Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Cuaca Ekstrem, Belasan Pesawat Gagal Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta

Cuaca Ekstrem, Belasan Pesawat Gagal Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta

Selasa, 13 Januari 2026 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Petugas Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Soetta. [Foto: dok. Airnav]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Senin (12/1/2026) pagi berdampak langsung pada operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Kondisi cuaca ekstrem membuat sejumlah pesawat gagal mendarat dan harus dialihkan ke bandara lain demi menjaga keselamatan penerbangan.

AirNav Indonesia mencatat, pada rentang waktu pukul 05.00 hingga 10.00 WIB, jarak pandang di seluruh landasan pacu Soekarno-Hatta berada di bawah 1.000 meter. Angka tersebut berada di bawah batas minimum pendaratan pesawat. Akibatnya, lalu lintas kedatangan di wilayah udara Jakarta mengalami kepadatan signifikan.

“Dalam kondisi seperti ini, kami tidak bisa memaksakan pendaratan karena sangat berisiko. Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama,” ujar EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro, dalam keterangan resminya.

Ia menjelaskan, petugas Air Traffic Controller (ATC) menginstruksikan pesawat untuk melakukan holding dengan durasi antara 40 menit hingga satu jam. Pada saat bersamaan, sekitar 15 pesawat tercatat berputar di udara, sementara 16 penerbangan lainnya dialihkan ke bandara alternatif di sejumlah daerah, seperti Semarang, Yogyakarta, Palembang, hingga Halim Perdanakusuma.

Hermana menegaskan, prosedur go-around, holding, hingga pengalihan pendaratan merupakan langkah standar dalam dunia penerbangan internasional. 

“ATC memberikan rekomendasi berdasarkan informasi cuaca dan lalu lintas udara, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan pilot demi keselamatan,” katanya.

Untuk mengantisipasi kepadatan yang lebih parah, AirNav Indonesia juga menerapkan pengaturan interval keberangkatan serta ground delay di beberapa bandara asal. Koordinasi intensif dilakukan dengan BMKG dan pengelola bandara alternatif agar proses pengalihan berjalan aman dan terkendali. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI