Logo Dialeksis
Beranda / Feature / Manisnya Gula Terasa Pahit Saat Dibeli

Manisnya Gula Terasa Pahit Saat Dibeli

Jum`at, 27 Maret 2020 12:17 WIB

Font: Ukuran: - +


Inen Syifa, terpaksa mengelus dadanya ketika mendengar pedagang mengucapkan harga gula satu kilogram. “Ya Allah, udah bencana wabah, kini ancaman dapur keluarga,” ucapnya lirih.

“Setengah kilo aja bang,” sebut ibu setengah baya ini, sambil membeli ikan asin, terasi dan dua bambu beras. Pemandangan itu Dialeksis saksikan di Pasar Terminal Paya Ilang, Takengon, Jumat (27/03/2020) pagi.

Ibu-ibu rumah tangga, saat ini mengakui pusing dengan keadaan harga dipasaran. Semuanya serba naik, bahkan ada yang tidak rasional, seperti gula pasir misalnya. Saat normal, sebelum wabah corona, harganya hanya Rp 14.000 perkilogram.

Gula pasir yang manis dilidah kini terasa “pahit” saat membelinya. Apalagi dia mengakui, suaminya tidak bekerja selama wabah melanda. Saat menggilanya corona, hampir semua rumah tangga, khususnya menengah ke bawah merasakan akan terancam kelaparan.

Apa yang dirasakan Inen Syifa, hampir seluruh masyarakat merasakanya. Apalagi mereka yang mengandalkan otot, bekerja lepas, mencari makan sehari cukup buat makan sehari. Ketika mereka tidak bekerja, mau makan apa? Apalagi mereka harus “karantina” mengisolasi diri.

Seluruh harga kebutuhan pokok bergerak naik. Sementara hasil pertanian masyarakat tidak terjual, bahkan ada yang membeli dengan harga murah. Pedagang mengakui sulit memasarkan hasil pertanian, khususnya yang tidak tahan lama.

“Saya membawa alpukat dua karung ke pasar. Harganya hanya Rp 1.800 perkilo. Sebelum wabah ini harganya antara Rp 7000- Rp 8000. Apalagi alpukat sedang belum panen besar, tentu harganya mahal. Namun sekarang, untuk minyak dan ongkos petik saja tak cukup,” sebut Aat, salah seorang petani yang sedih, ketika menjual alpukat ke pasar.

Demikian dengan harga tomat, cabai, ubi-ubian dan sayur mayur. Harganya anjlok di pasaran. Petani dan mereka yang ekonominya kelas menengah ke bawah, merasakan pukulan yang berat. Ada linangan air mata ketika menatap wajah buah hati mereka.

Sementara harga kebutuhan pokok, semuanya bergerak naik. Khususnya gula pasir. Harga gula pasir di Aceh kini beragam, antara Rp 23.000 sampai dengan Rp 25.000 perkilonya. Berhentinya pemasokan gula dari Medan, mengakibatkan rasa manis ini berubah pahit .

Mahal dan berubah “pahit” gula di Aceh, dirasakan PLT Gubernur, Nova Iriansyah. Melalui suratnya tertanggal 24 Maret 2020, Gubernur meminta menteri perdagangan untuk mensuplai gula ke Aceh.

Permintaan PLT itu, menurut Kabag Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto, ditanggapi serius oleh Menteri Perdangangan. Kemendag akan mengirimkan 20 ton gula pasir ke Aceh dalam waktu dekat.

20 ton? Apakah merata bila disuplai ke seluruh Aceh? Dalam waktu sekejab rasa manis itu akan hilang, diserbu. Untuk sementara, manisnya gula bisa dirasakan oleh sebagian warga Aceh, walau ada yang tidak merata kebagian.

Pedagang di Provinsi Aceh mengakui dilema. Larangan keluar gula dari Sumut membuat pedagang susah. Saat mereka membeli gula didistribtutor, takut akan ditahan diperbatasan. Pedagang Aceh sudah membeli 500 zak gula, namun tidak berani mengangkutnya ke Aceh.

Persoalan yang dihadapi pedagang ini disampaikan Wakil Ketua Kadin Aceh Bidang Perdagangan, H Ramli dalam sebuah rapat di Kantor Gubernur Aceh, Rabu (25/3/2020).

Adanya “larangan” mengeluarkan gula dari Sumut, membuat harga gula di Aceh lepas kendali. Dipasaran stok menipis, harganya “menggila”. Harganya bervariasi, antara Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu, namun di kawasan yang ahak jauh dari kota harganya relatif naik.

Harga gula yang bervariasi itu menyebar di seluruh Aceh. Nilai kenaikanya sangat tinggi. Dalam hitungan hari, harga jual gula semakin naik. Dilain sisi, masyarakat susah berusaha mencari nafkah, harus mengurung diri, menghindari wabah.

Saat negeri ini dilanda prahara, musibah wabah corona, rakyat Aceh merasakan gula tidak lagi “manis” harganya sangat pahit. Mengoyak kantong. Belum lagi memasuki Ramadhan, kebutuhan gula sangat meningkat.

Apalagi penganan berbuka di Aceh dikenal manis manis, rata rata membutuhkan gula. Masyarakat berharap, persoalan gula dan kebutuhan pokok yang kini harganya melambung dapat segera diatasi pemerintah.

Apalagi dalam kondisi menjalarnya wabah, masyarakat semakin susah mencari sesuap nasi. Semuanya serba mahal, sementara pemasukan tidak ada. Bagaimana kelanjutan perjalanan hidup mereka, khususnya kelas menengah ke bawah? Gula kini sudah dirasakan masyarakat Aceh, tidak lagi manis, terasa “pahit” saat membelinya. ** Bahtiar Gayo

Catatan; tulisan ini setelah tayang sebelumnya mengalami sedikit perbaikan, ketika Dialeksis melakukan konfirmasi ulang di lapangan soal harga gula.




Editor :
Redaksi

dalimi
utu lebaran
Komentar Anda
hendri budian