DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pelabuhan Bitung kian menegaskan perannya sebagai simpul utama distribusi logistik dan mobilitas masyarakat di kawasan Timur Indonesia. Sepanjang 2025, pelabuhan ini menjadi salah satu titik krusial penyeberangan antarpulau yang menopang kelancaran arus barang dan penumpang dari dan menuju Sulawesi Utara, Maluku, hingga Maluku Utara.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Heru Widodo mengatakan posisi geografis Bitung yang berada di jalur strategis menjadikannya elemen penting dalam menjaga kesinambungan logistik nasional.
“Bitung berperan sebagai gerbang utama menuju kawasan Timur Indonesia, sehingga kelancaran operasionalnya berdampak langsung pada distribusi barang dan mobilitas masyarakat,” ujar Heru, Rabu (26/1/2026).
ASDP Cabang Bitung saat ini mengoperasikan tiga lintasan komersial dan delapan lintasan perintis dengan dukungan enam kapal. Dua lintasan utama, yakni Bitung-Ternate dan Bitung-Tobelo, menjadi tulang punggung penyeberangan antarpulau yang menghubungkan pusat produksi, konsumsi, dan distribusi di kawasan Timur.
Data ASDP Cabang Bitung menunjukkan sepanjang Januari-Desember 2025 lintasan Bitung-Ternate melayani 19.969 penumpang dan 15.707 kendaraan. Adapun lintasan Bitung-Tobelo mencatat 1.578 penumpang dan 2.600 kendaraan. Angka tersebut mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan penyeberangan untuk aktivitas ekonomi dan logistik.
General Manager ASDP Cabang Bitung Sigit Purwanto menyebut aktivitas tersebut turut ditopang oleh distribusi komoditas unggulan, terutama hasil perikanan dan pertanian.
“Distribusi ikan seperti cakalang dan tuna dari Bitung, serta komoditas kelapa dari Ternate dan Tobelo, berjalan lebih efisien melalui lintasan ini,” kata Sigit.
Selain logistik, konektivitas penyeberangan juga mendorong pergerakan sektor pariwisata antardaerah. ASDP menargetkan peningkatan kualitas layanan di Pelabuhan Bitung guna memperkuat peran pelabuhan sebagai penggerak ekonomi kawasan Timur Indonesia. [in]