Senin, 26 Oktober 2026
Beranda / Opini / Mahalini Berhijab, Aceh Jangan Cuma Viral

Mahalini Berhijab, Aceh Jangan Cuma Viral

Senin, 26 Oktober 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Khairul Ridha

Khairul Ridha, Perencana Bappeda Aceh. [Foto: HO/dokumen untuk dialeksis.com]


Dari Panggung Konser ke Perputaran Ekonomi: Membaca Peluang Event dengan Kacamata Perencana Pembangunan Aceh

DIALEKSIS.COM | Opini - Penampilan Mahalini saat tampil di Banda Aceh pada 18 Oktober 2026 menyisakan cerita yang lebih luas daripada kemeriahan sebuah konser. Penyanyi yang dikenal dengan lagu-lagu populernya itu tampil mengenakan hijab, dan penampilannya segera menjadi perbincangan publik. Di media sosial, perhatian tidak hanya tertuju pada suaranya, tetapi juga pada pashmina bernuansa cokelat yang dikenakannya. 

Bagi Gen Z, ini bukan sekadar penampilan panggung. Ada outfit, ada tren, ada rasa penasaran, dan tentu saja ada potensi pasar yang bisa ikut bergerak.

Dari sudut pandang pembangunan daerah, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar siapa yang paling cepat mengunggah foto atau video konser tersebut: setelah viral, apa yang sebenarnya didapatkan Aceh? Apakah perhatian publik itu berhenti sebagai percakapan di media sosial, atau mampu berubah menjadi transaksi, lapangan kerja, peningkatan pendapatan UMKM, dan daya tarik wisata yang lebih kuat?

Di era ketika satu penampilan dapat menyebar ke berbagai platform digital dalam hitungan menit, perhatian publik sesungguhnya merupakan aset ekonomi. Namun, attention is not the same as economic impact. Viral belum tentu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat setempat. Tanpa strategi, kesiapan pelaku usaha, dan perencanaan yang terhubung, Aceh berisiko hanya menjadi tempat berlangsungnya acara, sementara peluang bisnis yang muncul justru lebih dahulu ditangkap pelaku usaha dari luar daerah.

Lihat saja fenomena hijab Mahalini. Ketika pashmina yang dikenakan seorang figur publik menjadi perbincangan, muncul peluang bagi industri fesyen muslim untuk membaca selera konsumen. Warna, bahan, model, dan cara memadupadankan busana dapat menjadi inspirasi bagi produk baru. Aceh memiliki penjahit rumahan, perajin, desainer muda, pedagang hijab, hingga pelaku UMKM fesyen yang bisa menangkap momentum tersebut.

Bayangkan jika perhatian terhadap pashmina cokelat itu tidak berhenti pada aktivitas scrolling, komentar, dan berburu referensi di media sosial. Pelaku UMKM Aceh bisa mengembangkan koleksi hijab dengan karakter serupa, memperkuat identitas merek lokal, membuat konten pemasaran yang kreatif, dan menawarkan produk melalui kanal digital. Bukan dengan mengklaim produknya sama dengan yang dikenakan Mahalini, melainkan dengan membaca tren secara cerdas dan menerjemahkannya menjadi produk yang punya daya saing.

Tentu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa penampilan Mahalini telah meningkatkan penjualan hijab di Aceh. Itu membutuhkan data. Namun, fenomena tersebut layak dibaca sebagai market signal, sebuah sinyal tentang minat pasar yang bisa ditindaklanjuti. Pertanyaannya, apakah UMKM kita sudah cukup siap merespons perubahan selera konsumen, atau masih menunggu tren menjadi besar sebelum ikut masuk ke pasar?

Peluang itu tidak hanya berada pada hijab dan fesyen muslim. Konser juga menciptakan rantai aktivitas ekonomi yang lebih luas, mulai dari transportasi, penginapan, kuliner, perdagangan, jasa kreatif, hingga promosi destinasi wisata. Penonton yang datang dari luar Banda Aceh berpotensi membelanjakan uang untuk makan, menginap, membeli oleh-oleh, dan mengunjungi tempat wisata. Tetapi semua itu tidak terjadi secara otomatis. Pengunjung bisa saja datang hanya untuk menonton, lalu langsung pulang. Artinya, tantangan pembangunan bukan sekadar mendatangkan keramaian, melainkan memperpanjang aktivitas ekonomi yang tercipta di sekitarnya.

Data ekonomi Triwulan II 2026 memberikan konteks yang menarik untuk membaca peluang tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB Aceh atas dasar harga berlaku mencapai Rp69,69 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,86 persen secara tahunan. Struktur ekonomi Aceh masih didominasi pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 31,16 persen. Sementara itu, perdagangan besar dan eceran menyumbang 15,35 persen serta transportasi dan pergudangan sebesar 7,12 persen terhadap PDRB Aceh.

Angka-angka ini memperlihatkan bahwa perdagangan dan mobilitas memiliki posisi penting dalam perekonomian Aceh. Bagi perencana pembangunan, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana mendatangkan keramaian melalui konser atau festival, melainkan bagaimana momentum tersebut dapat memperluas transaksi perdagangan, meningkatkan pergerakan pengunjung, dan membuka pasar bagi produk lokal. Tentu, kontribusi perdagangan dan transportasi tersebut tidak seluruhnya berasal dari pariwisata atau penyelenggaraan event. Justru di sinilah pentingnya merancang keterhubungan antara agenda hiburan, destinasi wisata, transportasi, kuliner, dan UMKM agar manfaat ekonominya semakin luas dan terukur.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pengunjung. Hotel, penginapan, restoran, warung kopi, pedagang makanan, dan usaha kuliner lokal berpotensi memperoleh manfaat ketika sebuah event mampu menarik orang untuk datang dan tinggal lebih lama. 

Namun, besarnya kontribusi khusus sektor ini pada Triwulan II 2026 perlu merujuk pada tabel resmi PDRB menurut lapangan usaha. Kita tidak boleh mencampuradukkan kontribusi satu sektor dengan keseluruhan dampak ekonomi pariwisata, sebab belanja wisatawan juga mengalir ke perdagangan, transportasi, industri pengolahan, dan jasa lainnya.

Karena itu, Aceh membutuhkan kalender event yang lebih dari sekadar daftar tanggal, nama kegiatan, dan lokasi penyelenggaraan. Kalender tersebut harus menjadi Kalender Event dan Ekonomi Aceh yang terkoneksi dengan destinasi wisata, transportasi, akomodasi, kuliner, produk UMKM, komunitas kreatif, serta promosi digital. Konser musik, pertandingan Persiraja, festival kopi Gayo, kegiatan bahari Sabang, pacuan kuda tradisional, festival budaya, dan agenda keagamaan dapat dirancang sebagai rangkaian peluang ekonomi yang saling melengkapi.

Bayangkan penonton konser Mahalini memperoleh informasi tentang paket wisata Banda Aceh-Sabang, rekomendasi kuliner lokal, lokasi produk fesyen muslim, dan agenda budaya yang berlangsung pada akhir pekan yang sama. Pengunjung pertandingan Persiraja dapat diarahkan mengenal sentra kuliner dan produk UMKM di sekitar lokasi. Wisatawan yang datang untuk festival kopi Gayo dapat memperoleh informasi tentang destinasi alam, produk turunan kopi, dan usaha masyarakat setempat. Satu event menjadi pintu masuk untuk mengenalkan event dan destinasi lainnya.

Inilah yang disebut connected events: agenda tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membentuk ekosistem yang memperpanjang lama tinggal pengunjung dan memperluas belanja mereka di daerah. Kalender yang terintegrasi juga membantu pemerintah dan pelaku usaha mengatur promosi lebih awal, menghindari benturan jadwal, menyiapkan kapasitas layanan, serta mempertemukan penyelenggara dengan UMKM yang sesuai dengan karakter pengunjung. Dengan cara ini, event tidak lagi berdiri sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi bagian dari strategi pemasaran destinasi dan penguatan ekonomi lokal.

Dalam konteks ini, Bappeda mempunyai peran strategis. Bappeda bukan penyelenggara seluruh event, bukan pula pihak yang menggantikan tugas dinas teknis atau pelaku usaha. Perannya adalah memastikan berbagai agenda dan program perangkat daerah bergerak menuju sasaran pembangunan yang sama. Dinas pariwisata, perdagangan, koperasi dan UMKM, perhubungan, serta perangkat daerah terkait perlu membangun keterhubungan program bersama pemerintah kabupaten/kota, penyelenggara event, komunitas, dunia usaha, dan pelaku UMKM.

Cara pandang ini sejalan dengan visi RPJMA Aceh 2025-2029, yaitu “Aceh Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan.” Islami berarti kegiatan diselenggarakan dengan menghormati syariat dan karakter masyarakat Aceh. Maju berarti terbuka terhadap kreativitas, teknologi, dan model bisnis baru. Bermartabat berarti memberi ruang yang adil bagi masyarakat lokal untuk memperoleh manfaat ekonomi. Berkelanjutan berarti manfaatnya tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan penonton pulang.

Arah tersebut juga perlu dikaitkan secara konkret dengan sepuluh prioritas pembangunan Aceh. Pengembangan event bukan agenda tambahan yang berdiri di luar perencanaan, melainkan salah satu instrumen yang dapat mendukung prioritas sesuai karakter wilayah dan potensi lokal, terutama pengurangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, transformasi ekonomi, pengembangan pariwisata, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi digital. Keterkaitan setiap program tetap perlu dipetakan terhadap rumusan resmi prioritas dan indikator kinerja RPJMA agar tidak berhenti sebagai klaim dalam narasi.

Logikanya sederhana, tetapi dampaknya bisa luas. UMKM yang memperoleh akses pasar berpeluang meningkatkan omzet. Usaha yang berkembang berpotensi merekrut tenaga kerja. Tenaga kerja lokal memperoleh pendapatan. Penginapan, transportasi, dan kuliner mendapatkan tambahan pelanggan. Jika aktivitas tersebut berlangsung secara konsisten dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar, event dapat menjadi salah satu penggerak diversifikasi ekonomi daerah. Bukan berarti satu konser akan menyelesaikan persoalan kemiskinan Aceh, tetapi momentum seperti ini layak dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan yang lebih terarah.

Ukuran keberhasilannya pun harus naik kelas. Jangan hanya menghitung jumlah penonton, nilai penjualan tiket, atau berapa kali nama Aceh masuk trending topic. Ukur juga jumlah UMKM lokal yang terlibat, nilai transaksi, persentase produk lokal yang terjual, tenaga kerja yang terserap, tingkat hunian penginapan, lama tinggal pengunjung, serta belanja wisatawan di luar lokasi acara. Data tersebut dapat menjadi dasar evaluasi untuk menentukan event mana yang perlu diperbesar, diperbaiki, dihubungkan dengan agenda lain, atau tidak perlu diulang jika manfaatnya tidak sebanding dengan sumber daya yang digunakan.

Pada saat yang sama, modernitas tidak harus dipertentangkan dengan identitas Aceh. Kreativitas dapat tumbuh dalam ruang yang menghormati syariat, ketertiban, dan nilai-nilai lokal. Penampilan Mahalini berhijab menjadi salah satu momentum percakapan publik, tetapi peluang ekonomi yang muncul harus tetap dikelola secara proporsional, tidak berlebihan dalam mengklaim tren, dan tidak menjadikan identitas agama semata-mata sebagai komoditas promosi.

Pada akhirnya, tugas perencanaan pembangunan bukan sekadar memastikan kegiatan masuk ke dalam kalender atau program tercantum dalam dokumen. Tugas yang lebih penting adalah menghubungkan potensi dengan pasar, anggaran dengan hasil, serta aktivitas ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat. Di sinilah planning mindset dibutuhkan: membaca momentum sejak dini, menyatukan program lintas sektor, menetapkan indikator yang terukur, dan memastikan manfaat pembangunan tidak berhenti pada kelompok tertentu.

Mahalini berhijab, Aceh menjadi sorotan. Pashmina cokelatnya bisa menjadi inspirasi tren, konsernya bisa mendatangkan pengunjung, dan percakapan digitalnya bisa membuka peluang promosi. Tetapi setelah semua keramaian itu berlalu, yang perlu ditanyakan adalah berapa banyak UMKM Aceh yang naik kelas, berapa tenaga kerja lokal yang memperoleh kesempatan, dan seberapa besar aktivitas ekonomi yang benar-benar tinggal di daerah.

Sebab, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa banyak orang datang dan seberapa luas Aceh dibicarakan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar perhatian itu berubah menjadi kesempatan, pendapatan, dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Aceh jangan cuma viral. Saat panggung menjadi sorotan, ekonomi lokal harus ikut naik level. Saat event mendatangkan keramaian, masyarakat harus memperoleh manfaat. Dan saat tren datang, UMKM Aceh jangan hanya menjadi penonton--mereka harus ikut menjadi pemain.

Make Aceh the destination. Connect the events. Empower the locals. [**]

Penulis: Khairul Ridha (Perencana Bappeda Aceh)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI