Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Agusni AH: Dari Luka Menuju Jalan Pulang

Agusni AH: Dari Luka Menuju Jalan Pulang

Senin, 27 April 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Agusni AH

Ilustrasi tiga puisi dari Agusni AH. Foto: Desain Dialeksis by AI

DIALEKSIS.COM | Aceh - Agusni AH, penyair asal Aceh sekaligus Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, menuliskan tiga puisi Ceruk Bumi, Ngarai Rindu, dan Menyigi Luka yang berdenyut dalam satu napas yang sama.

Ketiganya tidak sekadar hadir sebagai karya yang berdiri sendiri, melainkan menjelma menjadi alur batin dalam satu lanskap jiwa yang saling bertaut; sebuah perjalanan eksistensial manusia dalam menghadapi luka, rindu, dan pencarian makna atas seluruh rasa dalam riwayat hidupnya.

Dalam Ceruk Bumi, manusia diposisikan sebagai musafir yang terlempar ke ruang semesta yang sunyi, menyusuri ngarai kehidupan yang terjal. Ada kesadaran purba tentang asal-usul yang misterius tentang kelahiran dari “rahim kosmik” yang menyiratkan keterasingan sekaligus kenyataan paling hakiki tentang manusia.

Sementara itu, Ngarai Rindu menjadi ruang perjumpaan, ketika luka tak lagi ditanggung sendiri, melainkan dipapah bersama. Rindu hadir bukan sekadar sebagai kehilangan, tetapi sebagai daya yang menumbuhkan harapan, menabur “biji-biji cahaya” di tengah jejak waktu yang getir.

Adapun Menyigi Luka merupakan fase perenungan yang paling dalam. Luka tidak dihindari, melainkan disisir perlahan, dengan penuh kesadaran, ditelusuri hingga ke akar maknanya. Ia menjelma relau batin membakar, namun sekaligus memurnikan kesadaran akan diri dan kehidupan.

Ketiga puisi ini menghadirkan satu garis tematik yang utuh: dari keterlemparan, menuju perjumpaan, hingga perenungan. Agusni AH meramu bahasa yang kosmik, gelap, namun tetap menyisakan cahaya seolah mengabarkan bahwa dalam setiap luka dan rindu, selalu tersimpan jalan pulang, meski tak pernah benar-benar selesai ditemukan.

Selengkapnya dapat disimak dalam tiga puisi berikut ini.

CERUK BUMI

Kita di ceruk bumi,

adalah musafir di ngarai yang terjal,

terlahir dari rahim kosmik

yang menggigilkan sunyi hingga ke tulang waktu

Kita dalam jejak langkah yang sama,

dalam gerak ayun sejalan yang tersesat di lipatan semesta,

menyusuri luka-luka menganga yang tak pernah sembuh

Di sini, angin tak lagi sekadar berembus nan mencengkram,

ia mengangkut sisa doa yang gugur

dari bibir-bibir yang kehilangan arah,

dan kita memungutnya sebagai takdir

yang tak selesai membaca

Kita adalah keping-keping dari sisa cahaya

yang retak di ngarai gelap,

mengusung nyala yang nyaris padam,

namun belum benar-benar mati

Pada setiap jurang yang kita tatap dengan lekat kita menyigi, dan merekam wajah asing yang barangkali adalah diri kita sendiri,

yang terserak di antara waktu,

dan terbelenggu di antara masa yang penuh pancaroba

Tatkala malam menegakkan sunyi,

kita kembali kehilangan arah, dalam gelap kita berdiri tegap sembari mengajukan tanya:

apakah kita benar-benar lahir untuk berjalan,

atau sekadar tersesat di kosmik

yang tak pernah melahirkan kepastian ini ?!//(a.ah).


NGARAI RINDU

Di sini, kita bertemu nan menyatu,

di ngarai rindu kita memapah rasa,

menabur biji-biji cahaya

sebagai obat dari luka-luka masa

Semilir angin berbisik lirih di sela dinding-dinding tebing, sedu-sedan

membawa jejak-jejak yang pernah sirna, dan kita merangkainya

dari serpih waktu yang berserakan,

rindu pun kemudian menjelma sunyi, ia pun

mengalir pelan di dasar jiwa, menyeruak dada--menyusuri relung yang lama beku,

pada setiap tatap kita tak berucap,

dan kita hanya membaca bahasa yang tak bernama,

dalam kehilangan berulang kita belajar merawat luka, dan kita memapah rasa di pintu waktu, menanti pulang pada makna di ngarai rindu...//(a.ah).


MENYIGI LUKA

Aku menyigi luka di tubuh waktu,

mengurai rintih yang bersembunyi

di lipatan hari-hari yang ringkih,

di mana kenangan tumbuh

seperti onak yang tak pernah luruh

Dengan tangan yang melepuh, dengan jemari gemetar,

kusisir sunyi yang mengendap di gelap,

mencari buliran bening

yang pernah berjuntai jatuh dari matamu

Luka ini bukan sekadar perih nan pedih,

ia adalah relau yang tak padam,

membakar sisa-sisa asa

hingga menjadi debu hingga denyut tak lagi berteriak,

hingga nyeri belajar diam

dan luka menemukan namanya sendiri

Dan pada akhirnya, ia tak lagi berharap sembuh,

hanya ingin mengerti

bahwa setiap luka yang kusigi

adalah jalan pulang pada asa yang hakiki...//(a.ah).

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI