Rabu, 16 September 2026
Beranda / Gaya Hidup / Melampaui Batas Aceh: Teuku Afifuddin Mencipta dari Tradisi untuk Dunia

Melampaui Batas Aceh: Teuku Afifuddin Mencipta dari Tradisi untuk Dunia

Rabu, 16 September 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Teuku Afifuddin. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tiga tubuh laki-laki bergerak dalam tarikan, benturan, tekanan, dan upaya saling menopang di atas panggung Solo International Performing Arts 2026. Tidak ada dialog verbal yang menjelaskan siapa mereka. Tubuh menjadi bahasa utama untuk menyampaikan pergulatan seorang laki-laki yang berada di antara dua perempuan yang sama-sama dicintainya: ibu dan istri.

Pertunjukan berjudul TIGA itu merupakan karya Teuku Afifuddin. Gagasan tentang keluarga, tanggung jawab, dan kedewasaan diterjemahkan melalui tubuh para pemain. Memori gerak Saman, Seudati, Rabbani Wahed, dan Guel diolah menjadi energi, ritme, repetisi, kekuatan, serta daya tahan. Tradisi tidak ditampilkan kembali dalam bentuk aslinya. Tradisi diurai, dibaca, lalu ditransformasikan menjadi bahasa teater tubuh kontemporer.

TIGA dipentaskan pada 12 September 2026 di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta, sebagai bagian dari Solo International Performing Arts. Kehadiran karya tersebut dalam forum seni pertunjukan internasional memperlihatkan salah satu karakter penting dalam perjalanan penciptaan Teuku Afifuddin: tradisi bukan sekadar ornamen yang ditempelkan pada sebuah karya. Tradisi menjadi sumber pengetahuan sekaligus metode penciptaan.

Cara pandang tersebut menempatkan Teuku Afifuddin bukan hanya sebagai seniman yang lahir dan berkarya di Aceh. Jejaknya sebagai aktor, kreator teater, sineas dokumenter, akademisi, serta Ketua Dewan Kesenian Aceh menunjukkan perjalanan seorang seniman yang berangkat dari pengetahuan lokal untuk memasuki ruang seni nasional dan internasional.

Tradisi sebagai Cara Berpikir

Tradisi sering dipahami sebagai sesuatu yang telah selesai. Bentuknya dipertahankan, geraknya diulang, kostumnya dikenakan, sedangkan simbol-simbolnya ditampilkan kembali sebagai penanda identitas. Pemahaman semacam itu berisiko menempatkan tradisi sebagai benda masa lalu yang hanya dapat diwariskan melalui peniruan.

Teuku Afifuddin mengambil jalan berbeda. Tradisi tidak berhenti sebagai bentuk yang harus disalin. Tradisi dibaca sebagai cara masyarakat membangun pengetahuan, mengingat sejarah, menyampaikan kritik, dan menata hubungan sosial.

Pemikiran tersebut memperoleh landasan akademik melalui disertasinya yang berjudul Perubahan Bentuk Peugah Haba dari Tradisi Lisan ke Pertunjukan. Penelitian itu menelusuri perubahan Peugah Haba dari tradisi bertutur di tengah masyarakat menjadi seni pertunjukan. Perjalanannya dibaca melalui Mak Lapee, Teungku Adnan PMTOH, dan Agus Nur Amal.

Perubahan Peugah Haba membuktikan bahwa tradisi tidak selalu bertahan dengan mempertahankan bentuk lama secara utuh. Tradisi dapat berpindah dari ruang intim masyarakat menuju panggung, televisi, ruang digital, bahkan forum seni internasional. Perpindahan medium tidak serta-merta menghilangkan akar tradisinya selama prinsip penceritaan, hubungan dengan masyarakat, dan cara pengetahuan itu dibangun masih bekerja.

Teuku Afifuddin kemudian merumuskan konsep meu’en sebagai perspektif untuk membaca kesenian Aceh. Konsep itu mencakup awak meu’en sebagai pemain atau penyaji, meuneu’en sebagai isi yang dimainkan, peumeu’en sebagai cara memainkan, alat meu’en sebagai peralatan, panteu sebagai tempat bermain, serta tereutib meu’en sebagai urutan permainan.

Konsep meu’en tidak hanya menjadi perangkat analisis akademik. Unsur-unsurnya dapat ditemukan dalam proses penciptaan karya-karya Teuku Afifuddin. Ia memperhitungkan siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, benda apa yang digunakan, di ruang mana karya dipertemukan dengan penonton, serta bagaimana keseluruhan peristiwa disusun.

Penelitian dan penciptaan akhirnya tidak berjalan pada dua jalur berbeda. Penelitian memberi dasar pemikiran bagi karya, sedangkan praktik penciptaan menjadi ruang untuk menguji pengetahuan yang ditemukan melalui penelitian.

Perjalanan Hikayat Sepatu

Kemampuan mengolah tradisi lisan terlihat kuat dalam Hikayat Sepatu. Afifuddin tidak memilih benda pusaka atau simbol kebesaran kebudayaan sebagai pusat cerita. Ia memilih sepatu, benda sehari-hari yang berada di bagian paling bawah tubuh manusia.

Sepatu kemudian diperlakukan sebagai pintu masuk untuk membaca kehidupan. Melalui sepatu, identitas, pekerjaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, gaya hidup, dan perilaku konsumtif dapat dikenali. Benda yang semula hanya dipandang sebagai alas kaki berubah menjadi saksi hubungan manusia dengan kekuasaan dan status sosial.

Hikayat Sepatu dipentaskan pada 30 November 2018, pukul 20.00 WIB, di ruang pertunjukan dalam gedung Taman Budaya Banda Aceh. Pementasan tersebut mempertemukan Teuku Afifuddin dan Rasyidin Wig Maroe dengan penonton Banda Aceh. Dari panggung itu, sepatu tidak lagi hadir hanya sebagai properti. Ia menjadi pusat penceritaan yang mengajak penonton memeriksa kembali hubungannya dengan benda, kebutuhan, gaya hidup, dan status sosial.

Karya tersebut kembali hadir di hadapan pelajar pada Desember 2024 di SMAN Modal Bangsa Arun, Lhokseumawe. Pementasan itu menjadi bagian dari kegiatan Sandiwara Keliling bertajuk From Local to Global yang diselenggarakan Program Studi Seni Teater ISBI Aceh.

Sandiwara Keliling tersebut merupakan upaya menghadirkan kembali tradisi pertunjukan keliling sekaligus membangun hubungan antara perguruan tinggi seni dan sekolah. Hikayat Sepatu tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mendorong siswa membaca persoalan sosial melalui seni pertunjukan.

Perjalanan dari Taman Budaya Banda Aceh menuju ruang sekolah menunjukkan kemampuan karya ini hidup di hadapan kelompok penonton yang berbeda. Struktur dasarnya tetap berangkat dari tradisi bertutur, tetapi penyampaiannya dapat beradaptasi dengan ruang, situasi, dan karakter penonton.

Cara kerja tersebut memperlihatkan kemampuan seorang penutur dalam menemukan cerita besar dari benda yang dianggap kecil. Tradisi lisan tidak hanya digunakan untuk menceritakan kembali hikayat lama. Metodenya digunakan untuk membaca persoalan kontemporer.

Hikayat Sepatu #2: Dari Benda Menuju Kritik Ekologis

Pengembangan berikutnya hadir melalui Hikayat Sepatu #2: Dikepung Kayu. Karya ini dipentaskan pada 27 Agustus 2026, pukul 15.00 WIB, di Teater Arena Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam rangka Festival Teater Dosen Indonesia 2026.

