Beranda / Feature / Tsunami Aceh 2004 Mengubah Sisi Kelam Jafar Menuju Ketaatan

Tsunami Aceh 2004 Mengubah Sisi Kelam Jafar Menuju Ketaatan

Sabtu, 26 Desember 2020 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Alfi Nora
Jafaruddin. [IST]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Punya masa lalu yang kelam, jauh dari ketaatan kepada Sang Khaliq. Namun pemandangan tsunami menggulung manusia dan menyapu isi kota mengubah segalanya.

Dialah Jafaruddin, anak muda yang lahir di kampung kemudian besar di Medan, Sumatera utara. Menginjak usia sekitar 18 tahun ia memutuskan untuk merantau ke Banda Aceh pada bulan Agustus 2004, dengan berprofesi sebagai penjual ayam potong di pasar Kampung Baru, Banda Aceh. Di sanalah ia menyaksikan ganasnya tsunami yang meluluhlantakkan bumi Aceh. 

“Yang ada di pikiran saya waktu itu, ini pasti sudah kiamat, saya sangat takut, mengingat dosa-dosa dulu, jarang salat, puasa, bandel sekali dulu saya,” buka Jafar mengenang peristiwa tsunami 2004 lalu saat diwawancara Dialeksis.com, Sabtu (26/12/2020).

Jafar yang dulunya mudah tersulut emosi, suka hura-hura dan kerap lupa menunaikan kewajiban terhadap Tuhannya, kini berbalik menjadi sosok yang humanis dan penuh ketaatan. Tsunami Aceh 2004 lalu menyadarkannya, bila Allah Swt sudah menegur, maka lenyaplah semuanya.

Cerita dimulai pada Minggu, 26 Desember 2004 pukul 06.00 WIB. Sebagai penjual ayam, Jafar bersama kedua temannya yang lain berangkat ke lokasi pemasok ayam potong daerah Rukoh, Darussalam.

Di tengah kesibukannya memasukkan ayam potong ke mobil, terasa goncangan yang tidak biasa, goncangan yang sangat dahsyat menurut Jafar dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Jafar belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, orang-orang sibuk menyelamatkan diri, ia masih tenang belum terlalu panik. Jafar kembali membawa ayam-ayamnya ke pasar Kampung Baru untuk dijual ke pedagang-pedagang lainnya.

Namun di tengah perjalanan, ia melihat bangunan-bangunan sudah banyak yang roboh akibat goncangan gempa yang begitu dahsyat, tanah-tanah sudah longsor, jembatan Pante Pirak Simpang Lima tumbang, namun ia tetap melanjutkan perjalanannya menuju pasar.

Belum sampai ke tempat tujuan, tiba-tiba gempa susulan pun datang dengan goncangan yang lebih dahsyat lagi dari gempa pertama. Jafar mulai panik mengingat apa ini akan datangnya kiamat seperti yang diceritakan ustaz-ustaz di pengajian masa kecilnya.

Pukul 08.00 WIB, dalam hitungan detik setelah gempa susulan, air laut yang berwarna hitam pekat datang melaju deras meluluhlantahkan seluruh isi bumi, manusia-manusia sudah disapu ganasnya gelombang tsunami, sebagian yang masih selamat berlari ke bangunan yang lebih tinggi dan ke Masjid Raya Baiturrahman.

Jafar berlari ke arah reruntuhan bangunan di toko buku Zikra, tidak lama menyelamatkan diri di sana, air pun melewati bangunan tempatnya berdiri, kemudian melihat air yang sudah tinggi menenggelamkan apa yang ada di sekitarnya, Jafar ikut tenggelam hingga dibawa ke arah lapangan Blang Padang.

“Saya dibawa air sekitar 10 meter lebih, kebetulan saya sanggup menahan napas, saya enggak menelan air tsunami,” ucapnya.

Sekitar kurang lebih lima menit dalam air, Jafar berpikir ternyata begini rasanya jika hendak akan dicabut nyawa oleh Sang Pencipta, ia teringat akan dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya.

Tak lama kemudian Jafar melihat ada pohon besar di Blang Padang, ia berlari ke arah pohon tersebut dan memanjat di ketinggian yang paling tinggi. Di situ ia melihat seluruh isi bumi yang dibawa air dan tiba-tiba terdengar suara azan dari kejauhan. Ia pun berniat untuk menghampiri sumber suara tersebut.

Beberapa menit air surut, Jafar bergegas pergi ke Mesjid Raya Baiturrahman mencari saudaranya, namun tidak langsung ketemu pada hari itu, dua hari kemudian ia berhasil bertemu dengan saudaranya dan syukur selamat.

“Saya sangat bersyukur sekali masih diberikan umur panjang, masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri,” ucapnya.

Kala itu, ia mengakui memang seperti kejadian kiamat kecil, orang-orang hanya memikirkan dirinya sendiri, banyak yang meminta tolong tidak bisa ditolong.

“Sedih sekali waktu itu, banyak yang teriak minta tolong, tolong, tolong, ibu-ibu dan anak-anak, namun tidak ada yang bisa ditolong kecuali dengan kuasa tuhan,” ungkapnya.

Empat hari pasca-tsunami, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Medan dan kembali ke Banda Aceh setelah dua bulan kemudian.

Sejak peristiwa dahsyat itu, yang ia saksikan langsung dengan mata kepalanya sendiri, Jafar berjanji bertaubat serta lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha kuasa.

Hikmah lain pasca-tsunami Aceh, dari segi keuangan Jafar merasa terjadi perubahan yang luar biasa setelah dirinya lebih mendekatkan diri kepada sang maha pemberi rezeki.

“Dulu sebelum tsunami setelah kerja hanya dapat Rp 20 ribu sehari, itupun hanya cukup beli makan siang dan malam, besoknya harus kerja lagi. Namun setelah tsunami, rezeki datang melimpah dan bisa saya bagi-bagi ke orang lain," ujar Jafar.

"Saya meyakini bahwa tingkat rezeki yang kita peroleh tergantung bagaimana kualitas ibadah dan sedekat apa kita dengan sang pencipta,” tambahnya.

Ia berpesan semoga rakyat Aceh menjadikan pelajaran besar dari kejadian tersebut, bahwa ketika Yang Maha Kuasa sudah berkehendak, tidak ada satu manusia pun yang dapat menduga-duga, apalagi mencoba menghentikannya.

Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda