Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Feature / Memanjat Gemuk Demi Hadiah

Memanjat Gemuk Demi Hadiah

Minggu, 18 Agustus 2019 17:22 WIB

Font: Ukuran: - +
Suasana panjat pinang menyemarakan HUT RI, di Takengon Barat, Aceh Tengah.

DIALEKSIS.COM - Pakaian dan tubuhnya berlumuran gemuk serta oli. Berlepotan di mana mana. Namun mereka bukan mekanik yang senantiasa berhubungan dengan gemuk dan oli. Fisik mereka harus kuat, apalagi bagian pundak, karena dijadikan tempat pijakan kaki.

Mereka membangun kelompok antara lima sampai enam orang. Tujuanya satu, menggapai bendera merah putih dibagian puncak. Hadiah utama ada di sana yang dikelilingi sejumlah hadiah lainya, seperti sepeda, kosmos, panci, dan sejumlah mainan anak anak.

Tim ini harus mampu memanjat dalam lumuran gemuk. Bendera yang mau mereka gapai, tidaklah terlalu tinggi, antara 10 sampai 12 meter. Namun untuk mencapainya, walau bahu membahu, tidaklah mudah. Butuh waktu yang lama, ada kalanya setengah hari baru mampu digapai.

Pondasi dibagian bawah haruslah orang yang paling kuat. Dia harus menahan lima atau empat lagi manusia yang berdiri di pundaknya, untuk menggapai bendera. Berpacu dengan waktu, naik ke pundak juga harus cepat.

Bila pondasi ini tidak lagi mampu menahanya, dia akan melepaskanya. Satu persatu manusia yang sudah memeluk pohon pinang berlumur gemuk ini, melorot kebawah. Giliran tim lain lagi yang maju, kejadianya sama, juga melorot.

Tim yang menguji ketangguhannya ini, memanjat silih berganti. Ketika baluran gemuk di pohon pinang ini sudah menipis atau berkurang, di sanalah kesempatan mereka untuk menggapai bendera. Belum ada satu tim yang sekali memanjat, langsung mendapatkan hadiah.

Panjat pinang, sudah menjadi tradisi. Di Aceh pertunjukan panjat pinang ini bagaikan sudah membudaya. Penontonya ramai. Tim yang memanjat juga lumanyan banyak. Tidak peduli mereka berlumuran dengan gemuk dan oli.

Hiburan rakyat ini hampir setiap kampung menyelenggarakanya, dalam rangka memeriahkan HUT RI. Tidak seru rasanya memeriahkan kemerdekaan negeri ini, bila tanpa pertunjukan panjat pinang.

Namun, di tahun 2019 semarak panjat pinang tidak diperbolehkan, khususnya di Kotamadya Langsa. Wali Kota Langsa, Usman Abdullah mengeluarkan intruksi melarang masyarakatnya untuk menggelar panjat pinang.

Usman Abdullah melalui suratnya no. 450/2381/2019, tentang peringatan HUT RI ke 74, menghimbau sekaligus melarang rakyatnya untuk melaksanakan panjat pinang. Secara historis panjat pinang merupakan peninggalan kolonial Belanda dan tidak ada edukasinya.

baca berita : Wali Kota Langsa Larang Panjat Pinang

Intruksi Wali Kota Langsa ini, agar para ASN karyawan BUMN, untuk menghadiri upacara HUT RI. Khusus untuk geuchik, agar mengenakan pakaian dinas saat kegiatan upacara berlangsung. Pelaksanaan panjang pinang agar ditiadakan.

Di daerah lainya di Aceh, pelaksanaan panjat pinang masih berlangsung. Di Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, walau dalam keadaan hujan gerimis, perlombaan panjat pinang dibanjiri peminat, penonton juga ramai.

Tahun ini, salah satu Kota Madya di Aceh, sudah memberikan aba- aba, agar jangan melaksanakan kegiatan panjat pinang. Alasanya sederhana, karena panjat pinang peninggalan kolonial Belanda dan tidak ada edukasinya.

Bagaimana dengan pemimpin lainya di Aceh? Apakah mereka juga akan melarang rakyatnya untuk melaksanakan panjat pinang yang sudah membudaya ini. Untuk tahun ini baru WaliKota Langsa yang melarangnya.

Hiburan rakyat ini memang unik. Mau berlumuran dengan gemuk dan oli, untuk meraih sebuah tujuan. Walau membersihkan gemuk yang melekat di badan itu sulit, tetapi mereka secara bersama- sama mau melakukanya.

Tim juga harus kompak, harus sama sama merasakan beratnya perjuangan, demi satu tujuan. Tantangan yang mereka hadapi harus dilalui. Walau nantinya hanya satu tim yang meriah kemenangan. (Bahtiar Gayo)

Editor :
Redaksi

Komentar Anda