DIALEKSIS.COM | Kolom - Dari relung hati terdalam, hati yang tersayat duka, kami meminta agar Makanan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan. Tidak usah lama, cukup sepekan demi kami yang terkena musibah bencana hidrometeorologi akhir Nobember tahun lalu.
Kami butuh kepastian, kapan negara mampu menyelesaikan persoalan kami sebagai anak bangsa yang didera bencana ini. Sampai kini semuanya terkesan lamban, apakah negara seperti tidak punya anggaran untuk menata puing-puing kehancuran yang kami alami?
Bila sepekan saja MBG dihentikan dan dananya dialihkan buat menata amukan alam yang tidak mau disebutkan sebagai bencana nasional, situasi dilapangan akan berubah. Kami akan memiliki secuil harapan untuk bangkit.
Kami membutuhkan seorang ayah yang akan memberikan punggungnya untuk melindungi anak-anaknya dari ancaman maut. Ayah yang rela tubuhnya tertusuk belati, dihujani panah. Ayah yang rela kembali ke Ilahi demi menyelamatkan anak-anaknya. Kami rindukan ayah sejati.
Namun sampai kini, kami dibuai harapan dalam ketidakpastian. Kapan persoalan Huntara selesai, sehingga Huntap dapat dinikmati para korban. Kapan bantuan stimulant untuk masyarakat yang rumahnya terkena banjir. Tidak ada target waktu yang jelas kapan akan tuntas.
Kapan perkampungan, kawasan pemukiman dibersihkan dari puing-puing ganasnya alam ini. Sampai dengan saat ini masih banyak perkampungan yang berserakan tertimbun material banjir.
Kapan infrastuktur yang porak-poranda mampu diperbaiki. Apakah dua atau tiga tahun lagi, itu juga tidak ada kepastian. Lantas kapan ayah kami akan memperhatikan perbaikan ekonomi kami yang katanya akan dibantu?
Kalau kami sendiri yang menata sumber penghidupan kami, rasanya tidak mampu dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Untuk saat ini, kami sebagian korban amukan alam ini, sudah mampu bertahan hidup, itu merupakan anugerah yang luar biasa.
Namun kami para korban amukan alam ini tidak mengenal putus asa. Tetap berusaha apa yang mampu kami lakukan, demi anak dan istri, walau ada kalanya yang kami jalani dalam incaran maut. Insfratruktur yang hancur-hancuran dengan tantangan nyawa harus kami lalui demi sesuap nasi.
Daripada mati hari ini, lebih baik kami mati besok, atau terkapar di tengah jalan. Itu lebih baik daripada kami berdiam diri. Kami menyakini Tuhan akan memudahkan perjuangan hambaNya. Ada linangan air mata di malam yang pekat ketika kami bermunajad doa.
Kami melihat kemiskinan massal ada di depan mata. Namun sebagai hamba kami tetap berusaha. Walau kemampuan kami terbatas. Karena keterbatasan, kami sangat membutuhkan seorang ayah sejati yang mampu membasuh luka, agar prahara ini mampu kami lalui.
Sebagai korban dari amukan bencana, tidak salah rasanya bila kami memohon kepada ayah kami yang dengan kekuatanya mampu mengubah keadaan. Alihkanlah dana untuk MBG sepekan saja, untuk memperbaiki keadaan kami yang tertimpa derita.
Kami membutuhkan ayah sejati, ayah yang rela tubuhnya tertusuk belati, rela dihujani panah. Ayah yang rela menggadaikan nyawanya, demi buah hatinya. Demi anak bangsa yang sedang berbalut duka. Ayah yang rela menderita asalkan anaknya tidak sengasara.
Kami rindu sosok ayah yang mampu menghapus air hangat dari indra penglihatan kami. Kami rindu ayah sejati. [**]
Penulis: Bahtiar Gayo (Pimred Dialeksis.com/korban hidrometeorologi)