Beranda / Berita / Nasional / Tahun 2022, LAPAN Prediksi Puncak Siklus Matahari

Tahun 2022, LAPAN Prediksi Puncak Siklus Matahari

Kamis, 07 Oktober 2021 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

LAPAN memprediksi siklus Matahari akan mendekati puncak pada 2022 sehingga membuat aktivitas bintang itu berpotensi meningkat dan memicu badai Matahari. [Foto: NASA]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengungkapkan siklus Matahari akan mendekati puncak pada 2022. Kondisi itu disebut akan membuat aktivitas bintang itu berpotensi meningkat dan memicu badai Matahari.

"Pada tahun 2022, diperkirakan siklus Matahari akan mendekati puncak siklus, sehingga aktivitas Matahari kemungkinan akan semakin meningkat. Pada keadaan seperti ini, besar kemungkinan akan terjadi peningkatan frekuensi kemunculan flare dan lontaran massa korona, serta peningkatan kecepatan angin surya di Matahari akibat banyaknya aktivitas transien di Matahari," demikian paparan LAPAN dalam Webinar Cuaca Antariksa: Riset, Layanan dan Manfaatnya yang berlangsung secara daring, seperti dikutip dari situs resmi LAPAN.

Kemudian, peningkatan aktivitas matahari itu akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap cuaca antariksa, terutama perubahan kerapatan plasma di lingkungan antariksa dekat bumi. Kondisi cuaca antariksa itu juga akan memengaruhi satelit-satelit yang mengorbit bumi, khususnya satelit yang berada di orbit rendah.

Selain itu, aktivitas Matahari ekstrem itu dapat melepaskan partikel berenergi tinggi sehingga menyebabkan single event effect (SEE) yang dapat mengganggu performa komponen elektronika satelit.

LAPAN menyatakan akan terus berupaya untuk memprediksi cuaca antariksa, termasuk prediksi kejadian badai Matahari, badai geomagnet, dan gangguan ionosfer yang dapat mengganggu penjalaran gelombang radio. Prakiraan kondisi di Matahari yang diberikan oleh LAPAN berupa prakiraan kemunculan daerah aktif sebelum tampak dari bumi, flare, angin surya, proton dan elektron berenergi tinggi, serta kondisi di ionosfer dan geomagnet secara umum.

LAPAN dalam keterangannya juga menyampaikan, Prakiraan kondisi Matahari dan cuaca antariksa ini dikembangkan berdasarkan hasil penelitian secara bertahun-tahun dan sebagian beroperasi secara otomatis dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (machine learning). Melalui layanan Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS), para peneliti LAPAN melakukan analisis data-data cuaca antariksa serta menyampaikan hasil laporan kondisi cuaca antariksa secara harian.

LAPAN menyampaikan badai Matahari, khususnya CME, yang menghantam Bumi dapat memicu terjadinya badai geomagentik.

Selain itu, arus induksi geomagnetik (GIC) juga dapat timbul akibat adanya terjangan partikel berenergi tinggi dari Matahari yang berasal dari CME atau angin Surya berkecepatan tinggi. GIC ini dapat memiliki kuat arus rata-rata sebesar 10-15 A dan dapat mencapai 100 A dalam waktu beberapa menit.

Arus listrik sebesar ini dapat mengalir melalui jaringan listrik tegangan tinggi dan merusak trafo yang beroperasi pada jaringan tersebut.

Dikutip dari Phys.org, fisikawan surya Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA), David Hathaway, menyatakan Siklus Matahari 25 yang mencapai puncak pada 2022 mendatang bisa menjadi salah satu yang terlemah selama berabad-abad.LAPAN Prediksi Puncak Siklus Badai Matahari Terjadi di 2022


Baca artikel CNN Indonesia "LAPAN Prediksi Puncak Siklus Badai Matahari Terjadi di 2022" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20211007064805-199-704431/lapan-prediksi-puncak-siklus-badai-matahari-terjadi-di-2022/2.


Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/Siklus Matahari 25 adalah saat visi eksplorasi luar angkasa harus mekar secara penuh. Siklus yang lemah artinya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang semburan Matahari dan badai radiasi.

Di sisi lain, sinar kosmik harus lebih dikhawatirkan. Sinar kosmik adalah partikel berenergi tinggi dari luar angkasa; mereka menembus logam, plastik, daging dan tulang. Astronot yang terpapar sinar kosmik mengembangkan peningkatan risiko kanker, katarak, dan penyakit lainnya. Ironisnya, letupan Matahari yang menghasilkan radiasi, menyapu sinar kosmik yang bahkan lebih mematikan. (CNN Ind)

Keyword:


Editor :
Alfatur

riset-JSI
Komentar Anda