang mengepel lantai, membersihkan muntah, menghapus air mata, menahan gigitan, dan terus ,enggenggam tangan anak-anak yang sedang kehilangan kendali.
Dan terus percaya bahwa setiap anak, seberat apa pun perjuangannya, berhak memiliki masa depan.
----------------------------------------------------------
Mungkin masyarakat tak pernah melihat semua itu. Yang terlihat hanya anak-anak yang berteriak. Anak-anak yang berlari. Anak-anak yang dianggap berbeda.
Padahal di balik mereka, ada guru-guru yang setiap hari sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai rapor.
Mereka sedang memperjuangkan harapan. Mereka sedang menjaga martabat anak-anak yang kerap dipandang sebelah mata. Mereka sedang membuktikan bahwa setiap anak memiliki pintunya sendiri untuk dibuka.
Hanya saja, sebagian pintu memang membutuhkan waktu lebih lama.Dan ketika pintu itu terbuka, ketika seorang anak akhirnya mampu melompat, mengucapkan satu kata, atau sekadar meminta izin ke kamar mandi, barulah dunia tahu bahwa keajaiban tidak selalu hadir dalam peristiwa besar.
Kadang, ia lahir dari seorang guru yang memilih tetap bertahan, meski setiap hari harus mengulang kesabaran yang sama.