Beranda / Berita / Nasional / Presiden Jokowi Minta Tes Swab dan Rapid Test Dipercepat

Presiden Jokowi Minta Tes Swab dan Rapid Test Dipercepat

Senin, 06 April 2020 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Joko Widodo 


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta tes swab dengan metode polymerase chain reaction ( PCR) dan rapid test dipercepat untuk mengetahui jumlah riil pasien positif di Indonesia.

Menurut Presiden Jokowi, jumlah riil pasien positif itu penting untuk mengambil tindakan secepatnya dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia. 

"Kecepatan pemeriksaan di laboratorium agar didorong lagi, ditekan lagi agar lebih cepat. Kita harapkan dengan kecepatan itu, kita bisa mengetahui siapa yang telah positif dan siapa yang negatif," ujar Presiden Jokowi dalam rapat terbatas melalui sambungan konferensi video, Senin (6/4/2020).

Ia pun meminta PCR dan rapid test didahulukan bagi orang yang berisiko tinggi tertular Covid-19, antara lain tenaga kesehatan, pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP). 

"Kemudian yang ketiga mengenai kecepatan. Saya betul-betul minta agar tes PCR, pelaksanaan rapid test ini diberikan prioritas untuk orang-orang yang berisiko tinggi. Baik itu dokter dan keluarganya sekali lagi, untuk yang PDP, untuk yang ODP," lanjut Presiden Jokowi. 

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto menyatakan, hingga saat ini sebanyak 9.712 spesimen terkait Covid-19 telah diuji. 

"Per 5 April kami sudah periksa 9.712 warga yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dari pusat hingga daerah dalam menegakkan diagnosis," ujar Yuri saat memberikan keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta, Minggu (5/4/2020).

Pemeriksaan spesimen penting bagi pemerintah untuk terus mendeteksi jumlah pasien positif Covid-19. Jika proses deteksi berjalan lancar, maka proses pemutusan mata rantai penularan Covid-19 menjadi lebih mudah. 

"Ini penting. Mari kita sadari bersama bahwa keberadaan kasus positif menjadi sumber penularan di masyarakat. Karena itu segera kita cari, temukan, dan isolasi," kata Achmad Yurianto dikutip dari Kompas.

Berdasarkan data di situs Kementerian Kesehatan, 9.712 spesimen merupakan data yang didapat hingga 4 April 2020 pukul 17.00 WIB. Jumlah ini tentunya terbilang sedikit, mengingat pentingnya jumlah tes yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan Covid-19 di masyarakat. 

Sebagai pembanding, hingga saat ini negeri tetangga Malaysia sudah melakukan tes Covid-19 sebanyak 51.937 spesimen hingga 5 April 2020. Jika dibandingkan dengan negara lain yang memang dikenal mengedepankan tes massal, yakni Korea Selatan, jumlah spesimen yang diperiksa di Indonesia sangat jauh tertinggal. Misalnya, Korea Selatan hingga 5 April 2020 sudah menguji 461.233 spesimen.

Keyword:


Editor :
Zulkarnaini

riset-JSI
Komentar Anda