Sabtu, 18 Juli 2026
Beranda / Gaya Hidup / Olah Raga / Dituding Dibantu Wasit, Messi: Argentina Tidak Diberi Apa Pun

Dituding Dibantu Wasit, Messi: Argentina Tidak Diberi Apa Pun

Sabtu, 18 Juli 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Kapten Argentina, Lionel Messi. Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto


DIALEKSIS.COM | Atlanta - Kapten Argentina, Lionel Messi, akhirnya buka suara terkait tudingan bahwa timnya mendapatkan keuntungan dari sejumlah keputusan wasit dalam perjalanan menuju final Piala Dunia 2026.

Messi menolak keras anggapan bahwa keberhasilan Argentina menembus partai puncak tidak terlepas dari bantuan wasit maupun keberpihakan Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA.

Pemain berusia 39 tahun itu menegaskan bahwa pencapaian Argentina merupakan hasil kerja keras dan konsistensi tim dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami telah menjadi yang terbaik selama empat tahun terakhir, suka atau tidak suka, dan apa pun yang dikatakan orang lain,” kata Messi setelah Argentina menyingkirkan Inggris pada babak semifinal.

Menurut Messi, keberhasilan La Albiceleste mempertahankan performa di level tertinggi membuktikan bahwa berbagai prestasi yang mereka raih bukanlah sebuah kebetulan.

“Hal itu membuktikan bahwa semua yang telah kami lakukan bukan kebetulan. Tidak ada yang diberikan kepada kami begitu saja,” ujarnya.

Argentina memastikan tempat di final setelah mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 pada laga semifinal yang berlangsung di Atlanta, Rabu (15/7/2026). Tim asuhan Lionel Scaloni selanjutnya dijadwalkan menghadapi Spanyol dalam perebutan trofi Piala Dunia 2026.

Namun, perjalanan Argentina sejak babak penyisihan grup hingga fase gugur diwarnai sejumlah keputusan kontroversial. Kondisi tersebut memunculkan tudingan di media sosial bahwa sang juara bertahan mendapatkan perlakuan khusus dari perangkat pertandingan.

Kontroversi pertama mencuat ketika Argentina menghadapi Aljazair pada babak grup. Messi tertangkap kamera melakukan pelanggaran terhadap kapten Aljazair, Aïssa Mandi. Namun, wasit tidak memberikan kartu kepada bintang Inter Miami tersebut.

Sorotan semakin tajam ketika Argentina menghadapi Mesir pada babak 16 besar. Dalam pertandingan tersebut, sebuah gol Mesir dianulir setelah peninjauan video assistant referee atau VAR. Mesir juga mempersoalkan keputusan wasit yang tidak memberikan penalti dalam salah satu insiden di area pertahanan Argentina.

Argentina akhirnya membalikkan keadaan dan memenangkan pertandingan dengan skor 3-2 setelah sebelumnya tertinggal dua gol. Sejumlah keputusan dalam laga tersebut kemudian memicu perdebatan luas mengenai konsistensi penggunaan VAR.

Perdebatan kembali terjadi pada babak perempat final melawan Swiss. Penyerang Swiss, Breel Embolo, mendapat kartu merah setelah wasit meninjau tayangan VAR. Argentina kemudian memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan menang 3-1 melalui babak perpanjangan waktu.

Meski demikian, hingga kini tidak terdapat bukti resmi yang menunjukkan FIFA atau perangkat pertandingan sengaja membantu Argentina. Perdebatan yang berkembang lebih banyak berpusat pada penafsiran terhadap keputusan wasit dan penerapan VAR dalam sejumlah pertandingan.

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, juga membantah timnya memperoleh perlakuan istimewa. Ia menilai teknologi VAR membuat keberpihakan secara terang-terangan semakin sulit dilakukan.

“Pembicaraan mengenai ‘bantuan’ akan selalu ada dan itu tidak mengganggu saya. Dengan VAR saat ini, sangat sulit bagi siapa pun untuk mendapatkan bantuan. Kami tahu tidak ada bantuan,” kata Scaloni.

Scaloni menegaskan keberhasilan Argentina mencapai final merupakan buah dari perjuangan para pemain dalam menghadapi tekanan, kritik, dan pertandingan-pertandingan sulit sepanjang turnamen.

Argentina kini berpeluang mempertahankan gelar juara dunia sekaligus menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu menjuarai Piala Dunia secara beruntun.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI