Beranda / Kolom / PKI, Ikan Asin, dan Kematian Umar Teuku Leumiek

PKI, Ikan Asin, dan Kematian Umar Teuku Leumiek

Selasa, 03 Oktober 2023 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bisma Yadhi Putra

Foto: Karikatur tewasnya Umat Teuku Leumiek di lapangan voli yang dimuat dalam majalah "Tempo" edisi 20 Agustus 1988.


DIALEKSIS.COM | Kolom - Pikiran Umar Teuku Leumiek tak pernah lagi tenang setelah satu per satu kawannya dicincang selama peristiwa pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dianggap bersekutu dengan PKI. Meski Umar selamat dari penindasan dan periode kekerasan telah berakhir, ia terus terbenam dalam rasa cemas. Selalu ada pikiran bahwa militer dan massa anti-PKI masih ingin membinasakannya.

Tak kuat lagi menahan rasa cemasnya, Umar akhirnya lari dari rumah pada 1968. Umar merupakan pemuda asal Desa Cot Biek, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Dalam sebuah arsip militer, Jambo Aye disebutkan pernah menjadi lokasi rapat rahasia yang diduga digelar puluhan pengurus PKI Aceh Utara (Laporan Tahunan Lengkap Kodam-I/Kohanda Atjeh Tahun 1965, 1965).

Selang beberapa tahun, Umar tiba-tiba muncul kembali di kampung, tetapi dalam keadaan sudah mengalami sakit jiwa. Tak jelas mengapa ia bisa sampai begitu. Akal sehatnya punah, badannya kurus, pakaian compang-camping. Tahun 1978, Umar pergi ke hutan dan tak pernah pulang ke rumah lagi sejak saat itu.

Umar menjelajah hutan seorang diri sambil mencari apa pun yang dianggapnya patut dimakan. Tak ada yang tahu ia berjalan ke arah mana, sampai akhirnya sebuah peristiwa pilu terjadi sepuluh tahun kemudian.

Misteri Hilangnya Beras dan Ikan Asin

Syailan adalah seorang petani di Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Bersama puluhan transmigran lainnya, ia mulai mendiami lokasi Perkebunan Inti Rakyat di kecamatan itu sejak 1981. Sebagai transmigran, mereka masih sangat bergantung pada jatah makanan yang dibagikan PTP setiap bulannya. Jatah hidup yang paling pokok adalah beras dan ikan.

Belakangan, dua bahan makanan penting ini sering tiba-tiba hilang. Warga yakin ada pencuri yang berulah kala mereka sudah terjatuh dalam tidur malam hari. Syailan dan para tetangga mengeluh sering kehilangan sekitar 2,5 kilogram beras serta beberapa potong ikan asin. Marah dengan keadaan, warga berniat menghukum sekeras-kerasnya si pencuri bila suatu ketika nanti ia tertangkap.

Pada tengah malam 30 Juli 1988, Syailan melihat seorang laki-laki berambut panjang tengah berdiri di dalamnya rumahnya. Dicekik rasa lapar yang berat, laki-laki tak dikenal itu mengambil sepotong kue milik Syailan dan memakannya. Syailan segera menjerit minta pertolongan. Dalam waktu singkat, pintu rumah-rumah terbuka. Puluhan orang bergegas lari ke tempat teriakan berasal.

Si maling diseret ke lapangan voli. Syailan dan kawan-kawan memukuli tubuh kurusnya hingga remuk dan berdarah-darah, memakai kayu dan benda-benda tajam. Setelah si maling mati, mayatnya dibiarkan seharian tergeletak di lapangan voli. Mulutnya disumpal dengan sepotong kue sebagai bentuk penghinaan. Warga tak tahu harus membawa mayatnya ke mana. Tak seorang pun di antara mereka yang tahu alamat si maling.

Salbiah, seorang warga Cot Biek, kampung asal si maling yang sudah mati, punya ladang di dekat lapangan voli tersebut. Kebetulan ia sedang berladang ketika mendengar kabar seorang pencuri semalam ditangkap lalu dibunuh. Salbiah menuju lokasi kejadian dan terkejut melihat mayat itu ternyata seorang kawan lamanya: Umar Teuku Leumiek.

Setelah divisum di RSU Lhokseumawe, jenazah Umar kemudian diantar ke Cot Biek. Sepuluh tahun tak pulang, Umar akhirnya tiba kembali di rumah. Petualangannya sebagai orang yang dahulu terlibat PKI berakhir tragis di lapangan voli, bukan di ladang pembantaian orang-orang komunis.

Kematian Umar rupanya menimbulkan murka warga desa-desa lain yang ada di sekitar permukiman para transmigran tersebut. Mereka tak bisa menerima seorang penderita gangguan jiwa yang cuma mencuri sepotong kue ditindas secara keji. 

“Dibiarkannya mayat Umar tergeletak seharian seraya kue disumpalkan ke mulutnya telah menyinggung nurani mereka,” sebut majalah Tempo edisi 20 Agustus 1988.

Esok harinya, selepas waktu Magrib, puluhan orang yang murka itu diam-diam menerobos ke permukiman tempat Syailan tinggal. Siapa pun yang diduga terlibat dalam pembunuhan Umar mereka pukuli sampai babak belur. Massa juga membakar tiga rumah berdinding papan. Empat orang luka berat dalam penyerbuan itu, termasuk Syailan. Mereka dipukuli berulang-ulang dengan benda tumpul dan senjata tajam. 

Tak ada yang menyangka penyerbuan akan terjadi. Syailan dan kawan-kawan berpikir masalah langsung selesai setelah jenazah Umar dikembalikan ke pihak keluarga. Polisi kemudian menangkap Syailan atas tuduhan sebagai pelaku utama pembunuhan Umar. [**]

Penulis: Bisma Yadhi Putra (Peneliti Sejarah)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda