DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dosen Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informatika (PTI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Zuhra Sofyan, M.Sc., terpilih sebagai salah satu peserta Google DeepMind Accelerator: AI for the Planet Asia Pacific (APAC) 2026.
Zuhra terpilih bersama Tim GeoFlux, sebuah inisiatif Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Aceh yang dikembangkan melalui kolaborasi bersama konsorsium UIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (USK).
GeoFlux mengembangkan sistem prediksi banjir berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang ditujukan untuk kawasan Aceh.
Dalam tim tersebut, Zuhra berperan sebagai AI Specialist yang mewakili UIN Ar-Raniry. Tim GeoFlux juga melibatkan Zakiul Fuady, M.Sc., selaku Head of Policy & Advocacy YEL Aceh sekaligus inisiator, serta Rizal Wahyudi, M.Si., dari USK yang berkontribusi dalam riset data dan kecerdasan buatan.
“Keterlibatan kami dalam program ini menjadi kesempatan penting untuk mengembangkan teknologi AI yang tidak hanya unggul dari sisi teknologi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam menghadapi risiko banjir di Aceh,” kata Zuhra kepada Dialeksis.com, Minggu (13/9/2026).
Menurut Zuhra, pengembangan GeoFlux tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat dan mendukung kelestarian lingkungan di Aceh.
“Yang kami harapkan, teknologi ini nantinya dapat memberikan dukungan yang lebih baik dalam memprediksi dan menghadapi potensi banjir di Aceh. Karena itu, kolaborasi antara akademisi, peneliti data dan pegiat lingkungan menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Tim GeoFlux terpilih sebagai salah satu dari 16 organisasi dari 680 pendaftar di kawasan Asia Pasifik yang mengikuti program Google DeepMind Accelerator: AI for the Planet APAC 2026.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi peluang penting untuk memperkuat pengembangan inovasi AI dari Aceh agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
“Ini bukan hanya tentang pencapaian individu atau institusi, tetapi bagaimana kolaborasi ini bisa melahirkan solusi nyata untuk masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Program akselerasi tersebut berlangsung selama tiga bulan. Kegiatan diawali dengan bootcamp yang digelar di Google Asia Pacific Headquarters, Singapura, pada 7-11 September 2026.
Zuhra berharap rangkaian program tersebut dapat semakin mematangkan pengembangan GeoFlux sekaligus membuka peluang kolaborasi dan pengembangan teknologi yang lebih luas untuk mendukung ketahanan serta keberlanjutan Aceh.
“From Aceh to a Greener Tomorrow,” pungkas Zuhra.