Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Opini / Rekonsiliasi Politik Melalui Media Olahraga

Rekonsiliasi Politik Melalui Media Olahraga

Jum`at, 12 Juli 2019 19:18 WIB


Tidak bisa dipungkiri, olahraga akan selalu berdampingan dengan politik. Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pernah menggunakan olahraga untuk melakukan rekonsiliasi politik. Usai terpilih sebagai Presiden Afrika selatan pada 1994, Mandela memiliki tugas berat menyatukan masyarakat kulit hitam dengan kulit putih yang terbelah dimasa era Apartheid.  

 Mandela kemudian menggunakan Piala Dunia Rugbi 1995 di Afsel untuk melakukan rekonsiliasi nasional. Hasilnya sangat positif. Banyak masyarakat kulit hitam memberikan dukungan bagi timnas rugbi Afrika Selatan yang mayoritas dikuasai pemain kulit putih.  

Usai Afrika Selatan mengalahkan Selandia Baru di babak final, Mandela kemudian memberi trofi kejuaraan kepada kapten timnas rugbi Afrika Selatan, Francois Pienaar yang merupakan pemain dari kulit putih. Mandela menyerahkan trofi sambil mengunakan kostum nomor punggung 6 milik Pienaar. Dengan mengunakan kostum Pienaar, Mandela ingin memberikan contoh bahwa kaum kulit hitam dan kulit putih bisa bersatu di Afrika Selatan.

Politik dan olahraga pada hakikatnya sangat banyak persamaan, walaupun tetap ada perbedaan. Olahraga dan politik, keduanya adalah sebuah pertandingan. Dalam pertandingan politik yang diperebutkan adalah kekuasaan. Sedangkan dalam pertandingan olahraga yang diperebutkan adalah trofi dan medali.

Maka dapat dikatakan olahraga dan politik memiliki suatu kesamaan tujuan yaitu untuk meraih sebuah kemenangan, Untuk meraih sebuah kemenangan tentunya sangat diperlukan berbagai strategi dan persiapan yang matang, baik sebelum pertandingan, saat pertandingan dan sesudah pertandingan.

Kemenangan dalam pertandingan olahraga adalah sebuah prestasi olahraga sendiri melalui proses panjang dari berbagai proses latihan. Sedangkan kemenangan dalam politik merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara tersrukrktur dan sistematis dalam rangka untuk memenangkan suara rakyat demi memperebutkan sebuah kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan.

Kemenangan yang diperoleh baik kemenangan dalam pertandingan olahraga maupun politik bukan berarti harus dirayakan secara belebihan, “karena yang kalah belum tentu tidak menang dan yang menang belum tentu tidak kalah”.

Artinya kemenangan dan kekalahan yang sebenarnya adalah, ketika bisa memaknakan arti dari kemenangan dan kekalahan itu sendiri. Karena kemenangan dan kekalahan hanya berlaku dalam pertandingan saja sebagai tanda bahwa pertandingan telah berahkir, selebihnya yang penting bagaimana memberikan kemenangan yang sesunguhnya demi memenangkan kepentingan dan kehidupan orang banyak.

Begitu juga sebaliknya, kekalahan yang dialami bukan berarti perjuangan yang dilakukan tidak bearti, malahan dengan kekalahan ini bisa kembali menunjukan mental sebagai petarung yang terus berjuang tanpa henti untuk memperjuangkan sebuah kemenangan yang sejati bagi kepentingan semua orang.

Walaupun dalam praktiknya baik dalam pertandingan olahraga maupun politik masih saja ada yang mengunakan cara yang tidak baik dan tidak sportif untuk mendapatkan kemenangan. Namun cara yang tidak baik itu adalah pilihan dari manusianya, karena pada dasarnya pertandingan politik maupun olahraga tidak membenarkan untuk mendapatkan kemenangan dengan cara yang tidak baik atau tidak sportif, kalaupun hal itu benar terjadi lebih pada unsur perilaku manusianya.

Niccollo Machiavelli seorang politisi dan diplomat asal Italia pernah mengatakan “Politics have no relation to moral” yang artinya politik tidak ada hubungannya dengan moral. Bukan berarti orang suci, bersih dan baik dilarang masuk ke dunia politik, karena takutnya nanti akan tercemar, malahan dengan banyaknya politisi yang bermoral akan membuat kualitas perpolitikan semakin baik.

Peran olahraga bukan hanya pada tatanan prestasi saja, akan tetapi merupakan sebuah tatanan sosial dalam mempersatukan bangsa dan negara ini . Semangat inilah yang dulunya dimplementasikan oleh Bung Karno, yaitu “nation and charachter building” dalam menyelengarakan PON dalam tataran nasional dan Ganefo dalam ruang lingkup dunia.

Olahraga bukan hanya dilihat sebagai instrumen pelengkap dari setiap wilayah dan ruang sosial lainya seperti ekonomi, sosial dan politik. Padahal kalau dicermati secara benar, hakikat dan nilai yang terkandung dalam olahraga bisa dioptimalkan untuk mewadahi pembentukan mentalitas dan karakter bangsa, inilah persoalan mendasar bangsa kita dewasa ini.

Olahraga bukan hanya bermakna sebagai permainan yang hanya bertumpu pada keterampilan dan perjuangan mengalahkan lawan, akan tetapi lebih daripada itu, bahwa olahraga itu sendiri sesunguhnya mengandung makna filosofis sebagai sebuah instrumen yang bisa memanusikan manusia.

Maknanya ialah bahwa olahraga dapat mempersatukan manusia dengan permainan dan bersamaan dengan itu lahirlah sebuah keharmonisan yang nantinya akan terciptanya suatu lingkungan yang sehat, hidup rukun dan damai.

Pertarungan Pilpres 2019 telah usai sejak Mahkamah Konstitusi menetapkan hasil putusan sengketa. Pasangan 01 keluar sebagai pemenang, namun terlepas dari menerima atau tidak hasil putusan, yang jelas Mahkamah Konstitusi telah meniupkan peluit panjang menandakan pertandingan telah berahkir.

Namun, tensi perpolitikan nasional nampaknya belum juga mereda, sehingga rekonsiliasi harus segera dilakukan untuk menurunkan tensi perpolitikan yang selama ini terjadi. Seharusnya ketika peluit panjang telah dibunyikan semua pemain dan pendukung saling berangkulan dan berpelukan seperti yang sering kita lihat dipertandingan olahraga.

Mereka saling berangkulan menunjukan bahwa dalam pertandingan olahraga lawan tidak dianggap sebagai musuh, melainkan teman bermain bersama sehingga pertandingan dapat dilaksanakan. Tidak ada gunanya sebuah pertandingan dilakukan, jika hasil dari pertandingan itu sendiri bisa menyebabkan terjadinya permusuhan apalagi sampai terjadi pertikaian.

Maka untuk itu perlu dipertanyakan kembali kemana hilangnya slogan “siap menang dan siap kalah” yang selalu didengungkan disaat musim pemilu tiba? Kita harus siap menang dengan cara yang wajar dan siap kalah dengan cara yang wajar juga.

Dengan kata lain memaknakan pemenang tidak harus selalu berbicara tentang trofi dan medali, sang pemenang bukan dia yang tak pernah kalah tapi dia yang memiliki semangat yang tak kalah untuk menjadi pemenang. Jika semangat ini selalu ada, maka pendukungnya akan selalu setia dalam mendukung setiap pertandingan, walupun pada kenyataanya hasil akhir terkadang bisa membuat mereka kecewa, namun tak dipungkiri juga bisa membuat mereka bangga.

Maka disinilah peran kedua konstestan baik pasangan capres dan cawapres terpilih dan mantan capres dan cawapres untuk segera menurunkan tensi ini, dengan cara mengunakan olahraga sebagai media utama dalam rekonsiliasi politik, Seperti yang pernah dilakukan saat menurunkan ketegangan politik yang terjadi pada tahun 2016 lalu dengan naik kuda bersama di Hambalang Bogor.

Maka harapanya semoga segera akan terjadi lagi naik kuda jilid II atau akitifitas olahraga lainya, sehingga rekonsiliasi politik yang dilakukakan dapat meredakan segala ketegangan dan sudah tiba saatnya bagi kita semua untuk berpikir kembali dalam merajut Indonesia.

Penulis : Hendra Saputra, Kandidat Doktor Pendidikan Jasmani dari Universitas Negeri dan Halik, Deson Unigha Sigli, Calon Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

  


Editor :
Bahtiar Gayo

dpra
Komentar Anda