Logo Dialeksis
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Jangan Tambah Korban Corona

Jangan Tambah Korban Corona

Sabtu, 28 Maret 2020 10:26 WIB

Font: Ukuran: - +

penangangan corona (foto/Antara)

DIALEKSIS.COM  “ Aceh sudah digelisahkan dengan Covid -19. Hingga Jumat (27/3/2020) dari 5 orang PDP, 4 diantaranya dinyatakan positif. Dari 5 pasien dalam pengawasan itu, dua meninggal dunia, tiga lainya diisolasi di RSUZA dan akan mendapat perawaran intensif.

Sementara itu, Pemerintah Kota Banda Aceh menyatakan sikap, akan memberlakukan pelarangan masuk dan keluar secara lokal di wilayah tempat tinggal PDP, serta area yang sudah terdata dalam ODP.

Hasil kesepakatakan Walikota bersama ketua DPRK Banda Aceh, Jumat malam (27/3/2020) merupakan upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Mengingat sudah ada dua warga Kota Banda Aceh yang dinyatakan positif Covid-19, serta puluhan orang berstatus ODP.

“Demi untuk kepentingan 265 ribu warga Kota Banda Aceh, kita sepakati memberlakukan partial lockdown atau lockdown lokal untuk wilayah Kota Banda Aceh,” kata Farid Nyak Umar, menjawab media, sehubungan hasil pertemuan dengan Walkot Banda Aceh.

Aceh sudah ada 5 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang ditangani pihak RSUZA. Dari lima PDP itu, dua meninggal dunia (satu diantaranya dinyatakan positif, sementara satu lagi hasil swabnya belum diterima pihak RSU).

Tiga lainya dinyatakan positif. Sepasang suami istri di Lampaseh Kota, Banda Aceh dan seorang lagi warga Montasik, Aceh Besar. Ketiga PDP itu dibawa kembali ke RSUZA untuk menjalani isolasi dan perawatan secara intensif.

Dua pasien yang meninggal dunia di RSUZA, berasal dari lhokseumawe, berinisial AA ,56, dan EY ,43, berasal dari rujukan RSU Bireun. Saat meninggal dunia, pasien yang berasal dari Lhokseumawe ini , belum dinyatakan positif terkena virus. Hasil pemeriksaan swab saat itu belum ada.

Namun pihak medis memperlakukanya sesuai dengan SOP medis dalam penangangan Covid-19, termasuk saat dilakukan penguburan. Kemudian keluar hasil lab dari Balitabangkes Kemenkes RI yang menyatakan PDP ini positif corona.

Demikian dengan pasien EY, dari rujukan RSU Biruen. Juru bicara Covid- 19, Syaifullah Abdulgani dalam keterangan ke media menjelaskan, PDP ini memiliki riwayat tinggal di daerah transmisi Covid-19, dia kembali ke Aceh Utara dari Malaysia.

Hasil pemeriksaan ditemukan gambaran infeksi paru-paru (pneumonia) dan memenuhi kriteria sebagai PDP Covid-19. Penangangan jenazah tetap diperlakukan sesuai SOP jenazah Covid-19, sebut Jubir corona Aceh ini.

Namun pihak keluarga saat mengebumikan PDP di Pulo Blang Trieng, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, melakukan proses penguburan layaknya seperti jenazah biasa, tidak mengikuti SOP PDP corona. Plastik yang sudah dikemas petugas medis dibuka, jenazah dimandikan. Dikapani dan disalatkan sampai dengan proses penguburan.

Pemerintah Aceh kini sedang mendalami, sehubungan dengan PDP yang proses penguburanya dilakukan pihak keluarga, layaknya jenazah biasa bukan PDP corona. " Kita akan dalami kasus ini,” kata juru bicara covid-19, Pemerintah Aceh Saifullah Abdulgani, kepada wartawan.

Pihak medis belum menyatakan postif atau negative atas PDP yang meninggal dunia ini, karena hasil lab atas swabnya (lender pasien) belum dikeluarkan oleh Balitabangkes Kemenkes RI.

Direktur RSUD Zainoel Abidin dr Azharuddin menjawab media menjelaskan, untuk mendapatkan hasil swab dari Balitbangkes Kemenkes RI, membutuhkan waktu empat hingga tujuh hari. Diperkirakan awal April ini hasil swabnya sudah ada.

Lockdown Lokal

Di Kota Banda Aceh, ada sepasang suami istri yang sudah dinyatakan positif corona. Demi untuk kepentingan warga kota Banda Aceh, Pemko setempat akan memberlakukan lockdown lokal. Pemko akan memberlakukan pelarangan masuk dan keluar secara lokal di wilayah tempat tinggal PDP, serta area yang sudah terdata dalam ODP.

Farid Nyak Umar ketua DPRK Banda Aceh menyebutkan, Walikota Banda Aceh akan segera menyurati Pemerintah Aceh, agar ibukota Provinsi Aceh ini dapat diberlakukan lockdown. Juga diusulkan kepada Pemerintah Aceh agar melakukan penutupan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) di kawasan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar.

Demikian dengan Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kementerian Perhubungan, agar terminal type A di Batoh dapat dibatasi atau ditutup. Terutama untuk bus yang datang dari dan menuju ke Medan, Sumatra Utara.

Untuk Terminal L300 Lueng Bata, akan dilaksanakan pemeriksaan selektif. Pemko Banda Aceh akan segera berkoordinasi dengan Pemkab Aceh Besar dengan melibatkan pihak TNI dan Polri, sehubungan dengan banyaknya pintu masuk ke Banda Aceh melalui Aceh Besar.

Menurut Farid Nyak Umar, Pemko Banda Aceh juga mengantisipasi dampak dari pemberlakuan lockdown, seperti dampak ekonomi, sosial, keamanan, dan sektor kebutuhan masyarakat. Tim siaga bersama penanggulangan Covid-19 Kota Banda Aceh, harus melakukan gerak cepat. Termasuk melakukan mapping (pemetaan) dampak pada warga kota Banda Aceh.

Selain itu, Pemko melalui dinas terkait akan melakukan operasi pasar untuk memastikan ketersediaan kebutuhan warga, terutama sembako. Langkah ini penting dilakukan karena harga bahan-bahan sembako sudah mulai melonjak naik,” jelas Farid Nyak Umar.

Upaya Pemerintah

Wabah corona yang menjalar kemana mana diseluruh penjuru dunia, telah membuat Pemerintah Aceh, para bupati, camat, kepala desa, serta seluruh elemen bergerak, berupaya mengantisipasi merambatnya covid -19 di tengah masyarakat.

Saat awal corona di Wuhan, China, Pemerintah Aceh mempasilatasi kepulangan mahasiswa Aceh yang ada di negeri tirai bambu ini. Saat wabah menjalar ke Indonesia dan masuk ke Aceh, dengan segala kemampuan dan keterbatasan, Pemda Aceh melakukan berbagai upaya.

Bukan hanya dalam bentuk himbauan, merumahkan pelajar, menyiapkan peralatan medis, khususnya Alat Perlindungan Diri (APD). Walau tidak sempurna, ada celahnya, pemerintah terus berupaya semaksimal mungkin, menggerakan apa yang dapat digerakan dalam menangkal, mengantisipasi corona dan mengobati mereka yang menjadi PDP.

Khusus untuk APD merupakan persyaratan mutlak bagi tenaga medis untuk menangani pasien. Tanpa APD yang memenuhi standar, petugas medis sangat beresiko dalam menangani pasien wabah. IDI melarang petugas medis untuk menangani PDP, bila tidak memiliki APD.

Persoalan APD hampir menjadi masalah seluruh Aceh. Para petugas medis dilapangan untuk menangani PDP corona, mengeluhkan tidak adanya APD sesuai standar. Persoalan ini mengharuskan Pemerintah Aceh sesegara mungkin menyediakan APD. PLT Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meminta Kementrian Kesehatan untuk menyediakan APD bagi petugas medis Aceh.

Ahirnya menteri kesehatan mengirimkan 336 set APD 42 ribu masker. Baju bagaikan astronot ini disebar ke seluruh kabupaten. Khusus untuk RSUZA mendapatkan 50 set, serta 10 ribu masker. Menurut Syaifullah Abdulgani, Rabu (25/3/2020) Jubir Pemda covid -19, pembagian APD ini dilakukan secara proporsional.

Selain harus memikirkan persoalan medis, Pemda Aceh juga harus mencari solusi dampak dari mewabahnya virus ini. Dampak dari segala sisi kehidupan, seperti dampak ekonomi, sosial, keamanan, dan sektor kebutuhan masyarakat, harus mendapat perhatian serius Pemerintah Aceh.

Jangan Tambah Korban

Aceh secara perlahan lahan mengalami peningkatkan terjalar virus corona. Pasien dalam pengawasan(PDP) yang dinyatakan postif corona, kini sudah ada 4 orang. Mereka dalam pemantaun (ODP) juga menunjukan peningkatan, sejak awal mulanya merambah covid di Aceh.

Apalagi keluarga PDP berinteraksi dengan pasien. Peluang menyebar akan semakin lebar. Dua PDP positif di Banda Aceh, awalnya sang istri hanya masuk dalam Orang Dalam Pengawasan (OPD), karena suaminya PDP. Betapa ngerinya, suami istri positif corona.

Menurut Direktur Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine FICS, dalam keteranganya kepada media, Jumat (27/3/2020) sore. Hasil pemeriksaan swab (lender) dari Balitbang Kemenkes RI, sudah menyatakan Aceh memiliki 4 PDP positif.

Ia kembali mengimbau warga Aceh untuk benar-benar mematuhi ketentuan social distancing karena faktanya jumlah orang yang positif corona di Aceh makin bertambah. Masyarakat harus menjadi diri, membatasi diri, serta berupaya mengantisipasi menyebarnya covid-19.

Mereka yang sudah terkena covid-19, tidak pernah meminta mereka terkena wabah. Mereka juga ingin hidup normal, sama dengan manusia yang tidak terkena wabah. Untuk itu, jangan mengucilkan mereka, walau upaya membatasi diri harus dilakukan.

Menjaga jarak dilakukan adalah upaya pencegahan. Namun bukan mengucilkan. Demikian ketika adanya aturan lockdown, atau anjuran lainya yang disampaikan oleh pemerintah, semua pihak harus mentaatinya. Agar tidak bertambahnya terkena corona.

Saat wabah seperti ini, semua pihak harus menjaga diri. Wabah ini tidak mengenal pangkat dan jabatan serta status sosial. Untuk itu mari kita saling menjaga, tidak membiarkan bila ada orang lain berpeluang terkena wabah. Minimal menegur dan menasehati mereka untuk mengikuti anjuran yang disampaikan pemerintah.

Semua kita dalam kondisi saat ini bernasib dan berperasaan yang sama. Ingin bebas dari corona. Namun bila kita tidak mengikuti anjuran yang disarankan, bukankah kita menjebak diri dalam pusaran corona? Mari jaga diri kita, keluarga kita, dan lingkungan kita. Tidak lupa berdoa, semoga corona cepat meninggalkan alam pana ini. (Bahtiar Gayo)

Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda