Minggu, 23 Agustus 2026
Beranda / Berita / Nasional / Menag Kukuhkan 10.000 Guru Al-Qur’an, Target Bebas Buta Huruf dalam 3 Tahun

Menag Kukuhkan 10.000 Guru Al-Qur’an, Target Bebas Buta Huruf dalam 3 Tahun

Minggu, 23 Agustus 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta, Sabtu (22/8/2026). [Foto: Humas Kemenag]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar optimistis Indonesia dapat terbebas dari buta huruf Al-Qur’an dalam tiga tahun. Optimisme itu disampaikan saat pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an yang akan terlibat dalam gerakan pembelajaran Al-Qur’an di berbagai daerah.

Nasaruddin mengatakan, keberadaan 10.000 guru Al-Qur’an menjadi salah satu kontribusi konkret masyarakat dalam membantu pemerintah mengatasi persoalan buta huruf Al-Qur’an.

“Menurut data statistik, masih ada kurang lebih 60 persen warga umat Islam Indonesia yang buta huruf Al-Qur’an,” ujar Nasaruddin dalam Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Menurut dia, Kementerian Agama tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut sendirian. Karena itu, keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dinilai penting untuk memperluas jangkauan pembelajaran Al-Qur’an.

Nasaruddin mengapresiasi kontribusi Wahdah Islamiyah melalui pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an. Ia menilai para guru tersebut dapat menjadi penggerak pembelajaran Al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Kontributor yang paling konkret adalah Wahdah Islamiyah menyumbangkan 10.000 pembebas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia,” katanya.

Ia kemudian memperkirakan dampak yang dapat dihasilkan apabila setiap guru mengajarkan Al-Qur’an kepada 10 orang.

“Kalau 10 ribu guru Al-Qur’an, setiap orangnya membebaskan 10 orang dari buta huruf Al-Qur’an, maka kita akan punya kader. 10 ribu guru kali 10 murid,” ujar Nasaruddin.

Menurut dia, pembelajaran dasar membaca huruf Al-Qur’an dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat. Dengan gerakan yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak, ia optimistis target Indonesia bebas buta huruf Al-Qur’an dapat tercapai.

“Dalam tempo insya Allah paling lambat belajar huruf Al-Qur’an tiga bulan. Saya yakin insya Allah dalam tempo tiga tahun Indonesia akan bebas daripada buta huruf Al-Qur’an,” tambahnya.

Guru Al-Qur’an Diminta Bentuk Karakter

Nasaruddin juga mengingatkan para guru Al-Qur’an agar tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca. Menurut dia, guru memiliki peran lebih luas dalam membentuk karakter peserta didik.

“Guru Al-Qur’an tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk karakter peserta didik,” tuturnya.

Ia berharap para guru tidak sekadar mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu memberikan keteladanan dan menyentuh sisi batin para murid.

“Semoga tentu kita tidak hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi kita juga berharap semoga para guru ini berhasil menembus batin-batin para muridnya sebagai seorang guru,” kata Nasaruddin.

Ajak Rawat Indonesia sebagai Bangsa Moderat

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengajak para guru Al-Qur’an ikut menjaga Indonesia sebagai bangsa yang moderat.

Ia menilai nilai-nilai moderasi beragama dan kekuatan ajaran agama tidak perlu dipertentangkan. Keduanya, kata dia, dapat berjalan beriringan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mari kita merawat Indonesia sebagai bangsa yang moderat. Moderat itu jangan dipertentangkan dengan kekuatan syariah kita, kekuatan religi kita,” ujarnya.

“Negara religi atau negara moderat, itu jangan dipertentangkan. Indonesia menggabungkan keduanya,” lanjut Nasaruddin. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
pema - damai
dishub