DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) memperkuat budaya riset melalui peningkatan jumlah mahasiswa pascasarjana, penguatan laboratorium, dan tata kelola penelitian. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi nasional yang lebih terintegrasi.
Brian menilai mahasiswa pascasarjana memiliki posisi strategis dalam pengembangan riset di perguruan tinggi. Karena itu, peningkatan kapasitas pendidikan pascasarjana perlu berjalan beriringan dengan penguatan infrastruktur dan manajemen penelitian.
“Presiden Republik Indonesia berkata bahwa kampus adalah otak dari bangsa kita. Dan mahasiswa pascasarjana adalah aset terbaik untuk riset kita. Saya berharap kampus-kampus bisa terus mengembangkan jumlah mahasiswa pascasarjana, di sanalah riset akan menjadi kuat,” ujar Brian dalam Forum Dialog Strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)-Majelis Senat Akademik (MSA) PTN BH di Gedung Widya Graha BRIN, Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, budaya riset tidak cukup dibangun melalui penambahan aktivitas penelitian. Perguruan tinggi juga perlu memiliki sistem pengelolaan riset yang mendukung dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk menghasilkan penelitian berkualitas serta membuka peluang pemanfaatan hasil penelitian.
PTN BH juga didorong memperluas kerja sama dengan BRIN dan sektor industri. Kolaborasi tersebut dapat membuka jalur agar hasil riset dan inovasi tidak berhenti pada publikasi, tetapi dikembangkan lebih lanjut menjadi solusi dan teknologi yang memiliki manfaat lebih luas.
Penguatan ekosistem riset tersebut telah berjalan melalui sejumlah program kolaborasi BRIN dengan perguruan tinggi. Saat ini, BRIN bekerja sama dengan 14 PTN BH melalui program pendidikan berbasis riset yang melibatkan lebih dari 2.300 mahasiswa.
Sekitar 60 persen peserta program tersebut merupakan mahasiswa S3, menunjukkan besarnya peran pendidikan doktoral dalam pengembangan kapasitas riset nasional. Selain mahasiswa, sebanyak 1.150 peserta berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi.
BRIN juga mencatat lebih dari 630 peserta dalam program riset postdoctoral. Program tersebut menjadi salah satu jalur pengembangan talenta peneliti sekaligus memperkuat mobilitas dan jejaring riset antara lembaga penelitian dan perguruan tinggi.
Kapasitas SDM dan Inovasi Bagian dari Strategi Pembangunan Nasional
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan kapasitas sumber daya manusia dan inovasi memiliki keterkaitan erat dengan daya saing ekonomi. Karena itu, penguatan pendidikan tinggi dan riset perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.
“Sumber daya manusia dan inovasi adalah kunci bagi kemajuan ekonomi semua negara. Perguruan tinggi yang masuk Top 200 dunia, hampir dipastikan memiliki Global Score Innovation Index, GDP per kapita, dan indeks PISA yang tinggi,” ujarnya.
Arif menilai penguatan sumber daya manusia dan pendidikan tinggi akan menjadi fondasi bagi peningkatan kapasitas inovasi dan riset nasional.
Forum BRIN-MSA PTN BH juga membahas perluasan kolaborasi yang tidak hanya mencakup pendidikan berbasis riset. Kerja sama diarahkan pada pengembangan talenta, mobilitas peneliti dan akademisi, pemanfaatan bersama infrastruktur riset, penguatan budaya dan etika akademik, serta pembangunan jejaring riset nasional dan global.
Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sidang Paripurna MSA PTN BH yang diikuti 174 delegasi dari 23 PTN BH. Pertemuan menjadi ruang untuk mempertemukan kapasitas akademik perguruan tinggi dengan infrastruktur dan kompetensi riset BRIN.
Sebagai tindak lanjut, kolaborasi konkret akan diperkuat melalui kerja sama dengan tujuh PTN BH serta 17 perguruan tinggi negeri dan swasta. Penguatan kerja sama tersebut diharapkan membentuk ekosistem riset yang lebih terhubung, mulai dari pengembangan talenta dan penelitian di perguruan tinggi, pemanfaatan infrastruktur riset, hingga pengembangan hasil inovasi bersama mitra industri.
Dengan pola kolaborasi tersebut, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang mendukung kebutuhan pembangunan nasional.