DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Guru besar ilmu agama Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, mengingatkan jamaah agar menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan menyeluruh, tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Pesan itu ia sampaikan dalam ceramah shalat tarawih di Masjid Al Abrar Lamdingin pada malam ke-14 Ramadhan 1447 Hijriah, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut Syahrizal, ada tiga aspek utama yang harus berubah selama menjalankan ibadah puasa, yakni perkataan, perilaku, dan pola pikir.
“Pertama, perubahan dalam perkataan. Puasa mengajarkan kita untuk tidak berkata kotor, tidak menyakiti dengan lisan. Jika masih mudah keluar kata-kata yang buruk, berarti puasa belum berfungsi sebagai madrasah takwa,” ujarnya di hadapan jamaah saat wartawan Dialeksis ikut shalat dan mendengarkan ceramahnya.
Ia menegaskan, keberhasilan puasa dapat diukur dari kemampuan seseorang menjaga lisannya. Lisan yang sebelumnya mudah mencibir, memfitnah, atau berprasangka buruk, seharusnya berubah menjadi lebih santun dan menenangkan.
Aspek kedua adalah perubahan perilaku. Syahrizal mengajak jamaah melakukan evaluasi diri: apakah selama Ramadhan kualitas ibadah meningkat? Ia mencontohkan, jika sebelumnya jarang melaksanakan shalat rawatib, maka di bulan puasa menjadi lebih rutin. Jika sebelumnya jarang menamatkan bacaan Al-Qur’an, maka Ramadhan menjadi momentum untuk menuntaskannya.
Namun, ia menekankan bahwa perubahan perilaku tidak berhenti pada ritual ibadah. “Yang lebih penting, perubahan itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bekerja. Harus ada peningkatan etos kerja, kejujuran, dan tanggung jawab,” katanya.
Aspek ketiga yang dinilai paling mendasar adalah perubahan pola pikir. Menurut dia, sebelum berpuasa seseorang kerap terjebak dalam prasangka negatif. Misalnya, ketika melihat tetangga membeli mobil baru, langsung muncul kecurigaan atau cibiran.
“Puasa melatih kita untuk membersihkan pikiran dari prasangka buruk. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mempuasakan pikiran dari hal-hal negatif,” ujarnya.
Syahrizal mengatakan, orang yang mampu “mempuasakan” pikirannya dari prasangka buruk termasuk golongan orang yang meningkat kualitas ketakwaannya. Ia merujuk pada nilai-nilai dalam Al-Qur’an, antara lain Surah Ali Imran ayat 133 hingga 135, tentang ciri-ciri orang bertakwa: gemar menafkahkan harta di waktu lapang dan sempit, mampu menahan amarah, serta memberi maaf kepada sesama.
“Tujuan akhir Ramadhan adalah menjadikan diri kita takut melanggar larangan Allah dan patuh menjalankan perintah-Nya. Bukan hanya berubah sementara, tetapi membentuk karakter,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan puasa tercermin pada karakter yang terbentuk: perkataan yang terjaga, perilaku yang membaik, dan pola pikir yang positif. Jika tiga aspek itu berubah, maka Ramadhan telah menjalankan fungsinya sebagai madrasah pembinaan akhlak.
Ceramah malam itu ditutup dengan ajakan agar jamaah menjadikan sisa Ramadhan sebagai kesempatan memperkuat komitmen perubahan, sehingga nilai-nilai puasa tetap terpelihara setelah bulan suci berakhir.