DIALEKSIS.COM | Kolom - Beberapa waktu lalu, saya mendampingi seorang teman ke Lhokseumawe. Sebuah kota yang dengan bangga dulu pernah dijuluki "Petro Dollar." Sebuah julukan yang, ironisnya, kini hanya tersisa pada nama sebuah kafe hipster daripada kenyataan kemakmuran ekonomi warganya.
Mari kita selami saga epik getir ini, sambil menyeruput kopi pahit. Dulu, jutaan dolar melayang di atas kepala warga tempatan. Tapi, kini tersisa hanyalah bayangan kejayaan yang tak lagi se-eksklusif komplek pabriknya. Yang cukup tragis perumahan elit mewah telah berubah fungsi, sekarang laksana ”tempat jin buang anak.”
Fakta menunjukkan bahwa ladang gas Arun pada era kejayaannya, 1980-1990-an, pernah memimpin dunia. Mobil Oil (kemudian Exxon Mobil) datang, menemukan gas alam Arun, awal 1970-an. Lalu, mengubah daerah ini menjadi mesin devisa raksasa bagi NKRI, sementara penduduk sekitar tetap hidup dalam kemiskinan. Bahkan, kuat dugaan pelanggaran HAM terjadi dalam kompleks.
Angka-angka berbicara. PT Arun NGL pada masa puncaknya tahun 1994, bisa mengirim 224 kapal kargo LNG per tahun ke Jepang dan Korea Selatan! Itu bukan main-main. Itu adalah tsunami dollar yang masuk ke kas negara. Rakyat tempatan? Sekali lagi, maaf, tetap dalam kemiskinan.
Mari kita berikan penghargaan kepada Mobil Oil (dan Exxon Mobil) atas filosofi pembangunan mereka yang luar biasa. Hasil bumi dikeruk, gas alam dicairkan, diekspor, dan uangnya? Menguap entah ke mana.
Coba cari satu saja monumen megah di pusat kota Lhokseumawe atau Aceh Utara yang dibangun perusahaan raksasa asal Amerika Serikat itu sebagai tanda terima kasih kepada tanah yang mereka sedot kekayaannya. Tidak ada!
Mobil Oil tampaknya percaya pada konsep "keindahan dalam ketidakhadiran." Mereka menciptakan kompleks perumahan begitu eksklusif, dipagari beton tebal, menjadikannya seolah-olah sebuah negara mini di dalam negara. Ini bukan sekadar kompleks. Ini adalah zona ekonomi eksklusif-minoritas.
Sekolah dan fasilitas olahraga yang mereka bangun? Tentu saja, itu hanya untuk anak-anak pekerja mereka. Warga lokal di luar pagar? Maaf, ini bukan tempat bermain bebas. Ini adalah pelajaran subliminal tentang kelas sosial yang diajarkan tanpa kurikulum.
Mereka telah membuktikan bahwa Anda bisa menjadi penyumbang devisa terbesar di dunia. Tetapi tidak ada kewajiban untuk meninggalkan satu pun gedung perpustakaan umum yang layak. Atau bahkan satu air mancur dramatis di pusat kota. Sebuah mahakarya corporate social responsibility (CSR) yang sangat, sangat minimalis.
Kemudian gas "habis", kontrak berakhir. Exxon Mobil pun dengan anggun mengucapkan selamat tinggal sekitar tahun 2014, dan kota itu kembali. Kembali ke mana? Ke kondisi sebelum mereka datang, minus gas alam. Produksi PT Arun NGL merosot tajam dari 224 kapal pada puncaknya menjadi hanya 22 kapal di tahun 2012, hingga akhirnya berhenti.
Begitu Exxon Mobil hengkang, kota "Petro Dollar" seolah kehilangan catu daya utamanya. Jalanan kota di malam hari? "Redup adalah keindahan," mungkin itu slogan baru pemerintah kota. Lampu jalan remang-remang seolah meratapi masa lalu yang terlalu terang benderang oleh api suar gas.
Namun, di tengah redupnya infrastruktur, muncullah fenomena keajaiban moneter lokal. Turis asing harus bayar hotel dengan cash. Di era transaksi digital, kartu kredit global, dan mata uang kripto, Lhokseumawe, yang pernah mengelola miliaran dollar, ternyata hanya percaya pada uang tunai yang berwujud fisik. Tak berlaku gesekan kartu kredit.
Mungkin ini semacam nostalgia. "Dulu kami berurusan dengan dollar tunai besar, sekarang turis harus menghargai tradisi itu." Tapi, sekarang pakai rupiah.
Puncak dari ironi ini seolah terwujud dalam sebuah kafe di pusat kota, yang dengan bangga menamai dirinya "Petro Dollar."
Julukan kemakmuran global kini hanyalah merek dagang kopi. Di kafe ini, Anda bisa memesan kopi dengan segala varian rasa, merenungkan sejarah kejayaan kota, sambil menunggu makanan berat baru tersedia pukul 17:00.
"Petro Dollar" kini bukan lagi mengenai kekayaan bumi tak ternilai, tapi tentang kenikmatan pahit kopi yang harganya terukur. Ini adalah akhir yang puitis.
Lhokseumawe tak mendapatkan legacy infrastruktur monumental era kejayaan gas. Tapi setidaknya, ia memperoleh warisan spiritual berupa sebuah nama kafe dan kenangan akan pagar beton tinggi yang mengingatkan bahwa kekayaan tak selalu berpihak pada tuan rumah.
Kisah Lhokseumawe adalah dongeng kontemporer tentang sumber daya alam dan pembangunan. Jangan sampai nasib tragis terulang karena saat ini kabarnya Mubadala Petroleum sedang mengebor di lepas pantai Selat Malaka.
Ada pelajaran masa lalu yang bisa dipetik. Ketika raksasa migas datang, mereka mungkin akan membuat kotamu dijuluki "Petro Dollar". Tapi, pastikan kamu punya cetak biru pembangunan yang lebih monumental daripada sekadar nama kafe. Kalau tidak, yang tersisa hanyalah secangkir kopi, dan janji makan malam yang baru tersedia setelah pukul lima sore. Peace...!!!
Penulis: Nurdin Hasan | Jurnalis Freelance