DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah atau akrab disapa Dek Fadh, mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke - 43 Tahun 2026 sebagai titik tolak membangun kebiasaan hidup aktif, sehat, dan bugar.
Menurutnya, semangat “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar” harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang tumbuh dari keluarga, sekolah, tempat kerja, komunitas hingga gampong-gampong di seluruh Aceh.
“Haornas tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Olahraga harus menjadi kebutuhan dan bagian dari gaya hidup masyarakat. Tidak harus selalu dilakukan di stadion atau dengan perlengkapan mahal. Berjalan kaki, berlari, bersepeda, senam maupun permainan tradisional dapat menjadi pilihan untuk menjaga kebugaran,” kata Dek Fadh kepada Dialeksis saat diminta tanggapan.
Ia menegaskan, olahraga bukan hanya berkaitan dengan prestasi dan medali. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur juga berperan membentuk masyarakat yang sehat, disiplin, produktif, tangguh, dan memiliki semangat kebersamaan.
“Jika masyarakat sehat dan bugar, produktivitas akan meningkat. Anak-anak dapat belajar lebih baik, aparatur bekerja lebih optimal, dan masyarakat juga memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Karena itu, olahraga adalah investasi jangka panjang bagi pembangunan Aceh,” ujarnya.
Dek Fadh menilai Aceh memiliki modal besar dalam membangun ekosistem olahraga. Pengalaman menjadi tuan rumah PON XXI Aceh-Sumatera Utara pada 2024 telah meninggalkan pengalaman penyelenggaraan, semangat masyarakat, serta sejumlah fasilitas olahraga yang perlu terus dirawat dan dimanfaatkan.
“Warisan PON harus tetap hidup. Fasilitas yang telah dibangun perlu dikelola secara baik, digunakan untuk pembinaan atlet, pelaksanaan kompetisi, dan sejauh memungkinkan dibuka sebagai ruang olahraga masyarakat,” katanya.
Menurut Dek Fadh, pembangunan olahraga masyarakat dan pembinaan olahraga prestasi harus berjalan beriringan. Budaya berolahraga yang tumbuh secara luas akan memperbesar peluang munculnya bibit-bibit atlet dari sekolah, dayah, gampong, serta berbagai komunitas di daerah.
Ia mendorong sekolah dan lembaga pendidikan menyediakan ruang yang lebih luas bagi aktivitas olahraga. Kompetisi yang sehat dan berjenjang juga perlu diperbanyak agar anak-anak Aceh memiliki kesempatan mengembangkan bakat sejak dini.
“Prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Dibutuhkan pembinaan yang konsisten, pelatih yang kompeten, kompetisi yang teratur, fasilitas yang layak, serta dukungan terhadap kesejahteraan atlet. Kita ingin anak-anak Aceh melihat olahraga sebagai ruang untuk berprestasi dan membangun masa depan,” tegasnya.
Dek Fadh juga mengingatkan pentingnya menghadirkan ruang olahraga yang aman dan inklusif bagi perempuan, anak-anak, warga lanjut usia, serta penyandang disabilitas. Menurutnya, setiap warga berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk hidup aktif dan sehat.
Pemerintah kabupaten dan kota, kata dia, diharapkan menghidupkan kegiatan olahraga masyarakat hingga tingkat gampong. Ruang terbuka, lapangan desa, halaman sekolah, dan fasilitas publik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan rutin yang murah serta mudah dijangkau masyarakat.
“Gerakan masyarakat aktif dan bugar memerlukan kolaborasi. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. KONI, organisasi cabang olahraga, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan keluarga harus bergerak bersama,” katanya.
Selain berdampak terhadap kesehatan, Dek Fadh melihat olahraga dapat menggerakkan ekonomi daerah. Penyelenggaraan kompetisi, wisata olahraga, industri perlengkapan, usaha kuliner, dan kegiatan komunitas berpotensi menciptakan perputaran ekonomi sekaligus mempromosikan Aceh.
Ia berharap peringatan Haornas 2026 melahirkan perubahan kebiasaan, bukan sekadar rangkaian kegiatan sesaat.
“Mari mulai dari diri sendiri dan keluarga. Sisihkan waktu untuk bergerak dan berolahraga. Masyarakat yang aktif dan bugar adalah fondasi bagi Aceh yang sehat, produktif, berdaya saing, dan berprestasi,” pungkas Dek Fadh. [ra]