DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Penyalahgunaan etomidate yang dicampurkan ke dalam cairan rokok elektrik atau vape mulai menjadi ancaman baru. Zat yang semestinya berada dalam kendali ketat tenaga medis itu kini ditemukan beredar melalui cartridge vape dan digunakan layaknya rokok elektrik biasa.
Dokter Spesialis Anestesi sekaligus praktisi kesehatan, dr. Masry, Sp.An, mengatakan penyalahgunaan etomidate bukan perkara ringan. Obat tersebut bekerja langsung pada sistem saraf pusat dan dalam praktik medis digunakan untuk menghasilkan kondisi tidak sadar dalam proses pembiusan.
“Penyalahgunaan etomidate sebagai campuran dalam rokok vape adalah kondisi yang sangat serius. Efek samping yang ditimbulkan bisa berat, bahkan dapat berakibat fatal,” kata Masry kepada Dialeksis, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Masry, etomidate merupakan obat anestesi yang dalam penggunaannya membutuhkan perhitungan dosis secara presisi. Pemberiannya dilakukan oleh tenaga medis dengan pemantauan ketat terhadap kesadaran, pernapasan, tekanan darah, denyut jantung, dan kondisi umum pasien.
Obat ini lazim digunakan sebagai salah satu agen induksi anestesi untuk tindakan medis tertentu, termasuk pembiusan sebelum operasi maupun dalam kondisi kegawatdaruratan. Karena bekerja cepat menekan kesadaran, penggunaannya tidak dapat disamakan dengan mengonsumsi obat biasa.
“Dalam pembiusan, dosisnya dihitung secara presisi. Pasien juga terus dipantau. Kita punya alat untuk memantau pernapasan, saturasi oksigen, tekanan darah, irama jantung, dan kesiapan untuk melakukan tindakan apabila terjadi efek yang tidak diharapkan,” ujar Masry.
Menurut dia, situasinya menjadi sangat berbeda ketika etomidate dimasukkan ke vape. Pengguna tidak mengetahui dengan pasti berapa konsentrasi zat yang masuk ke dalam tubuh pada setiap hisapan. Tidak ada pula pemantauan medis ataupun jaminan mengenai kandungan cairan yang digunakan.
Kondisi tersebut, kata Masry, membuat efek obat menjadi sulit diperkirakan. Seseorang dapat mengalami penurunan kesadaran secara cepat, gangguan koordinasi tubuh, depresi pernapasan, hingga keadaan yang membutuhkan pertolongan medis segera.
“Yang dikhawatirkan adalah kehilangan kesadaran dan terganggunya fungsi otak, henti napas, gangguan irama jantung, gangguan tekanan darah sampai overdosis. Dalam kondisi tertentu, kematian mendadak dapat terjadi,” katanya.
Etomidate juga memiliki efek terhadap kelenjar adrenal. Obat ini dapat menekan pembentukan hormon kortisol melalui penghambatan enzim yang berperan dalam produksi hormon tersebut. Dalam dunia medis, efek ini merupakan salah satu alasan penggunaan etomidate harus dipertimbangkan dan diawasi secara hati-hati. Literatur medis mencatat penekanan fungsi adrenal dapat terjadi bahkan setelah pemberian dosis tunggal.
Kortisol diperlukan tubuh untuk merespons berbagai bentuk stres, termasuk kondisi sakit berat dan infeksi. Karena itu, Masry mengingatkan penggunaan etomidate di luar indikasi medis membawa risiko yang tidak bisa dianggap sepele.
“Kelenjar adrenal menghasilkan hormon yang sangat penting bagi tubuh untuk menghadapi stres dan membantu respons tubuh ketika terjadi infeksi. Kalau fungsi ini ikut terganggu, tentu dampaknya terhadap tubuh bisa menjadi lebih berat,” ujar dia.
Otoritas kesehatan juga mencatat penggunaan etomidate tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan mual, muntah, gerakan atau spasme otot yang tidak terkendali, perubahan pola pernapasan dan tekanan darah, kejang, hingga gangguan psikis. Health Sciences Authority Singapura menegaskan etomidate merupakan obat yang seharusnya hanya diberikan di bawah pengawasan medis.
Masry mengatakan persoalan etomidate sebenarnya bukan fenomena yang benar-benar baru di tingkat global. Penyalahgunaan obat anestesi tersebut telah menjadi perhatian di sejumlah negara. Namun, modus memasukkannya ke dalam cartridge rokok elektrik relatif baru menjadi perhatian luas di Indonesia.
“Etomidate sendiri sudah lama dikenal dalam dunia kedokteran. Yang menjadi persoalan sekarang adalah penyalahgunaannya. Untuk Indonesia, penggunaan melalui vape memang menjadi tren yang relatif baru dan ini perlu diantisipasi sejak awal,” katanya.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Badan Narkotika Nasional bersama Bea dan Cukai pada Januari 2026 membongkar laboratorium gelap di Jakarta Selatan yang disebut memproduksi cairan vape mengandung etomidate. Dalam kasus itu, petugas menemukan ribuan cartridge kosong serta cairan yang diduga dipersiapkan untuk dimasukkan ke perangkat vape. BNN menyebut etomidate sebagai narkotika golongan II.
Pada Juni lalu, Polda Banten juga menggagalkan peredaran 195 cartridge vape yang diduga mengandung etomidate. Polisi menyatakan etomidate termasuk narkotika golongan II berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.
Bahkan pada 22 Juli 2026, BNN secara khusus menggelar seminar nasional mengenai ancaman penyalahgunaan narkotika melalui rokok elektrik. BNN mengingatkan fleksibilitas perangkat vape mulai dimanfaatkan sebagai media untuk memasukkan narkotika maupun new psychoactive substances. BNN menilai pengawasan, pengujian laboratorium, penegakan hukum, dan edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara terpadu.
Masry menilai pola baru tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah, aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, serta masyarakat. Bentuk cartridge yang menyerupai produk vape biasa, menurut dia, membuat pengguna ataupun orang di sekelilingnya belum tentu mengetahui bahwa cairan di dalam perangkat tersebut mengandung obat anestesi.
Karena itu, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan setelah korban jatuh atau kasus ditemukan. Pencegahan perlu dimulai dari pengendalian peredaran, penelusuran jalur distribusi, pengawasan terhadap cairan dan cartridge mencurigakan, hingga edukasi kepada anak muda mengenai risiko menghirup zat yang tidak diketahui kandungannya.
“Pengawasan peredaran sangat penting. Jangan sampai masyarakat, terutama anak muda, menganggap ini sekadar vape dengan sensasi berbeda. Ini obat anestesi yang bekerja pada kesadaran dan sistem tubuh. Salah penggunaan bisa membawa seseorang ke kondisi kegawatdaruratan,” ujar Masry.
Ia juga mengingatkan masyarakat tidak mencoba produk vape yang tidak diketahui asal-usul maupun kandungan cairannya. Apabila seseorang setelah menggunakan vape mengalami penurunan kesadaran, kesulitan bernapas, kejang, gerakan tubuh tidak terkendali, kebingungan berat, atau kondisi fisik menurun drastis, pertolongan medis harus segera dicari.
Bagi Masry, munculnya etomidate dalam perangkat vape memperlihatkan satu persoalan baru: sebuah obat yang bermanfaat ketika berada di tangan tenaga medis dapat berubah menjadi ancaman ketika keluar dari sistem pengawasan.
“Obat anestesi digunakan untuk membantu tindakan medis dan menyelamatkan pasien. Tetapi ketika digunakan tanpa indikasi, tanpa dosis yang tepat, dan tanpa pemantauan, risikonya sama sekali berbeda. Jangan pernah mencoba-coba,” kata Masry. [*]