Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / Sepotong Hati, Sepenuh Harapan: Kisah Anak Selamatkan Ayah di Meja Operasi

Sepotong Hati, Sepenuh Harapan: Kisah Anak Selamatkan Ayah di Meja Operasi

Sabtu, 11 April 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri
Pasien transplantasi hati sedang masa pemulihan di RSUP Fatmawati. [Foto: dok. Kemenkes]

DIALEKSIS.COM | Feature - Di sebuah ruang operasi di RSUP Fatmawati, Jakarta, waktu seakan berjalan lebih lambat. Di balik pintu yang tertutup rapat, bukan hanya tindakan medis besar yang sedang berlangsung, tetapi juga sebuah kisah tentang cinta, pengorbanan, dan harapan.

Seorang pria berusia 52 tahun terbaring, berjuang melawan sirosis hati akibat hepatitis B -- penyakit yang diam-diam menggerogoti fungsi tubuhnya. Di titik itu, pengobatan biasa tak lagi cukup. Satu-satunya jalan tersisa dengan transplantasi hati -- prosedur kompleks yang menjadi harapan terakhir bagi banyak pasien seperti dirinya.

Namun harapan itu datang dari tempat yang paling dekat: keluarganya sendiri.

Anaknya, seorang pemuda berusia 26 tahun, mengambil keputusan besar -- mendonorkan sebagian hatinya untuk sang ayah. Bukan keputusan mudah, tetapi lahir dari ikatan yang tak tergantikan. Dalam dunia medis, ini dikenal sebagai living donor liver transplantation, sebuah metode yang mengandalkan donor hidup, biasanya dari keluarga dekat.

“Ini bukan hanya tindakan medis, tetapi juga bentuk kasih sayang yang menyelamatkan nyawa,” ungkap Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono.

Operasi yang berlangsung pada 9 April 2026 itu bukan sekadar prosedur rutin. Ini adalah transplantasi hati ketiga yang dilakukan RSUP Fatmawati, sebuah pencapaian penting dalam perjalanan panjang Indonesia menuju kemandirian layanan transplantasi organ.

Selama bertahun-tahun, pasien dengan kondisi seperti ini sering kali harus mencari pengobatan ke luar negeri. Biaya tinggi dan akses terbatas menjadi tantangan besar. Kini, perlahan, harapan itu hadir di dalam negeri.

Bahkan, biaya transplantasi yang mencapai sekitar Rp600 juta kini ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan, sebuah langkah besar dalam membuka akses layanan bagi masyarakat luas.

Di balik keberhasilan ini, ada kerja tim yang tidak sederhana. Transplantasi hati melibatkan berbagai disiplin ilmu -- dari bedah, penyakit dalam, anestesi, hingga rehabilitasi. Semua bekerja dalam satu tujuan: menyelamatkan satu nyawa.

Namun, di antara semua kompleksitas itu, ada satu hal yang tak bisa digantikan oleh teknologi mana pun, dukungan keluarga.

Kasus ini menjadi istimewa. Jika selama ini donor sering berasal dari orang tua untuk anak, kali ini justru sebaliknya. Seorang anak memberikan bagian dari dirinya untuk memperpanjang hidup ayahnya.

Kini, setelah operasi, keduanya berada dalam kondisi stabil. Sang ayah telah sadar dan menjalani observasi di ruang ICU, sementara sang anak juga pulih dengan baik.

Di balik angka-angka medis dan istilah ilmiah, kisah ini menyisakan satu pesan sederhana: harapan itu nyata.

Bagi pasien sirosi, penyakit yang menjadi salah satu penyebab kematian tinggi di Indonesia, transplantasi hati bukan lagi mimpi yang jauh. Ia kini menjadi kemungkinan, bahkan di dalam negeri sendiri.

Dan di ruang operasi itu, sebuah pelajaran besar tertulis tanpa kata-kata: kadang, kehidupan kedua seseorang dimulai dari keberanian orang terdekatnya untuk berbagi. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI