Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / Ketika Kemarahan Menurunkan Kecerdasan Publik

Ketika Kemarahan Menurunkan Kecerdasan Publik

Sabtu, 03 Januari 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Syukurdi M

Dr. Syukurdi M, S. Sos.I, M. Pd Akademisi dan penggiat sosial. Foto: Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Opini - Setiap kali bencana kembali melanda Aceh, satu pola selalu berulang yaitu kemarahan publik meledak. Media sosial dipenuhi tuduhan, asumsi, dan narasi kebencian yang sering kali lahir lebih cepat daripada data. Banyak pihak menilai reaksi ini sebagai sikap emosional berlebihan atau kegagalan nalar masyarakat. Namun, jika ditinjau dari sudut pandang neuroscience, kemarahan publik Aceh justru mencerminkan sesuatu yang lebih dalam, dimana otak kolektif yang terlalu lama dipaksa bertahan hidup dalam tekanan. 

Seperti ditulis ahli saraf Joseph LeDoux, “Emotional responses can be formed without conscious awareness, bypassing the thinking brain.” Emosi bisa muncul lebih cepat daripada kesadaran rasional.

Dalam kondisi normal, manusia mengandalkan prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam berpikir rasional, menimbang sebab akibat, dan mengendalikan impuls. Namun saat stres berat dan berulang terjadi, seperti bencana alam yang terus datang tanpa pemulihan yang cepat, pusat emosi di otak, yaitu amigdala, menjadi hiperaktif. Amigdala bertugas mendeteksi ancaman. Ketika ia mengambil alih kendali, otak tidak lagi memprioritaskan logika, melainkan keselamatan. Respons yang muncul adalah marah, curiga, dan menyederhanakan realitas menjadi “siapa yang salah”. 

Daniel Goleman menggambarkan kondisi ini dengan tegas: “When emotions overwhelm the brain, reason can be rendered temporarily ineffective.”

Inilah yang dikenal dalam ilmu saraf sebagai amygdala hijack. Dalam kondisi ini, kemarahan bukan pilihan sadar, melainkan refleks biologis. Otak publik tidak sedang menganalisis kebijakan, tata kelola hutan, atau kompleksitas bencana ekologis, melainkan bereaksi terhadap rasa terancam yang berulang. 

Antonio Damasio mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk rasional murni: “We are not thinking machines that feel, we are feeling machines that think.” Bencana bukan hanya peristiwa fisik, tetapi pemicu ingatan kolektif akan kehilangan, ketidakpastian, dan ketidakberdayaan yang belum pernah benar-benar pulih.

Masalahnya, emosi tinggi tidak datang sendirian. Stres kronis memicu pelepasan kortisol dalam jangka panjang. Hormon ini, jika terus-menerus tinggi, melemahkan fungsi prefrontal cortex. Akibatnya, kapasitas kognitif publik menurun: kemampuan memilah informasi berkurang, toleransi terhadap perbedaan pendapat menyempit, dan asumsi terasa lebih meyakinkan daripada fakta. Robert Sapolsky menjelaskan dampak ini secara lugas, ia mengungkapkan,"Chronic stress impairs cognition, weakens impulse control, and narrows perspective.” Di sinilah muncul persepsi bahwa kecerdasan publik “menurun”, padahal yang terjadi adalah gangguan sementara akibat tekanan emosional berkepanjangan.

Kondisi ini diperparah oleh media sosial. Platform digital memberi ruang pelampiasan emosi instan sekaligus ganjaran kimiawi berupa dopamin. Konten bernada marah, tuduhan keras, dan narasi kebencian memberi sensasi lega sesaat. Otak belajar bahwa kemarahan menghasilkan validasi. Maka, kemarahan diulang, dibagikan, dan diperkuat. Jonathan Haidt menyebut fenomena ini dengan kalimat terkenal yakni “The emotional tail wags the rational dog.” Nalar sering kali hanya mengikuti emosi, bukan mengarahkannya.

Di sinilah bahaya terbesar muncul. Saat marah, publik paling rentan terhasut oleh narasi kebencian yang tidak berdasar, hanya asumsi yang dibungkus keyakinan. Tuduhan yang belum diverifikasi menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Bukan karena masyarakat tidak peduli pada kebenaran, tetapi karena otak sedang tidak berada dalam kondisi optimal untuk mencarinya. Sherry Turkle mengingatkan bahwa teknologi “amplifies our emotional states but weakens our capacity for reflection.” Media sosial memperbesar emosi, sekaligus memperkecil ruang jeda berpikir.

Karena itu, ajakan untuk menahan diri bukanlah seruan moral kosong, melainkan kebutuhan biologis. Menjauh sejenak dari media sosial saat marah, tidak segera merespons atau membagikan konten yang sumbernya tidak jelas, adalah bentuk perlindungan terhadap nalar publik. Cal Newport menulis, “Clarity emerges from space, not from constant reaction.” Kejernihan berpikir lahir dari jeda, bukan dari reaksi tanpa henti.

Kemarahan publik Aceh adalah sinyal penting bahwa ada luka struktural dan ekologis yang belum disembuhkan. Namun kemarahan yang dibiarkan tanpa kendali justru berisiko merusak alat terpenting untuk perubahan: kecerdasan kolektif. seluruh energi, kecerdasan dan upaya kita harus terfokus pada korban bencana, bukan sebaliknya terdistraksi oleh asumsi liar yang dibangun diatas amarah. Jika kemarahan ingin menjadi energi perbaikan, bukan bara yang membakar nalar, maka ia harus disertai kesadaran. Kesadaran bahwa di saat emosi memuncak, kita paling mudah salah arah. Dan bahwa menjaga akal sehat di tengah marah bukan kelemahan, melainkan bentuk sikap yang paling bijak dan bermartabat sebagai mahluk yang berakal.

Penulis: Dr. Syukurdi M, S. Sos.I, M. Pd Akademisi dan penggiat sosial. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI