Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Meugang, Sebuah Kelezatan yang Mahal

Meugang, Sebuah Kelezatan yang Mahal

Minggu, 05 Mei 2019 20:24 WIB

Tradisi Meugang di Aceh. (Ilustrasi). (Foto: Republika)

DIALEKSIS.COM | Rasanya, sebagai warga Aceh, Anda tidak ingin melewati momen makmeugang (disingkat: meugang) setiap menjelang bulan suci Ramadhan. Akan ada santapan spesial tersaji di meja makan di hari pertama atau kedua sebelum menjalani ibadah puasa 30 hari mendatang.

Tapi bagi warga dengan kemampuan ekonomi pas-pasan, tradisi menyantap masakan daging segara di hari meugang adalah sesuatu yang mahal. Apalagi sebagai kepala keluarga, merasa tidak nyaman berada di rumah jika tidak bisa memberikan keluarganya masakan daging meugang.

“Untungnya hari ini di meunasah ada pembagian daging meugang gratis. Masing-masing KK (kepala keluarga) mendapat 2 kilo,” kata Hasbi, warga Gampong Meunasah Gle, Rubee, Kec. Delima, Pidie, kepada Dialeksis.com, Minggu (5/5/2019). “Jika tidak, sudah 160 ribu juga sekilo daging hari ini,” sambungnya.

Tentu saja, Hasbi akan senang hari ini bisa menyantap kelezatan masakan daging meugang bersama keluarganya, yang jarang-jarang bisa mereka nikmati.

Di pelosok lain, banyak warga Aceh memiliki tanggung jawab seperti Hasbi, yang harus membawa pulang daging meugang ke rumahnya. Jika tidak, apalagi bagi seorang suami, bisa-bisa menanggung malu.

Meugang adalah tradisi masyarakat Aceh dalam memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu. Mereka menyebutnya “Uroe Meugang” atau hari meugang. Tradisi ini dilaksanakan setahun tiga kali, yaitu dua hari menjelang bulan Ramadhan, menjelang Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri.

Budayawan Aceh Ampuh Devayan menyatakan, beberapa daerah di Aceh menganggap uroe meugang suatu yang sakral. Jika seorang suami, apalagi sudah punya anak, akan merasa rendah di mata keluarganya bila tak mampu memenuhi kebutuhan uroe meugang.

“Mungkin kita masih ingat, beberapa tahun lalu, seorang ayah dari keluarga miskin di Banda Aceh, nekat memotong alat vitalnya. Ia putus asa karena tidak bisa membawa pulang `eungkot sie' buat keluarga. Memotong alat vital sendiri sebagai ekspresi yang menganggap dirinya tidak pantas menjadi laki-laki sebagi pelindung keluarganya,” sebut Ampuh kepada Dialeksis.com dalam kolomnya “Uroe Makmeugang”.

Setiap tahunnya, pasar daging dadakan muncul sejak H-3 Ramadhan. Para pedagang tidak hanya buka lapak di pasar tradisional. Melainkan juga di sejumlah titik strategis yang memudahkan warga mendapatkan daging dengan cepat.

HARGA TIDAK STABIL

Hasil penelusuran Dialeksis.com, setidaknya dalam tiga tahun terakhir, harga daging meugang selalu meningkat setiap tahunnya dengan harga bervariasi di setiap daerah.

Pada 2017, harga daging meugang menembus angka Rp200 ribu/kg. Lebih mahal Rp50 ribu/kg dibanding angka tertinggi tahun sebelumnya. Harga daging segar yang meroket ini terjadi di Aceh Selatan.

Padahal, Gubernur Aceh saat itu, Zaini Abdullah sempat mengeluarkan instruksi agar pedagang tak menjual daging segar di atas harga Rp130 ribu/kg. Nyatanya, hampir semua daerah di Aceh tak menggubris.

“Seharusnya bukan sekadar instruksi, tapi Pemerintah Aceh perlu memberi subsidi agar pedagang daging tidak merugi,” saran May Fendri, pedagang di Tapaktuan, Aceh Selatan, kepada media lokal.

Dia mengatakan, seharusnya pedagang dapat disubsidi pemerintah sehingga mereka tidak menjual di atas harga rata-rata.

Di ibu kota provinsi, Banda Aceh, harga daging meugang dijual pada kisaran Rp160 ribu - Rp170 ribu/kg. Di daerah lain, Pidie misalnya, harga daging meugang mencapai Rp 180 ribu/kg. Harga yang sama berlaku di Aceh Barat Daya.

Menurut pedagang, harga jual melonjak karena harga beli ternak tinggi. Namun, masyarakat Aceh, ketika terjepit dengan “tuntutan” menyantap daging meugang sebelum memasuki hari-hari bulan puasa, naik-turunnya harga bukan lagi sebuah persoalan.

“Karena ini adalah tradisi dan soal gengsi, mau tidak mau, terpaksa beli,” ujar Fuadi, seorang warga di Banda Aceh, kepada media.

Kala itu, Pemerintah Aceh menawarkan satu solusi. Sebuah pilihan bagi masyarakat yang ingin tetap bisa menikmati tradisi meugang dengan santapan daging. Yaitu mendistribusikan daging beku melalui Bulog Aceh.

Daging beku dibanderol seharga Rp80 ribu/kg. Seperti dikatakan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, kepada media saat itu, daging beku merupakan opsi dari pemerintah agar masyarakat bisa mendapat daging dengan harga terjangkau.

“Daging dengan jenis apapun silakan, tapi kita sediakan untuk masyarakat dengan harga terjangkau yaitu daging beku. Tersedia kebutuhan protein dengan harga terjangkau,” kata Oke sebagaimana dikutip Detik Finance.

Namun, masyarakat Aceh umumnya lebih memilih beli daging segar meskipun harganya bisa dua kali lipat lebih tinggi dari harga daging beku. Lagian, tradisi meugang menyambut Bulan Suci itu hanya setahun sekali.

Fenomena yang sama terulang di tahun berikutnya. Kepala Bulog Aceh, Basirun, saat itu menyatakan kepada media, masyarakat Aceh tidak berminat membeli daging beku yang dianggap kurang sehat.

Selain itu katanya, sudah jadi tradisi turun-temurun saat meugang, orang Aceh tetap konsumsi daging segar (sapi atau kerbau), meskipun harga beli mahal. Bulog Aceh akhirnya siaga saja kalau seandainya ada permintaan daging beku dari masyarakat.

Pemerintah menyatakan, harga daging pada meugang menjelang Ramadhan 1439 H, masih dalam tarif normal. “Harga daging masih relatif stabil yakni berkisar Rp150 ribu/kg sampai Rp160 ribu/kg,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Muhammad Raudhi, kepada media.

Menurut dia, harga daging sapi di Aceh biasa jika mengalami kenaikan harga saat hari meugang. “Meskipun ada yang menjual di atas harga tersebut, tapi rata-rata berkisar Rp150 ribu/kg,” ungkapnya seperti dikutip Gatra.com

Tapi di lapangan, harga daging di beberapa daerah malah ada yang menjual sampai Rp200 ribu/kg, seperti di Aceh Selatan.

Irwan, pedagang di salah satu pasar tradisional kota pala itu, mengatakan, tingginya harga daging pada hari meugang disebabkan stok kerbau dan sapi yang minim sementara pasar meningkat. Akibatnya, kata dia seperti dikutip ANTARA Aceh, mereka harus datangkan ternak dari luar daerah.

Daerah lain pun, seperti di Aceh Timur, harga daging meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Di Idi, harga daging dijual antara Rp160 ribu - Rp170 ribu per/kg pada hari pertama meugang, dan naik sampai Rp200 ribu/kg pada hari kedua.

Bireuen juga alami kenaikan harga daging meugang yang menyentuh Rp170 ribu/kg, jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berkisar Rp140 ribu - Rp150 ribu/kg.

Ketidakstabilan harga terus berlanjut hingga tahun ini. Harga daging bervariasi di berbagai daerah. Sebagaimana dua tahun sebelumnya, harga daging meugang paling tinggi berada di wilayah barat-selatan Aceh.

Di Aceh Barat Daya, harganya menembus Rp200 ribu/kg di hari kedua meugang. Di Kota Banda Aceh, harganya tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya. Di Bireuen, harga bisa berkisar antara Rp160 ribu - Rp170 ribu/kg.

HARI YANG SAKRAL

Penyebab harga tinggi masih sama dengan sebelumnya. Pedagang di Bireuen misalnya, terpaksa menjual harga daging meugang tidak sesuai dengan patokan harga pemerintah setempat, Rp120 ribu, karena harga beli ternak yang mahal.

“Satu ekor lembu berat 120 kg dijual 20 juta lebih,” kata Jamil pedagang di Jalan Langgar Square Bireuen. Pun diakui Abdullah, penjual daging di Kota Matangglumpang Dua, harga daging meugang dijual antara Rp160 ribu - Rp170 ribu/kg.

Meski harga daging dijual melebihi ketentuan harga pemerintah, daya beli masyarakat tetap tinggi. Beberapa pembeli yang diwawancara Dialeksis.com, mengatakan, mereka tetap beli daging segar meski mahal.

“Walaupun mahal, ya, kami beli saja dagingnya. Sepertinya belum lengkap rasanya melalui hari meugang tanpa makan daging segar,” ujar Aisyah seorang pembeli di lapak dagang di Matangglumpang Dua.

PASAR TANI EDISI MEUGANG

Tahun ini, Pemerintah Aceh memanfaatkan Pasar Tani di Banda Aceh untuk menjual daging meugang. Pasar Tani digelar di Lampineung, Banda Aceh, sejak 2016 dan baru ramai pengunjung sejak 2018, di bawah binaan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Pasar Tani edisi meugang berlangsung pada Kamis (2/5/19). Pihak Distanbun Aceh bekerjasama dengan Dinas Peternakan Aceh menyediakan 4 sapi seberat rata-rata per ekor 400 kg untuk dijual pada warga dengan harga murah.

Kepala Dinas Peternakan Aceh, Rahmandi, mengatakan, program penjualan daging meugang murah itu dilakukan atas anjuran Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Tujuannya untuk membantu masyarakat berpendapatan rendah agar bisa membeli daging untuk keperluan meugang puasa. Harga daging maksimal hanya Rp130 ribu/kg.

Masyarakat Aceh lebih menyukai daging segar daripada daging beku. “Masyarakat Aceh punya kefanatikan terhadap daging sapi. Karena pemeliharaannya masih secara tradisional dan makanannya belum menggunakan konsentrat sehingga rasanya lebih gurih,” kata Rahmandi kepada Dialeksis.com, Minggu (5/5/2019).

Sebab itulah, warga Aceh tetap beli daging segar meskipun harus menguras banyak isi dompet.

Pantauan Pemerintah Aceh, sebutnya, harga daging sapi saat meugang kali ini masih normal di Banda Aceh dan Aceh Besar, yang menembus angka Rp160 ribu/kg. Tapi di berbagai daerah, harga sangat bervariasi bahkan melonjak tinggi.

Soal itu, kata dia, Pemerintah Aceh baru saja mengesahkan Qanun Aceh Tahun 2018 tentang Retribusi Aceh, yang mengatur usaha jasa di Aceh. Namun qanun ini baru disosialisasikan ke masyarakat pada tahun ini, sehingga belum berdampak apa-apa.

INISIATIF MASYARAKAT

Bagaimana dengan masyarakat di luar Banda Aceh? Apakah mereka juga punya Pasar Tani?

Sebagian warga di beberapa daerah mengambil inisiatif sendiri. Mengadakan pembagian daging meugang gratis untuk meringankan warga yang kurang mampu. Seperti dirasakan Hasbi di Reubee, Pidie.

Di beberapa daerah lain, juga melakukan hal yang sama, seperti di Bireuen. Pemerintahan Gampong Kuta Baro Kecamatan Kuala Bireuen menyalurkan daging meugang gratis kepada seluruh warga. Disembelih 2 sapi yang dibagikan kepada 278 kepala keluarga (KK) di gampong tersebut.

Baca: Bagi-bagi Daging Meugang

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dapat berlanjut setiap tahunnya, mengingat kondisi masyarakat memang sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan serupa, apalagi menjelang hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri nanti.”

Demikian kata Amri kepada Dialeksis.com, warga Kuta Baro, di sela-sela pembagian daging meugang. Dia pun dapat menikmati aroma lezatnya daging meugang Ramadhan 1440 H. (Makmur Dimila)


Editor :
Indri

universitas teuku umar
Komentar Anda