DIALEKSIS.COM | Feature - Di tanah Aceh, ada satu hadih maja yang diwariskan turun-temurun dan dijaga kesakralannya: “Mate aneuk meupat jeurat, mate adat pat tamita.” Anak yang meninggal masih punya makam, tetapi adat yang hilang tak akan pernah tergantikan. Namun, dari sebuah perjumpaan kemanusiaan yang tak terencana, Aceh hari ini belajar satu hal baru: bahwa kebaikan tidak memerlukan silsilah. Ia hanya butuh ketulusan yang mampu melampaui batas wilayah, identitas, dan suku bangsa.
Surat cinta ini ditulis Risman Rachman, kolumnis sekaligus warga Aceh. Ia bukan sekadar salam perpisahan, melainkan kesaksian batin tentang jejak seorang anak muda bernama Ferry Irwandi di Tanah Rencong.
Kabar pamit itu datang pelan, namun terasa berat. Pesan Ferry jujur, tanpa dramatisasi dibaca di tengah Aceh yang masih basah oleh lumpur dan duka. Saat sebagian masyarakat masih berjuang merangkai sisa-sisa harapan di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah hingga Aceh Utara, kehadiran Ferry dan timnya bukan hanya membawa bantuan. Ia membawa oksigen bagi jiwa-jiwa yang hampir menyerah.
Ketika jembatan terputus di Takengon dan seorang ayah harus menempuh ratusan kilometer demi bertemu anaknya, atau saat seorang ibu di Pulo Seukee, Baktiya, terjebak di atap rumah bersama ular dan buaya dengan mata anak-anak yang nyaris kehilangan cahaya Ferry hadir menembus batas yang kerap membuat negara tertatih.
Aceh tak akan lupa deru mesin Cessna yang membawanya melintasi awan Sumatra. Tak akan lupa pula cahaya solar panel yang menyala di desa-desa terisolasi, saat malam terasa terlalu panjang dan gelap. Di tengah tangan-tangan yang membabat hutan, Aceh melihat tangan lain yang memilih bekerja hingga raga hampir tak lagi sanggup berdiri.
Di situlah nilai kemanusiaan menemukan wajahnya. Keputusan Ferry untuk berhenti karena alasan kesehatan diterima Aceh dengan hormat. Seperti pengakuannya sendiri, menjadi pahlawan bukan berarti berdiri tanpa cela, melainkan tahu kapan harus meletakkan beban agar tak mencederai orang lain. Dalam sunyi itulah integritas diuji dan Ferry menjalaninya.
Belasan miliar rupiah amanah publik dikelola dengan transparansi yang nyaris tanpa celah. Setiap rupiah dipastikan berubah menjadi napas bagi masyarakat yang sedang sesak. Bagi orang Aceh, inilah wujud meuseuraya gotong royong yang tak meminta balasan. Bukan sekadar logistik yang dibagikan, melainkan kepercayaan pada nilai-nilai kemanusiaan yang kembali ditegakkan.
Suara Ferry yang berat dan bergetar di akhir video perpisahan itu menembus relung hati Serambi Mekkah. Aceh tidak meminta ia untuk sempurna. Justru Acehlah yang berterima kasih karena ia telah memaksa raganya mencapai batas demi melihat orang lain kembali tersenyum.
Mungkin tak semua pernah berjabat tangan dengannya. Namun doa-doa dari para orang tua di tenda pengungsian akan terus mengalir, menyertai harapan agar kesehatannya pulih. Sebab ikatan kemanusiaan tak selalu lahir dari pertemuan fisik ia tumbuh dari ketulusan.
Selamat beristirahat, pahlawan. Pulanglah dengan bangga. Engkau datang membawa rencana di papan tulis, dan pergi membawa kelegaan yang tuntas.
Seperti lirik Letto yang menemani perjuangan itu: “Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum cahaya?”
Bagi Aceh, Ferry Irwandi adalah embun itu. Arigatou, Bung Ferry. Saleum Takzem dari Rakyat Aceh.