Festival tersebut berlangsung pada 25-30 Agustus 2026 dan mempertemukan karya serta gagasan dosen teater dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kehadiran Hikayat Sepatu #2: Dikepung Kayu dalam forum tersebut menempatkan karya Teuku Afifuddin di dalam percakapan teater akademik tingkat nasional.

Karya ini melanjutkan dunia penceritaan Hikayat Sepatu, tetapi membawa persoalannya ke wilayah yang lebih luas. Air bah datang membawa gelondongan kayu dan batu, menghantam gudang, serta memusnahkan seluruh koleksi sepatu milik seorang Tuan. Agam, sang penjaga, diliputi ketakutan karena merasa gagal melindungi barang milik atasannya.

Banjir dalam karya tersebut tidak berhenti sebagai peristiwa alam. Gelondongan kayu menghadirkan pertanyaan mengenai kerusakan hutan. Koleksi sepatu menggambarkan kemewahan dan kepemilikan. Ketakutan Agam memperlihatkan ketimpangan hubungan antara orang kecil dan pemilik kekuasaan.

Afifuddin membuat benda dan peristiwa seolah-olah mempunyai suara. Sepatu berbicara tentang kelas sosial. Kayu berbicara tentang eksploitasi alam. Banjir berbicara tentang akibat tindakan manusia. Tokoh-tokohnya membawa persoalan tersebut ke dalam pengalaman yang dekat dengan penonton.

Perubahan dari Hikayat Sepatu menuju Hikayat Sepatu #2: Dikepung Kayu memperlihatkan perkembangan orientasi penciptaan. Karya pertama membaca hubungan manusia dengan benda, konsumsi, dan status sosial. Karya kedua memperluas pembacaan itu menuju hubungan antara manusia, kekuasaan, dan kerusakan lingkungan.

Tradisi dalam kedua karya tersebut bukan dekorasi budaya. Tradisi menjadi metode untuk mengubah kenyataan menjadi cerita, benda menjadi penutur, dan cerita menjadi kritik sosial.

Kamera sebagai Alat untuk Mendengar

Hubungan Teuku Afifuddin dengan tradisi lisan juga tumbuh melalui film dokumenter. Salah satu karya awalnya, Pujangga Tanpa Fikir, mengangkat kehidupan dan kesenian Teungku Adnan PMTOH. Film yang diproduksi pada 2003 itu memperoleh penghargaan Film Terbaik II dalam Pekan Seni Mahasiswa di Lampung pada 2004.

Pemilihan Teungku Adnan PMTOH sebagai subjek film memperlihatkan perhatian Afifuddin terhadap penutur, ingatan, dan proses pewarisan. Kamera tidak hanya digunakan untuk merekam penampilan seorang seniman. Kamera menjadi alat untuk menyimpan pengetahuan yang hidup di dalam tubuh dan ingatan seorang pelaku tradisi.

Jejak penting lainnya terlihat melalui keterlibatannya sebagai editor film dokumenter The Tsunami Song. Film tersebut merekam kehidupan pelaku Ratoh Taloe, Daboh, dan Dikee setelah tsunami. Kisah kehilangan, ketahanan masyarakat, regenerasi, dan revitalisasi kesenian disusun melalui pertemuan antara data, gambar, suara, kesaksian, dan musik. Film itu memperoleh penghargaan Dokumenter Terbaik pada Festival Film Dokumenter Yogyakarta 2005.

Penyuntingan dokumenter pada dasarnya memiliki kedekatan dengan kerja seorang penutur. Seorang editor memilih fragmen, menentukan urutan, membangun ritme, menghubungkan suara dengan gambar, serta mengarahkan perhatian penonton. Potongan kenyataan disusun menjadi cerita tanpa menghilangkan hubungannya dengan kehidupan orang-orang yang direkam.

Cara pandang tersebut kembali terlihat dalam dokumenter Sengeda. Sejarah Linge, kisah Sengeda, Gajah Putih, dan Tari Guel dipertemukan dengan persoalan regenerasi. Kehadiran seorang anak di dalam film ditempatkan sebagai simbol bahwa tradisi tidak hanya berhubungan dengan masa lalu, tetapi juga membutuhkan tubuh baru untuk melanjutkan perjalanannya.

Kamera bagi Teuku Afifuddin bukan semata-mata alat untuk melihat. Kamera menjadi alat untuk mendengar suara pelaku tradisi, merekam ingatan masyarakat, membaca perubahan, dan menyusun kembali pengetahuan agar dapat diterima oleh generasi yang berbeda.

Teuku Afifuddin. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]

Dari Tutur Menuju Tubuh

TIGA menandai perluasan metode penciptaan Teuku Afifuddin. Tradisi lisan yang sebelumnya dekat dengan kata, suara, hikayat, dan persona penutur diterjemahkan menjadi bahasa tubuh.

Karya tersebut berangkat dari kehidupan sosial keluarga Indonesia, khususnya masyarakat Muslim. Seorang laki-laki dewasa menjalankan beberapa kedudukan sekaligus: anak, suami, ayah, dan saudara. Ketegangan muncul ketika hubungan dengan ibu dan hubungan dengan istri ditempatkan seolah-olah saling berhadapan.

TIGA tidak menawarkan kemenangan salah satu pihak. Karya ini mengusulkan “posisi ketiga”, yaitu kemampuan seorang laki-laki untuk tetap menjadi anak, tetap menjadi suami, sekaligus menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab atas ketegangan di antara kedua hubungan tersebut.

Tiga tubuh laki-laki menarik, menolak, bertabrakan, berpisah, menopang, dan mencari keseimbangan. Tubuh mereka menjalankan fungsi penutur. Gerak menjadi kalimat. Benturan menjadi konflik. Jarak menjadi tanda keretakan. Tindakan saling menopang menjadi kemungkinan untuk bertahan.

Sumber geraknya berasal dari memori Saman, Seudati, Rabbani Wahed, dan Guel. Keempat tradisi itu tidak dipindahkan ke panggung sebagai tari tradisional. Unsur-unsurnya diserap menjadi tenaga, ritme, repetisi, kekompakan, serta karakter maskulin tubuh laki-laki Aceh.

Identitas Aceh dalam TIGA tidak hanya terlihat melalui pakaian, ornamen, atau simbol visual. Identitas tersebut bekerja dari dalam tubuh pemain. Tradisi hadir sebagai pengetahuan tubuh yang telah mengalami pengolahan artistik.

Penampilan TIGA di Solo International Performing Arts 2026 memperlihatkan bahwa pengalaman sosial masyarakat Aceh dapat dibawa ke forum internasional tanpa kehilangan konteks asalnya. Persoalan ibu, istri, cinta, tanggung jawab, dan kedewasaan juga dapat dibaca oleh penonton dari latar kebudayaan berbeda.

Afifuddin tidak membawa tradisi ke dunia dengan mempertontonkan keunikannya sebagai barang eksotis. Ia membawa cara berpikir yang tumbuh dari tradisi untuk membicarakan persoalan manusia yang lebih luas.

Dari Penciptaan Menuju Kerja Kebudayaan

Perjalanan artistik Teuku Afifuddin tidak berhenti pada penciptaan karya. Sebagai Ketua Dewan Kesenian Aceh periode 2022“2026, ia membawa persoalan seni ke wilayah kelembagaan dan kebijakan kebudayaan.

Gagasan mengenai Qanun Kesenian Aceh, Rumah Belajar Seni, penguatan Dewan Kesenian kabupaten/kota, pendidikan formal bagi seniman, serta Pusat Studi Peradaban Aceh menunjukkan perhatiannya terhadap ekosistem kesenian. Tradisi tidak akan bertahan hanya dengan menggelar festival atau pertunjukan seremonial. Tradisi membutuhkan ruang belajar, pelaku, regenerasi, dukungan anggaran, perlindungan hukum, dan kebijakan yang berpihak kepada kehidupan seni.

Pemikiran tersebut sejalan dengan sifat dasar tradisi lisan. Sebuah tradisi dapat bertahan karena adanya penutur, pendengar, ruang perjumpaan, dan proses pewarisan. Hilangnya salah satu unsur itu membuat tradisi perlahan kehilangan tempat hidupnya.

Kerja kebudayaan Afifuddin dapat dibaca sebagai perluasan konsep meu’en. Seniman adalah awak meu’en. Pengetahuan dan karya menjadi meuneu’en. Pendidikan serta pewarisan merupakan bagian dari peumeu’en. Panggung, sekolah, kampus, sanggar, dan Rumah Belajar Seni menjadi panteu. Kebijakan dan kelembagaan diperlukan untuk menjaga agar seluruh unsur tersebut dapat bekerja secara berkelanjutan.

Posisinya sebagai Ketua Dewan Kesenian Aceh tidak sepenuhnya terpisah dari praktik penciptaannya. Keduanya tumbuh dari kesadaran yang sama: seni harus mempunyai tempat hidup di tengah masyarakat.

Melampaui Batas Aceh

Kelayakan Teuku Afifuddin ditempatkan dalam pembicaraan seni nasional dan internasional tidak semata-mata ditentukan oleh tempat ia tampil. Posisi tersebut dibangun melalui kemampuan membawa pengetahuan lokal ke dalam percakapan yang lebih luas.

Jejaknya terbentang dari teater tutur, seni peran, film dokumenter, penyuntingan, penelitian akademik, penciptaan teater tubuh, pendidikan seni, hingga advokasi kebudayaan. Setiap medium menghadirkan bentuk berbeda, tetapi seluruhnya dihubungkan oleh perhatian terhadap cerita, ingatan, tubuh, benda, masyarakat, dan perubahan tradisi.

Pujangga Tanpa Fikir merekam sosok penutur. The Tsunami Song menyusun ingatan masyarakat pascabencana. Sengeda menghubungkan sejarah leluhur dengan regenerasi. Hikayat Sepatu membuat benda keseharian berbicara mengenai manusia dan kekuasaan. Hikayat Sepatu #2: Dikepung Kayu membawa Peugah Haba ke wilayah kritik ekologis. TIGA memindahkan tuturan dari kata-kata ke dalam tubuh kontemporer.

Perjalanan pementasan dari Taman Budaya Banda Aceh, sekolah di Lhokseumawe, Festival Teater Dosen Indonesia di ISI Yogyakarta, hingga Solo International Performing Arts memperlihatkan perluasan ruang kerja artistik Teuku Afifuddin. Karyanya bergerak dari ruang lokal menuju forum nasional dan internasional tanpa melepaskan tradisi sebagai landasan penciptaan.

Keseluruhan perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Afifuddin bukan sekadar mengambil inspirasi dari tradisi. Ia bekerja dengan logika tradisi, menyerap cara tradisi membangun pengetahuan, lalu memindahkannya ke dalam medium baru.

Kemampuan itulah yang membedakan seniman berbasis tradisi dari seniman yang hanya menggunakan simbol tradisional. Seniman berbasis tradisi tidak sekadar mempertahankan bentuk lama. Ia memahami prinsip yang membuat tradisi hidup, kemudian menggunakannya untuk menciptakan bentuk yang relevan dengan zamannya.

Teuku Afifuddin memperlihatkan bahwa jalan menuju panggung nasional dan internasional tidak harus dimulai dengan meninggalkan lokalitas. Seorang seniman justru dapat bergerak lebih jauh ketika memahami akar tempatnya berdiri.

Ia berangkat dari Aceh, tetapi tidak berhenti di Aceh. Ia mempelajari tradisi, tetapi tidak membekukannya sebagai masa lalu. Tradisi di tangannya menjadi metode untuk menciptakan karya, membaca zaman, merawat ingatan, dan berbicara kepada dunia. [ra]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI